Hari ini Jimin benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan Namjoon dan Hoseok. Mereka sempat mengunjungi beberapa tempat dan Hoseok juga menunjukkan bakat tarinya pada Namjoon. Dan saat hari sudah petang akhirnya Jimin terpaksa harus pulang karena tidak ingin keluarganya mengkhawatirkan dirinya.
Selama di perjalanan pulang, Jimin terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Dia hanya diam seraya menatap ke luar jendela mobil. Namjoon yang melihat itu semua akhirnya memilih untuk bertanya langsung pada Jimin.
“Jimin-ah! Apa kau baik-baik saja ? Kenapa kau tiba-tiba jadi pendiam begitu. Bukannya kita sudah bersenang-senang tadi. Apa ada yang sakit ?” tanya Namjoon lembut
Jimin yang mendengar ucapan Namjoon itu langsung mengalihkan perhatiannya pada Namjoon. Dia menggeleng pelan lalu mengulas senyumnya.
“Aku baik-baik saja hyung. Energiku hanya sedikit terkuras karena semua yang kita lakukan hari ini. Tapi tenang saja, aku sungguh menikmatinya. Aku juga sangat bahagia hari ini.” jawab Jimin dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya
“Jika kau lelah, tidurlah dulu! Masih ada waktu sampai kita sampai ke rumahmu. Hyung akan membangunkanmu saat kita sampai nanti.” usul Namjoon
“Aniya, sebelum pulang bolehkah aku mampir ke apartemen mu sebentar hyung ?” tanya Jimin sedikit ragu
“Kenapa ? Bukannya lebih baik kita segera pulang ke rumahmu saja.” tanya Namjoon heran
“Tidak apa-apa, aku akan menghubungi mereka nanti. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada hyung. Tapi aku tidak bisa membicarakannya disini apalagi di rumahku.”
“Apa itu sesuatu yang sangat penting ?” tanya Namjoon memastikan
“Emm.. Begitulah.”
Entah kenapa firasat Namjoon tiba-tiba menjadi buruk. Dia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Jimin darinya.
“Arraseo, kita ke apartemen hyung dulu ya.”
“Nde, gomawo hyung.” jawab Jimin lalu kembali mengalihkan perhatiannya keluar jendela mobil
Setelah perjalanan selama beberapa menit. Akhirnya mereka akhirnya tiba di apartemen Namjoon.
Jimin memperhatikan dengan seksama tempat di hadapannya ini. Tanpa sadar senyum tersungging di bibirnya. Baginya tempat ini adalah salah satu tempat berharga untuknya. Tempat yang sudah dia anggap sebagai rumah keduanya.
“Kau suka coklat panas kan ? Ini minumlah dulu kau pasti kedinginan kan.” Namjoon meletakkan coklat panas di depan Jimin lalu memakaikan selimut pada Jimin
“Hyung aku baik-baik saja.” keluh Jimin yang mendapatkan perlakuan Namjoon itu
Namjoon mengabaikan rengekan Jimin itu lalu memilih untuk duduk di depannya.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan pada hyung ?” tanya Namjoon lembut
Jimin yang baru saja menghabiskan minumannya tiba-tiba terdiam lalu meletakkan gelasnya.
Jimin menutup matanya sejenak lalu menghela nafas panjang sebelum membuka mulutnya. Dan Namjoon yang melihat itu justru semakin kalut dibuatnya.
“Hyung!”
“Nde ?” balas Namjoon selembut mungkin
“Hyung!” seru Jimin lagi seraya memainkan jarinya
“Ada apa Jimin-ah ?”
“Jika itu memang sulit untuk kau katakan. Kau tidak perlu mengatakannya Jimin-ah.” lanjut Namjoon
Jimin langsung menggeleng cepat lalu akhirnya menatap lekat Namjoon.
