Chapter 40

1.5K 121 14
                                        

“Hyun-ah! Makan sayuranmu juga! Jangan pilih-pilih makanan!”nasihat Yoongi pada Jihyun

“Aku hanya tidak memakan tomatnya saja hyung. Aku kan sudah bilang aku tidak menyukai nya.” keluh Jihyun

“Jangan banyak alasan!”

“Kau juga makanlah lebih banyak Yoongi-ya! Kau terlihat lebih kecil dari adik-adikmu sekarang.” Nyonya Park tiba-tiba balik menasihati Yoongi

“Eomma!” rengek Yoongi

“Hahaha..” Jihyun tertawa puas melihat ekspresi sang kakak saat dinasehati ibunya

“Appa! Lihat anak bungsumu itu! Dia sudah berani mentertawakan kakaknya seperti itu.” keluh Yoongi pada ayahnya

“Sudah-sudah! Jangan berisik terus! Lebih baik kalian segera habiskan makanan kalian.” ucapan Tuan Park akhirnya sukses menghentikan perdebatan mereka

Jimin membuka matanya perlahan. Sesak, rasanya sungguh menyesakkan. Suara denting jam, suara nafasnya yang terdengar jelas di telinganya sungguh membuat dia sesak. Kosong. Meja makan yang biasanya penuh sekarang hanya ada dia disana. Tidak ada sang kakak yang selalu mengomeli Jihyun. Tidak ada sang ibu yang menyiapkan makanan di meja makan, tidak ada Jihyun yang selalu mencairkan suasana, dan tidak ada sang ayah yang senantiasa menatap mereka dengan tatapan hangatnya.

Jimin sendirian. Di rumah yang besar ini, dia hanya sendiri tanpa ada seorangpun yang bisa dia ajak bicara. Sejak Jihyun yang mulai menjauhinya dan sejak semua orang sibuk dengan pekerjaannya. Jimin benar-benar merasa sendiri sekarang. Jimin sebenarnya tau, dia sadar betul bahwa sejak awal seperti inilah dia seharusnya. Walau bagaimanapun dia bukanlah bagian dari keluarga ini. Walau bagaimanapun dia hanya orang asing disini. Tapi tetap saja, Jimin tidak suka rasa kesepian ini.

“Sadarilah posisimu! ”

“Kau bukan siapa-siapa. Kau bukan bagian dari mereka.”

“ Jangan mengharapkan apapun! Karena mereka belum tentu menerima keberadaanmu.”

Jimin menutup mata dan telinganya saat lagi-lagi harus mendengar suara-suara yang selalu mengganggunya.

“Aku tau. Aku tau semua itu. Jadi, kumohon berhenti!”

“Kumohon..jangan membuatku semakin terlihat menyedihkan seperti ini.” ucap Jimin lagi entah pada siapa

Bagi Jimin entah di dalam mimpi ataupun dunia nyata keduanya bagaikan neraka baginya. Dalam tidurnya dia selalu bermimpi buruk dimana semua orang meninggalkannya. Dan saat dia berada di dunia nyata Jimin harus menderita karena semua luka di tubuh dan juga hatinya. Jimin sudah merasa muak dan lelah dengan semuanya. Jimin berharap bisa segera terbebas dari penderitaannya.

.

.

.

.

.

.

Jimin Pov

“Apa kau yakin akan pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan mereka ?” tanyanya padaku

“Jika aku melihat mereka, sepertinya akan semakin sulit untuk aku berpisah dengan mereka.”

“Bohong. Bukankah alasan selama ini kau tidak pernah berhasil mengakhiri hidupmu karena kau tidak ingin pergi begitu saja.” katanya padaku

Mendengar perkataannya itu membuat aku teringat kembali apa yang pernah coba ku lakukan dulu. Ya, memang benar aku pernah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Menenggelamkan diri di bathub, melompat di atas gedung, menyayat nadi. Aku pernah nyaris melakukan semua itu. Padahal aku sudah yakin untuk menyerah saat itu tapi akhirnya aku selalu berhenti di tengah jalan. Pada akhirnya aku selalu mengurungkan niatku untuk mati.

I'm Not Me Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang