#30

18 1 0
                                        

"entah ini awal atau akhir tapi, yang jelas luka ini kembali terlahir."

~2k22~

🌹🌹🌹

Menatap wajah tegas yang sibuk meneliti sudut dekorasi panggung pengantin dari kejauhan, jantung Faiha berdebar. Tinggal menghitung hari lagi pria itu akan mengucap kalimat sakral untuknya, menjemputnya. Tapi, hatinya seperti mendadak menjadi kurang ajar.

Pelan Faiha melangkahkan kakinya untuk mendekat. Mengabaikan seluruh sel di tubuhnya yang bergetar hebat. Sementara Rans yang merasa sadar akan kedatangan seseorang, ia palingkan wajahnya. Terkejut dia melihat Faiha sudah berada di belakangnya, mengambil kursi lain dan duduk disana.

"Aku minta maaf, Rans." segera Faiha membuka suara.

"Kalimat ku tadi seharusnya tidak pantas aku keluarkan, aku emosi, aku tidak tahu semuanya terucap begitu saja. Aku melukaimu, aku menyakitimu." cepat Faiha menuntaskan kalimatnya.

Dan dengan berani Faiha menatap sepasang mata itu, tidak lama tapi, cukup membuat darahnya seperti berhenti mengalir meski hanya menatap mata yang penuh aura itu.

"Dulu, aku memang membencimu, Rans. Tapi, semua sudah berlalu, aku menerimamu untuk masuk ke dalam duniaku, lalu membantuku menutup pintunya agar tidak sembarang orang lain masuk."

"Kau serius dengan kalimatmu?" serak Rans membalas kalimat Faiha, ikut menatap dalam mata itu.

"Bagaimana dengan kalimatmu kemarin? Bukankah sudah ada manusia lain yang berhasil menerobos duniamu dan kau tidak berhasil meski untuk mengusirnya? Dan sekarang kau mau saya membantumu untuk menutup pintu?"

Kepala Rans menggeleng pelan. "Tidak."

"Saya tidak bisa, Faiha." lanjut Rans semakin serak.

Sekuat tenaga dari tadi Rans menahan sesak di dadanya. Ini terlalu menyakitinya. Jika boleh memutar waktu, Rans memilih untuk tidak meminta maaf pada gadis itu, sehingga tidak ada waktu dimana kesakitan kembali membakar habis hatinya.

"Kau seperti ini karena sudah terikat janji dengan saya. Semua persiapan sudah selesai, semua undangan sudah tersebar, dan keluarga kita sudah bersatu untuk menyambut acara kita dengan pengajian nanti malam. Dan tadi saat saya tanya bagaimana kelanjutanya, kau tidak bisa menjawab apapun. Ini menyakitkan sekali. Bahkan lebih sakit saat kau membenci saya dulu. Posisi saya saat ini lebih membuat saya seperti seseorang yang buta dan tuli. Karena faktanya kau tidak mencintai saya, dan saya yang terlalu berandai-andai bahwa kau tidak mau kehilangan saya."

Sakit benar saat Rans kembali berbicara Saya-kau, bukan Saya-kamu. Entah jantungnya terasa terpenjara dan persendiannya seperti tak berfungsi.

"Semua sudah saya serahkan untuk kau, termasuk duniaku. Beberapa tahun ini duniaku di huni olehmu. Segala sesuatunya terasa menyenangkan saat kau berhasil memaafkanku beberapa bulan lalu. Tapi, semuanya terasa hancur berantakan saat mataku benar-benar terbuka beberapa jam lalu."

"Inilah akhirnya, tetap Fauzi yang menjadi tokoh utamanya. Sementara saya hanya figuran yang sekedar lewat saja."

Kepala Rans tertunduk dalam. Sekuat tenaga dia habiskan untuk memikirkan langkah selanjutnya. Memikirkan dunianya yang telah diinjak paksa hingga dengan sengaja pula dia kembali merebut dunianya yang telah ia berikan pada Faiha.

"ArRans...." Sergah Faiha.

"Aku.... minta maaf."

Rans tersenyum tipis. Menggeleng pelan. "Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Karena yang salah disini adalah saya. Saya yang terlalu menaruh harap. Saya yang dengan sengaja mengambil kesempatan tanpa berpikir hati lain yang ternyata tidak pernah bisa saya ambil alih. Saya akan melepasmu tapi, kalau saya memberitahumu tentang hal ini, tolong kau juga beritahu saya apa jawabanmu saat saya tanya satu hal." pelan sekali Rans meneruskan kalimatnya.

Dzikir Sendu Sang Perindu ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang