"Nara I Love You, Gala cayang Nara!"
"Najis."
"Ish, hiks, Nara jahat gak mau sayang sama Gala."
"Udah jangan nangis. Love you too."
❤❤❤❤❤❤❤❤
Lugu tapi sok keras adalah sifat Gala. Cowok childish yang berpenampilan aneh nan mewah. Selain lugu dan me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Nara mode serius.)
Childish Boy
Setelah mengantarkan Gala kekelas, langkah Nara melebar agar cepat-cepat sampai ketujuan. Aura suramnya menguar, membuat siapapun yang berpapasan dengannya merinding ketakutan. Di sana, di lorong yang berisi cewek cewek centil, terlihat Vanca sedang tertawa terbahak-bahak. Lihat, kalau seperti itu Vanca terlihat seperti monyet.
Tanpa aba-aba, Nara langsung menarik tangan Vanca hingga gadis itu terhuyung saat kakinya dipaksa mengikuti arah yang Nara tuju. Ia melotot ke arah teman-teman Vanca, dengan itu dia mengisyaratkan bahwa JIKA-ADA-YANG-IKUT-CAMPUR-BESOK-LO-BAKALAN-MATI.
"Njing, lepasin bangsat!" pekik Vanca, tak tergubris sama sekali.
Setelah berada di lorong yang sepi, Nara mendorong Vanca hingga gadis itu menabrak dinding. Kekuatan gadis itu jelas tak bisa menandingi si algojo yang setiap harinya bekerja keras. Nafasnya memburu, ia ketakutan, tapi juga marah. "APA-APAAN LO KAYAK GINI?" teriaknya marah.
Nara memejamkan matanya sebentar, mencoba menetralkan amarah yang meluap-luap di dada. Dengan suara berat ia berkata, "Udah ngomong apa aja lo sama pacar gue?"
"Waw, ternyata tuh curut ngadu ke lo ya, hahahaha, cowok kok ngaduan," sindir Vanya, seperti tak ada takut-takutnya. Nara menggeram marah, bukan jawaban seperti itu yang ingin ia dengar.
"'Gue tanya baik-baik. Udah berapa banyak omong kosong yang lo sampain ke dia, Vanca?!" ujar Nara mengulangi. Kini setiap kata seolah menusuk di pendengaran. Sudah jelas, sisi buruk Nara sudah bangun. Tentunya, untuk menghabisi musuh bebuyutannya.
Sedari kecil.
"Eitts, ga boleh marah dulu, anak baik," ucap Vanca mendayu-dayu, "gue cuma bilang lo jalang-"
"Hahahahahahahahahahha," tawa Nara yang tiba-tiba menggelegar membuat Vanca sedikit terkejut. "Bicth, lo pasti ceritain seluruh sifat lo dengan nyangkutin nama gue disetiap cerita. Vanca-Vanca. Semua orang juga tahu kalau yang jalang itu lo!"
Buagh! Satu tinjuan lemah mengenai batang hidung Nara yang mancung. Nafas Vanca begitu menderu. Amarahnya sudah terpancing. "Lo-"
"Kenapa? marah? marah karena yang gue bilang itu bener?" potong Nara dengan suara meninggi. Ia menarik kerah Vanca hingga gadis itu terrjinjit. "Denger ya tolol, jangan pernah sentuh pacar gue lagi, atau wajah lo bakalan remuk tak terbentuk," ancamnya lalu melempar tubuh Vanca ke tembok.
Setelah melihat Vanca kesusahan untuk berdiri, Nara terkekeh dan pergi. Sedangkan Vanca mengusap kepalanya yang sepertinya bocor. Sialan, kekuatan Nara memang tak main-main.
Ia akan segera pergi ke UKS tanpa memberitahu yang terjadi. Karena dia tahu, percuma lapor BK. Kekuasaan ayah Nara tidak akan pernah membuatnya menang disini.