Unitatem (4)

157 30 9
                                        

Sepanjang jalan menuju supermarket, Soraru berjalan dengan langkah yang lumayan pelan lantaran hembusan angin mulai kencang. Selain karena butiran-butiran salju yang terbawa angin menutupi pengelihatannya, ia juga tidak ingin terpeleset. Begitu akhirnya ia melihat supermarket, Soraru menghela napas lega dan segera bergegas mendekati tempat tersebut.

Usai menyingkirkan salju di pundak dan rambutnya, Soraru masuk dan mengambil satu keranjang belanja. Sesekali matanya melihat ke arah pelayan kasir dan beberapa pembeli yang mengitari supermarket. Tampaknya orang-orang ini juga dalam keadaan krisis dan terpaksa keluar agar dapat bersantai lebih lama di dalam rumah. Terlihat jelas bagaimana keranjang mereka begitu penuh oleh beberapa jenis makanan dari yang harus dihangatkan dan snack camilan.

Apa aku juga harus beli beberapa untuk Mafu? Akhir-akhir ini dia tampaknya suka semacam biskuit, pikir Soraru sejenak.

Maka setelah mengambil mirin sesuai kebutuhan, ia berpindah rak menuju tempat camilan dan mencari snack yang menurutnya sesuai dengan selera Mafu. Sejenak ia sempat bingung memilih dan ingin menelpon, tapi setelah dipikir lagi ia memutuskan untuk batal telepon karena yakin Mafu akan melontarkan kalimat seperti, "Tidak perlu repot-repot, Soraru-san! Itu hanya camilan biasa!!". Jadi Soraru akhirnya mengambil tiga jenis snack biskuit dan berbalik menuju kasir.


BRAAK!!

Dari arah pintu, muncul sosok pria tinggi bermasker hitam mengacungkan senjata api kearah orang-orang yang sedang mengantre di depan meja kasir. Dari belakang orang itu, dua lainnya muncul dan mengacungkan senjata yang sama.

"Jangan ada yang bergerak! Serahkan semua uang kalian!!" Teriak si perampok, memerintah semua orang.

Semua orang termasuk si penjaga kasir segera menunduk dengan wajah pucat. Jelas saja, siapa juga yang mau nekat melawan tiga orang bersenjata api, kan? Soraru yang berdiri di paling belakang antrean ikut berjongkok dan merogoh kantong, lalu menyerahkan dompet serta hp mengikuti gestur yang lain.

" ... "

Rasanya ada sesuatu yang tidak benar.

Salah satu perampok yang semula akan mengambil dompet Soraru kaget karena si pemilik mengambil kembali dompet yang sebelumnya ia letakkan di lantai. Soraru yang hanya berniat mengambil foto Mafu di dalam dompet tampaknya telah membuat perampok itu marah.

"Aku tidak menyuruhmu melakukan hal lain selain menyerahkan seluruh uangmu, kan?!" Raung si perampok marah.

Berusaha menguasai rasa takutnya, Soraru membalas datar. "Aku tahu, aku hanya ingin-"

"DIAM!!"

Perampok itu tanpa ragu mengarahkan pistolnya ke kepala Soraru dan melepas satu tembakan. Semua orang yang berada disana memekik takut hingga beberapa diantaranya mulai menangis ketakutan. Soraru yang tidak sempat bereaksi apapun hanya bisa pasrah untuk kemudian terkejut karna tidak merasakan apapun.

Membuka matanya perlahan, Soraru menatap si perampok yang sepertinya sedang tercengang oleh sesuatu. Pistol di tangannya masih teracung kearahnya dan mengeluarkan asap tipis dari selongsong. Sepertinya tembakan sebelumnya yang mengarah padanya itu meleset.


Aku selamat? Syukurlah! Batin Soraru. Pria itu segera melempar dompetnya usai mengambil foto Mafu dan mengangkat kedua tangannya lagi.

Lain dengan Soraru yang sedang menahan gugup dan takut, si perampok yang masih berdiri di depan Soraru masih dalam keadaan tercengang. Aku yakin sudah mengarahkan pistolku ke kepalanya, tapi apa aku salah lihat? Tak mungkin, kan, peluruku barusan lenyap begitu saja?!

After the End  ||  SoraMafu [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang