Seorang pemuda membuka matanya perlahan. Sesekali dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke bola matanya. Dan setelah cukup lama akhirnya pemuda itu membuka matanya dengan sempurna. Pemuda yang tidak lain adalah Jimin melihat ke sekelilingnya untuk memahami situasinya. Dan dia akhirnya mengerti.
"Hahh.. Aku masih hidup ternyata." Ucapnya tersenyum kecut
Dia kemudian menutup kedua matanya dengan lengan kanannya. Entah kenapa perasaannya terasa berantakan saat ini. Baru saja, dia mengingat apa yang telah terjadi padanya saat itu.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang ?" Gumamnya pada diri sendiri
Sebenarnya Jimin sudah terlalu putus asa. Entah saat itu ataupun sekarang dia tetap seperti itu. Semua luka lama yang sudah dia kubur dalam-dalam satu persatu mulai kembali ke permukaan. Mimpi buruk yang sudah berusaha keras dilupakannya pun tiba-tiba semakin teringat jelas dipikirannya. Jimin tidak tau, apakah dia mampu melalui semua itu saat ini.
Cklekk..
Seseorang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Namun saat melihat Jimin yang sudah membuka matanya. Dia langsung berlari ke arah Jimin saat itu juga.
"Jimin-ah! Akhirnya kau sadar juga. Tidak taukah kau betapa khawatir nya hyung selama ini." Namjoon langsung memeluk Jimin saat melihatnya siuman
Jimin sedikit terkejut saat melihat kehadiran Namjoon. Dia juga semakin terkejut melihat Namjoon meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya dia melihat Namjoon menangis seperti itu.
"Maaf aku sudah membuatmu khawatir hyung. Tapi tenang saja, aku sudah baik-baik saja sekarang. Jadi, tolong jangan menangis! Itu membuat hatiku sakit." Ujar Jimin seraya berusaha mengulas senyumnya lalu menyeka air mata Namjoon
"Hyung menangis karena terlalu bahagia Jimin-ah." Namjoon menyeka air matanya lalu membalas senyum Jimin
"Tunggu sebentar! Hyung akan memanggil dokter."
Jimin hanya mengangguk pelan.
Tidak lama dokter akhirnya datang dan memeriksa kondisi Jimin.
"Bagaimana dok ?" Tanya Namjoon sedikit khawatir saat melihat raut wajah sang dokter
"Tenang saja. Kondisinya sudah cukup stabil. Tapi untuk lebih jelasnya kita akan menunggu hasil tes lainnya nanti. Jimin hanya tinggal beristirahat dengan cukup saat ini. Kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter
.
.
.
.
.
Dua hari lalu Namjoon benar-benar bahagia saat Jimin akhirnya membuka matanya. Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama saat dia melihat Jimin yang banyak terdiam dan tidak berucap apapun. Sejak dia siuman, Jimin tidak mengatakan apapun termasuk tentang apa yang terjadi padanya malam itu. Dia hanya mengatakan kalimat yang sama dan itu adalah "Aku sudah baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku." Hanya itu ucapan yang di dengar Namjoon setiap kali dia bertanya.
Bagaimana bisa dia bilang baik-baik saja. Sedangkan untuk sekedar terlelap saja, dia membutuhkan obat tidur untuk menenangkan tidurnya. Satu fakta menyakitkan lain yang harus Namjoon ketahui tentang Jimin adalah bukan hanya fisiknya yang terluka tapi juga jiwanya.
"Hyung!" Gumam seseorang setengah sadar
Salah satu tangannya terangkat gelisah mencari keberadaan sosok yang dicarinya itu.
Namjoon yang sedang terlelap di sofa langsung bangun dan menangkap tangan Jimin yang bergerak gelisah.
"Hyung disini Jim. Tenanglah!" Namjoon berusaha menenangkan Jimin yang sepertinya kembali bermimpi buruk
