#26

18 1 0
                                        

"Melihatmu tertawa, saya merasa tidak sia-sia karena dilahirkan, Faiha."

🌹🌹🌹

"Intinya yang simpel dan elegan, gak usah banyak manik-manik dan bagian kerudungnya sampai menutup dada." ujar Faiha yang fokus mengamati desainer menggambar kasar sesuai imajinasinya dan request Faiha.

"Seperti ini?"

Faiha mengangguk takjub, senyumnya mengembang, mengambil gambar kasar itu dan menunjukannya pada Rans yang duduk di sofa sambil menatap ponsel yang entah menampilkan apa.

Ya, dua hari setelah acara tukar cincin kemarin, hari ini, Rans dan Faiha di paksa bunda Tia untuk mendatangi seorang desainer yang ternyata sudah bunda Tia cari. Entah bagaimana wanita itu begitu cepat mencari informasi padahal bukan di Jakarta, tempat asalnya. Memang, rencana Tia akan tetap di Yogyakarta sampai acara akad dilaksanakan. Menyewa salah satu kamar apartment selama satu bulan bersama putranya. Sedangkan Agis tetap pulang ke Jakarta satu hari lalu untuk bekerja.

"Gimana?" tanya Faiha.

Rans yang melihat senyum Faiha cerah pun mengangguk saja, dengan ekspresi seperti itu gadis itu pasti menyukainya. Melihat anggukan Rans, Faiha langsung mengembalikannya pada desainer.

Melihat Faiha, Rans seperti melihat pribadi Faiha yang berbeda, wajah itu terlihat menenangkan, berbeda Faiha yang kemarin-kemarin dia lihat terlihat begitu tak menyukainya, apa itu artinya gadis itu telah memaafkannya?

"Kemari!" panggil Rans sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya.

"Kenapa?" tanya Faiha dengan sebelah alis yang terangkat tanpa menuruti permintaan Rans yang duduk di sampingnya.

"Bisa kau juga yang request desain kemeja dan jas untuk saya?"

Faiha mengangguk cepat, sudah lama dia menjadi photografer, setiap ada projects foto weeding dia selalu membayangkan sepasang pakaian pengantin untuk dirinya kelak, dan tanpa dia duga Rans yang akan memakai desain bayangannya itu. Tanpa menunggu lama pun, Faiha segera berlalu dari Rans, kembali mendekati arah desainer hingga membuat Rans menahan tawanya. Ah Faiha, bagaimana bisa wajah itu bisa mengalahkan beberapa wanita yang terang-terangan menyukainya.

"Boleh makan dulu? Laper." pinta Faiha setelah masuk mobil.

Rans mengangguk. "Dimana?"

Faiha berdesis pelan dengan wajah berpikir. "Nasi goreng aja, di jalan Malioboro sana, deket sama studio juga, rasanya bener-bener enak, kau harus mencobanya."

Rans mengkerutkan keningnya. "Restoran atau rumah makan?"

"Bukan, yang ada di pinggir jalan itu loh, mumpung masih hari minggu, pasti ramai pada nongkrong."

Kening Rans semakin bergelombang. "Ke restoran saja, lebih nyaman."

"Ck, kelihatan banget gak pernah nongkrong. Kau dulu waktu SMA mainnya ke cafe?" sarkas Faiha membuat Rans melirik gadis itu geli.

"Iya, kenapa? Kaivan yang ajak."

"Heh, pantes." balas Faiha ketus.

"Belum tentu sehat kalah jualan di pinggir jalan, kau bisa sakit perut nanti." sahut Rans santai.

Faiha kembali menghembuskan napasnya dengan kasar. "Ya udah berhenti, aku turun disini. Sepertinya makan dengan Asmi atau Yusuf lebih seru." seru Faiha ketus.

"Mana ada, enggak!"cegah Rans reflek menarik tas selempang Faiha agar tetap duduk di tempat. Dengan cepat Rans kembali melajukan mobilnya. Meninggalkan lampu hijau yang ia tunggu kemunculannya.

Dzikir Sendu Sang Perindu ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang