Chapter 42

1.2K 70 13
                                        

Selama ini Jimin selalu memendam dan menyembunyikan perasaannya dari semua orang. Dan untuk hari ini, Jimin memutuskan untuk menunjukkan semua perasaannya pada mereka. Seperti saat ini, Jimin akhirnya mengungkapkan rasa ketakutannya pada Jihyun.

"Kenapa ? Kenapa aku harus seperti ini Jihyun-ah ? Dulu aku selalu menantikan kematianku setiap hari. Tapi saat kematian sudah berada dekat denganku saat ini, kenapa aku malah tidak ingin mati. Tolong aku hyun-ah! A-aku..Aku takut. Aku sangat takut. Aku ingin hidup. Aku tidak ingin mati."

Itulah sekiranya perasaan takut yang terus menghantui Jimin belakangan ini. Jika saja ini terjadi sebelum keluarganya tau tentang dirinya. Mungkin saat ini Jimin justru bersyukur karena apa yang diinginkannya akan segera terwujud. Karena dulu Jimin berpikir kematian adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan segala rasa sakit dan rasa lelah yang di rasakannya selama ini. Tapi sekarang berbeda, Jimin masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya. Jimin masih ingin memperbaiki dan mengembalikan hubungan keluarganya seperti dulu kala. Tapi sayang, sekarang itu hanya akan menjadi angannya belaka. Karena dia tau, sudah tidak banyak waktu yang dimiliknya.

Arghh..”

Jihyun yang sedang memeluk dan menenangkan Jimin terkejut saat mendengar ringisan dari saudaranya itu.

“Jimin-ah..kau baik-baik saja ? Katakan mana yang sakit ?” tanya Jihyun cemas

“Sa-kit..perutku sakit.” ucap Jimin seraya mencengkram erat perutnya

Melihat kondisi Jimin yang seperti itu, Jihyun langsung menekan tombol emergency yang berada di dekat ranjang Jimin.

“Bertahanlah Jimin-ah. Aku sudah memanggil dokter.” ucap Jihyun dengan suara bergetar menahan tangis

Uhuk..uhuk..huekk..

Melihat Jimin yang tiba-tiba batuk dan muntah. Jihyun terkejut bukan main karena itu bukan muntah biasa melainkan muntah darah. Ini pertama kalinya Jihyun melihat kondisi Jimin yang seperti ini. Jihyun tidak tau sama sekali jika kondisi Jimin ternyata sudah separah ini. Jihyun bahkan sudah tidak bisa menahan air matanya melihat saudara nya itu.

Hahh..hahh..sa-kit.”

Jimin kembali merintih kesakitan. Sungguh rasanya perut dia sudah tidak karuan. Rasanya benar-benar sakit. Bahkan Jimin merasa kesadarannya hampir terenggut sedikit demi sedikit. Jimin tidak masalah dengan semua rasa sakit ini. Tapi dia hanya berharap jika ini bukanlah akhir dari hidupnya. Dia masih ingin mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang.

Tidak memakan waktu lama, Seokjin datang setelah mendengar panggilan darurat dari Jihyun. Dia langsung menyuruh Jihyun untuk keluar agar Seokjin bisa lebih leluasa untuk memeriksa kondisi Jimin. Di ambang pintu ruangan itu, terlihat pula Yoongi dan sang ibu yang melihat Namjoon bergegas menuju ke ruangan Jimin.

Lagi-lagi Keluarga Park dihadapkan dengan situasi yang amat menakutkan bagi mereka. Lagi-lagi mereka harus melihat Jimin berjuang untuk melawan kesakitan nya. Yoongi sebagai anak tertua, berusaha menenangkan ibu dan juga adiknya. Dia juga ingin menangis, tapi Yoongi harus menjadi penguat keluarga nya.

1 jam berlalu. Akhirnya Seokjin keluar dari ruangan Jimin. Keluarga Park yang melihat itu langsung menghampiri dan menanyakan keadaan Jimin padanya.

“Bagaimana keadaan anak saya dok ? Dia baik-baik saja kan ? Tolong katakan dia baik-baik saja.” tanya Nyonya Park dengan wajah sendu nya

“Kondisi Jimin masih kritis. Dan saya mohon maaf sebesar-besarnya. Dengan berat hati saya harus memberitahu kalian bahwa Jimin terkena komplikasi gagal hati, dimana hatinya sudah tidak bisa di perbaiki lagi. Dengan kata lain, obat-obatan sudah tidak dapat membantunya. Dan satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah dengan pembedahan. Tapi seperti yang kalian tau, hingga saat ini kami pihak rumah sakit belum mendapatkan hati yang cocok untuk Jimin. Bahkan saat ini pun dia bisa bertahan berkat bantuan alat-alat medis. Sekali lagi saya benar-benar mohon maaf. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan untuknya.” ucap Seokjin lalu membungkuk di depan Keluarga Park dengan air mata yang sudah menetes dari matanya

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 06, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I'm Not Me Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang