Mafumafu membuka matanya begitu menangkap sayup-sayup suara alarm dari samping bantalnya. Ia matikan alarm dan bangun sambil mengucek mata. Mata kuyunya menatap sekitar kamar dan ingat bahwa dirinya sudah berada di tempat lain. Ia bangkit dari futonnya dan masuk ke kamar mandi di dalam kamar dan mencuci muka. Ia menatap wajahnya sejenak di cermin dan meraba barcodenya. Merasa aneh, ia kembali memerhatikan barcode dan akhirnya sadar bahwa satu garis telah menghilang di antaranya. Barcode yang awalnya memiliki 10 garis itu kini telah berkurang menjadi 9 garis.
Barcode miliknya memiliki arti sebanyak apa kekuatan sihir yang ia miliki. Semakin banyak garis yang dimiliki, semakin banyak kekuatan sihir yang ia punya. Dalam kasus Mafumafu di masa lalu, miliknya adalah yang terbanyak dan terkuat karena batas maksimal barcode atau simbol kuno mana adalah 8. Karena itulah di masanya, Mafumafu adalah satu-satunya penyihir terkuat yang bahkan mampu meratakan satu benua dengan satu ledakan sihir.
Dan sekarang, barcodenya berkurang. Yang artinya ia sudah kehilangan 10% kekuatan sihirnya yang setara dengan satu lautan.
Meski begitu, Mafumafu hanya menyunggingkan senyum. Ia mengelap wajahnya yang basah dengan handuk dan bersiap ganti pakaian seragam. Mafumafu keluar tak lama kemudian dan menyalakan seluruh lampu ruangan. Ia menatap kamar Soraru yang tidak terkunci rapat dan memutuskan untuk membangunkannya setelah selesai memasak.
Mafumafu menuju dapur dan mulai merapihkan segala hal. Dari mencuci piring, menghangatkan makanan, dan membuat beberapa camilan seperti pudding dan kue kering. Tepat ia selesai, jam menunjukkan pukul 6 lewat. Ia melepas celemeknya dan melipatnya kembali ke punggung kursi. Mafumafu bergegas menuju kamar Soraru dan mendapati si pemilik kamar yang tertidur dengan pakaian berserakan di lantai dan jendela rapat.
“Soraru-san! Asa desu yoo!!” Ucap Mafumafu sembari membuka gorden sehingga matahari langsung masuk dan menerangi seluruh kamar. Ia menoleh kearah Soraru yang tidak bergerak seinchi pun di kasurnya.
“Soraru-saan!!”
“Soraru-saaan!!”
“Soraru-saaaaaan!!”
Suara Mafumafu yang semakin tinggi itu membuat Soraru sangat terganggu sehingga ia menutup kepalanya dengan bantal. Tak menyerah, Mafumafu menarik bantal dan melemparnya ke sisi kasur yang lain. Soraru menoleh dengan wajah kusut, bahkan tersirat di matanya bahwa ia sangat ingin menghajar orang yang sedang membangunkannya. Namun, Mafumafu hanya tersenyum.
“Asa desu!” Ucap Mafumafu tanpa dosa.
Soraru mengangkat selimutnya. “Jam mengajarku di mulai setelah istirahat pertama! Pergi sana!”
“Tapi kan kau tetap harus datang pagi, Soraru-san”
“ ... ”
“Soraru-san!”
“ ... ”
“Soooraaaruu-saaan!!!”
“Akh! Berisik banget!!” Soraru bangun dari tidurnya dan langsung melayangkan bantal yang langsung di tepis Mafumafu. Soraru bangkit dengan langkah sebal meninggalkan Mafumafu di belakang yang menahan tawa susah payah.
Ya ampun, benar-benar tak ada yang berubah darinya. Batin Mafumafu. Ia teringat bagaimana dulu ia juga sangat sulit membangunkan Soraru yang darah rendah namun masih sering begadang sampai tengah malam. Ia merapihkan kasur Soraru dan keluar kamar. Sembari menunggu, Mafumafu membuka jendela balkon dan menatap pemandangan dari sana. Matahari yang tampak masih menyembul separuh itu terlihat sangat indah dan membuatnya merasa tenteram. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan tampak Soraru dengan wajah datar yang masih menampakkan kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
After the End || SoraMafu [ END ]
Fantasy❇️ Utaite Fanfiction❇️ Kerajaan telah hancur, perang telah usai. setelah tidak ada lagi yang tersisa, kemana dia harus pergi? Mafumafu, satu-satunya penyihir tingkat 10 di belahan dunia lain diberi kesempatan oleh takdir untuk hidup di dunia yang te...
![After the End || SoraMafu [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/311885877-64-k534172.jpg)