# 39

36 2 0
                                        

"Tidak ada kata batas bagi orang tulus."

🌹🌹🌹

"Selesai, Bunda." kata Rans setelah merapikan pakaian bunda kedalam tas.

Tia mengangguk, meraih tangan Rans yang siap membantunya berdiri. Sambil tersenyum Tia menatap Rans yang juga menatapnya.

"Lusa Rans udah balik ke Jawa Timur, Bunda harus jaga kesehatan. Bilang sama Ayah kalau ada apa-apa, bilang juga sama Rans." ucap Rans pelan, tapi terdengar begitu lemah di telinga Tia.

Tia berjalan pelan, menatap sekilas putranya lalu tersenyum tipis.
"Iya, gak udah khawatir. Kamu yang harus jaga kesehatan. Kamu Dokter, seharusnya kamu lebih tahu kondisi tubuhmu."

Rans tersenyum, lalu mengangguk. Tubuhnya cukup kuat, hanya saja batinnya terasa begitu lemas. Rans merasakannya sendiri. Tapi, dia diam. Dua hari lalu matanya terakhir kali menatap wajah Faiha yang berpamitan. Di depan pintu rawat bunda yang juga mendengar kalimat menyakitkan dari Rissa dan bisa jadi juga karena dirinya.

Bahkan selama dua hari ini, dia terus terjaga menjaga Bunda. Hanya sesekali tertidur, itupun tidak lama. Pikirannya terlalu berisik. Ego memakan segalanya. Ingin sekali dia mengejar Faiha. Mencegah gadis itu pulang. Tapi, sekedar menjenguk nenek Faiha pun dia tidak mampu.

Kalimat Rissa dan Kaivan membungkamnya. Sementara hatinya menolak itu semua. Hatinya tidak pernah berpikir Faiha seperti itu. Bahkan di matanya pun Faiha begitu sempurna. Faiha yang begitu ramah dan perhatian saat bertualang. Faiha yang seru saat diajak becanda dibelakang kamera, juga Faiha yang tidak pernah sekalipun berkata kasar meskipun dulu sangat membencinya.

Rans ingat betul wajah penuh senyum ketulusan itu. Hanya saja pikiran membuat semua itu tertutup. Hingga kalimat Rissa yang tampak disana. Membuatnya begitu bising, berantakan.

"Mobil udah siap. Gue tunggu di depan." ucap seseorang dari seberang telepon.

"Hmm." Jawab Rans lalu menutup teleponnya.

"Sama Kaivan juga?"

"Iya."

"Katanya mau sama ayah." cemberut bunda komplain.

"Katanya ada rapat koordinasi dengan perusahaan lain." jawab Rans ngikut kata-kata dari Ayah.

"Ck," decak Tia sebal.

Rans terkekeh kecil. Tidak apa, setidaknya melihat bunda sudah kembali manja, kebisingan di telinganya terjeda.

"Kamu tahu, Rans waktu Bunda dirawat ayahmu baru satu kali nemenin waktu malem. Katanya sayang, mana, gak ada effort nya sama sekali." lanjut Tia berwajah masam.

"Bunda juga baru dirawat tiga hari. Lagian juga kan Rans temenin."

"Ya, kan beda. Lah kamu duduk samping bunda tapi, pikirannya kemana-mana. Coba kalau sama Ayahmu, semalaman dia natap Bunda, setiap kebangun selalu tanya, mau minum? Atau sakit gak?. "

Sebelah alis Rans terangkat. "Tadi protes, mempertanyakan Ayah sayang apa enggak, sekarang memuja. Jangan labil, Nda." julid Rans tanpa menghentikan langkah pelannnya.

Tia tertawa. Menutup mulutnya dan menyeka ekor matanya yang berair. "Iya, astaga. Haha."

Rans menggeleng heran. Sepertinya Bundanya ini memang sudah benar-benar sehat. Untunglah, setidaknya saat dia kembali merantau lagi perasaannya sedikit tenang.

"Itu Kaivan." tunjuk Tisha.

Rans mengangguk, dia juga melihat kawannya itu. Tapi, tunggu, siapa yang Kaivan ajak bicara. Semakin dekat jantung Rans menggila. Matanya paham betul siapa dia.

Dzikir Sendu Sang Perindu ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang