# 40

46 2 0
                                        

"Fauzi?"

"Asmi?"

Sama terkejutnya, dua pria yang sama-sama meninggalkan Faiha kini berada di tempat dan waktu yang sama. Bahkan mereka berdua kembali datang. Menenteng ransel cokelat dan mengenakan ikat kepala hadiah dari Faiha, Asmi mengerutkan keningnya dan menyeret Fauzi sedikit menjauh dari mushola.

"Ngapain kesini?" berang Asmi tertahan.

"Gua cuma mau ketemu Faiha sebentar. Gak akan lama."

Asmi maju selangkah, sehingga hampir tidak ada jarak antara mereka berdua. Asmi menatap wajah Fauzi yang tegas seperti dulu, tidak berubah, hanya saja kini saat melihat pria itu, dia tidak bisa untuk sekedar bercengkrama dengan hangat. Bukannya gimana, dia hanya takut pria ini semakin membuat Faiha terluka, perempuan itu sudah cukup untuk merasakan sakit yang cukup lama hanya karena satu pria dihadapannya ini. Dia tidak akan rela.

"Lo dulu udah mutusin buat pergi, seharusnya lu juga mutusin buat gak dateng lagi." sarkas Asmi tepat di depan wajah Fauzi.

Suara penuh penekanan itu membuat Fauzi memalingkan wajahnya. Pasalnya raut wajah Asmi jelas sekali tengah menahan amarahnya.

"Oke."

"tapi, kasih ini ke Aih." lanjut Fauzi sambil memberikan selembar kertas yang dilipat. Asmi melihat itu. Matanya penuh tanya.

"Jangan harap Faiha balik lagi sama lu. Biarin dia bahagia sama Rans."

Fauzi tersenyum tipis. Menggeleng pelan, sambil membenarkan tas selempang berukuran sedang miliknya. "Dari Tavisha. Biarin Faiha baca itu. Terserah mau gimana lu jawab pertanyaan Faiha darimana dapet surat ini, yang penting sampai ke Faiha."

"Gua pergi." lanjut Fauzi setelah Asmi menerima surat itu.

Melangkah menjauh, dan kembali memakai kacamata hitamnya. Membiarkan Asmi terus menatap punggungnya yang tak kunjung menghilang.

Tavisha? Ada apa dengan wanita itu? Pikiran Asmi dipenuhi kalimat serupa. Bukankah Fauzi tidak lagi di Indonesia? Kenapa harus jauh-jauh kembali lagi kemari?

Ah, pikiran itu buyar seketika ketika pendengarannya menangkap seruan yang memanggil namanya dari kejauhan.

"Gilaa! Lo kapan sampainya, Mi?" heboh Yusuf memeluk Asmi setelah berlari menyambut sahabatnya itu.

Faiha dan Sande ikut tertawa lebar. Sebenarnya mereka juga sama terkejutnya ketika memakai alas kaki tak sengaja Yusuf melihat Asmi berdiri mematung di samping mushola. Meskipun cukup jauh, tapi mata Yusuf cukup jelas menangkap siluet tubuh itu.

"Sialan. Gak ada kabar tau-tau udah sampai sini. Apa kabar Lo?" tanya Yusuf tak kunjung habis sambil menepuk-nepuk bahu Asmi.

Sang empu hanya cemberut kesal, terus menepis tangan Yusuf yang menepuk-nepuk tubuhnya, ya kalau pelan, ini udah kaya di hajar.

"Lu siapa pengen dikasih kabar?"

"Yee, punya sahabat ganteng gini gak dianggep. Emang kurang ajar ye lu!"

"Bodoamat, toh ganteng gitu juga jomblo."

"Ah, gak tau aja, cabang gua mah banyak. Cuma pengen single aja, biar sama kaya teh Sande. Terjaga." balas Yusuf sambil menoleh arah Sande dan mengedipkan sebelah matanya.

Sande langsung berlagak ingin muntah, sementara Faiha hanya tertawa.
"Jangan gitu, bisa jadi Yusuf emang nunggu kamu, Nde." timpal Faiha meledek.

Sande memutar bola matanya. "Males sama cowok yang banyak cabangnya."

Asmi seketika menatap Yusuf dan langsung menyemburkan tawanya. Yusuf langsung menggaruk kepalanya, dan sama tertawanya.

"Apasih rame amat?" seru Kak Fara diikuti pria jangkung dibelakangnya.

Dzikir Sendu Sang Perindu ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang