.
"Mau bagaimanapun jawabannya, cuma akan ada kata percuma. Karena semuanya telah menjadi usai. Tidak ada kita, ataupun kalian."
ArRans
🌹🌹🌹
"Bersiaplah! Pagi setelah sarapan, kita langsung pulang!" datar Agis bersuara sebelum keluarga Kemal, Rans, dan istrinya masuk kamar hotel masing-masing.
Sampai pagi buta semua orang disekitar Rans tetap terjaga setelah Rans menceritakan semuanya, termasuk kembalinya Fauzi. Karena memang orang tua Faiha yang terlalu mengerti putri mereka tentu tidak sulit menerima keputusan ini.
Hanya saja Orang tua Rans sendiri yang masih tidak rela. Berat, kaki Bunda Tia melangkah pergi setelah melihat orang-orang dengan buru-buru menghentikan aksinya dalam menuangkan bakatnya merangkai bunga untuk dekorasi panggung pengantin.
Semua memang Rans ceritakan, tak ada yang ia sembunyikan, karena semuanya memang harus jelas, tidak ada lagi hal tersembunyi untuk menutupi siapa yang salah dan benar disini. Tapi, Rans tetaplah Rans, dia begitu kekeh dengan kalimat bahwa dirinyalah yang salah disini.
"Saya yang telah memaksa Faiha dan terus mendesaknya."
Kalimat itu yang selalu Rans ulang. Dengan begitu semua orang terdiam. Kaivan, tiga sahabat Faiha, Nia, Paman Kemal dan Istrinya, Ayah Bundanya, Om Edgar dan Tante Bella yang sebelumnya akan menjadi orang tuanya juga.
"Gue gak nyangka!" desis Kaivan setelah merebahkan tubuhnya di kasur.
Rans yang memang satu kamar dengan pria itupun hanya mengacuhkannya. Dirinya sibuk berbenah, membersihkan diri lalu turun ke restoran untuk sarapan.
Kaivan kembali bangun, mengerang pelan dan menatap setiap pergerakan Rans yang seperti tidak ada istirahatnya sama sekali. Entah mengambil handuk, merapikan koper yang padahal baru kemarin dia turunkan semua pakaiannya, entah mengangkat telepon yang tidak jelas dari siapa, karena respon Rans hanya kadang berdeham ataupun sekedar menjawab 'iya'.
"Kenapa begini?" tanya Kaivan.
Rans mengentikan langkahnya yang akan ke kamar mandi. Menatap Kaivan sekilas.
"memang begini!" jawab Rans singkat, lalu pintu itu kembali tertutup terkunci.
Mendapat respon seperti itu, Kaivan seperti ingin mendobrak pintu itu dan menghantam mulut sahabatnya yang dengan sengaja membuatnya seperti ingin mati karena tidak terima dengan keputusan sepihak. Ya meskipun bukan dirinya yang gagal nikah tapi, tetap saja, dia terlalu banyak melihat ekspresi Rans yang sudah terlanjur terlihat berbinar karena Faiha, hingga membuatnya merasa Sudi untuk mendukung keputusannya lagi.
"Gila!" desis Kaivan yang lalu beranjak dari duduknya, berjalan kearah pintu untuk pergi sarapan lebih dulu dan membukanya. Tapi, saat pintunya terbuka, dengan tiba-tiba matanya langsung beradu dengan sepasang mata yang sama terkejutnya.
"Sande, kan?"
Sande mengangguk, menurunkan tangannya yang akan mengetuk pintu. "Boleh minta bantuan?"
Kaivan mengerutkan keningnya. "Bantuan?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah lorong hotel.
"Sendiri?"
Sande menggeleng. "Barusan sama pekerja disini yang nunjuk kamar ini,"
Mendengar itu Kaivan tertawa sekilas. Tentu saja dia tahu kalau gadis ini sama pekerja hotel karena baru saja dia juga melihat punggung wanita berpakaian pekerja itu berjalan ke arah lift di ujung lorong sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dzikir Sendu Sang Perindu ✓
Teen FictionJika cinta meninggalkanmu, biarlah cinta pula yang melepasnya pergi.🍁 _________@@@_________ 🌸Fauzi, menjadi seorang militer masuk di Tim pasukan khusus, membuatnya mempertaruhkan nyawanya di Medan perang. Berhadapan dengan musuh bersenjata, dan di...
