36. Terbongkar.

24 3 2
                                        


Don't be silent readers, and be a smart readers!!
Happy reading.
Jangan lupa tekan bintang nya, hehe.
****

Sheika menutup pintu kamarnya. Gadis itu sudah berpakaian rapi, jeans berwarna biru dengan atasan blouse berwarna putih. Kakinya dibalut dengan sneakers berwarna senada dengan bajunya.

Weekend kali ini, Sheika berencana akan pergi bersama Arix. Dia ingin menghabiskan waktu berdua bersama kekasihnya, setelah kemarin sempat perang dingin hingga membuatnya tak punya banyak waktu dengan laki-laki itu.


Sakha juga baru saja keluar dari kamarnya. Karena kamarnya sebelahan dengan Sheika, otomatis Sakha bisa melihat dengan jelas saat Sheika baru saja keluar dari kamar itu.

Dahinya mengkerut bingung, melihat Sheika pagi-pagi begini sudah rapi. Mau kemana gadis itu?

"Mau kemana kamu?" Tanya Sakha penasaran.

Sheika menoleh, "jalan sama Arix," jawabnya dan langsung berlalu pergi dari sana.

Mendengar nama Arix, Sakha langsung mencekal tangan Sheika. Menahan pergerakan gadis itu yang hendak melanjutkan langkahnya.

"Jangan," ucap Sakha, terselip nada memohon disana.

Begitu mendengar nama Arix, pemuda itu jadi teringat dengan isi pesan yang di kirim oleh orang suruhannya beberapa hari lalu. Yang membuat kecurigaan Sakha kepada Arix semakin besar.

Sheika berbalik, dahinya berkerut bingung. Kenapa Sakha jadi melarangnya?

"Kenapa jangan? Aku mau jalan sama pacarku loh, Sak," tanyanya heran.

"Turutin aku, Shei," kata Sakha tanpa memberitahu alasan sebenarnya.

"Ya alasannya apa? Aku nggak mau nurutin kamu kalau nggak ada alasan yang jelas," kukuh Sheika.

"Udah ah, nanti aku telat!" Sheika melepas cekalan tangan Sakha.

Gadis itu berlalu pergi, menuruni anak demi anak tangga.

Di bawah, lebih tepatnya di ruang keluarga ada Mama serta Papanya. Sheika tersenyum senang kemudian menghampiri kedua orang tersebut.

"Duh, anak Mama udah cantik aja nih. Mau kemana si?" Tanya Zela ketika Sheika baru saja duduk di sebelahnya.

"Mau jalan dong sama Arix," Sheika menjawab dengan senyum cerah di wajahnya.

"Arixnya jemput kamu?" Tanya Roland tanpa mengalihkan pandangan dari layar kaca yang ada di pangkuannya.

Pria yang sudah berkepala empat itu masih saja bekerja di hari libur seperti ini.

"Iya, dia lagi otewe kesini," jawab Sheika.

"Jangan pulang malem-malem, sebelum maghrib harus udah di rumah," tukas Roland yang kini menutup laptopnya.

Pria itu menaruh laptop diatas meja, kemudian mencomot biskuit kelapa yang tersaji disana.

"Siap pak bos!" Balas Sheika dengan semangat, detik selanjutnya gadis itu terkekeh pelan.

Geminos "Are Betrayed"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang