Semenjak kejadian jambak menjambak yang sangat mengenaskan dan membekas di hati keduanya, Gala tidak melihat Nara sama sekali dalam seminggu ini. Gadis itu bagai ditelan bumi. Terakhir kali ia bertemu saat gadis itu mengantarnya ke kelas dengan raut masam. Gala mengetuk-ngetuk mejanya. Tadinya Gala merasa bahagia karena si pengganggu tidak nampak batang hidungnya, tetapi lama-kelamaan dia merasa bosan. Apalagi Ayu selalu membuntutinya seperti seorang stalker. Andai saja ada Nara, pasti Ayu tidak akan macam-macam, pikir Gala.
"Ih apaan sih, kok aku jadi kangen kutu kupret itu. Sebel deh, Nara kemana sih," gerutunya sendu. Ia mendengus. Hari ini dia tidak berminat untuk bertemu siapapun, dan keberuntungan berpihak pada Gala karena para guru-guru mengadakan rapat, jadi semua kelas full jamkos. Dan disinilah Gala sekarang. Perpustakaan sekolah yang tenang dan nyaman.
Gala membolak-balik halaman comic conan kesukaannya. Entah kenapa saat ini comic itu tidak terlihat menarik, malah otaknya terus memikirkan dimana keberadaan si pengganggu Nara. Bukannya ia rindu, hanya merasa aneh kalau tidak melihat wajah Nara. Seperti ada yang kurang.
Tak mau ambil pusing, akhirnya dia memilih untuk menjelajahi perpustakaan lebih dalam. Memang sekolah ini memiliki perpustakaan yang cukup luas. Ada banyak sekali rak buku di lorong-lorong kecil. Gala melangkahkan kakinya tak tentu arah. Dia sebenarnya hanya ingin menyibukkan diri agar pikirannya tidak melulu tentang Nara dan ...
DUAGH!
"BANGKE!"
Eh, kok kayak kenal.
Gala segera mengendap-endap kemana arah suara berasal. Ia mengintip dari balik rak, dan sesuai dugaannya, seorang gadis dengan rambut super awut-awutan sedang memunguti buku yang berceceran di lantai. Gala terpaku, melihat Nara yang sedang mengoceh dan membentak-bentak buku yang tak bernyawa sangatlah asyik. Andai saja Gala membawa HP nya sekarang, pasti dia akan merekam kegiatan Nara.
"Gue tau lo ada disitu. Ngapain? nguntit?" sindir Nara tanpa menoleh. Gala meringsut. Wajahnya memerah. Tangannya tremor gegara ketahuan mengintip Nara. Bagaimana bisa gadis itu tau keberadaannya yang tersembunyi. Padahal Nara sama sekali tak menoleh kearahnya, tapi gadis itu tau ada seseorang disekelilingnya. Sungguh hebat.
Gala menjulurkan kepalanya pelan, melihat apakah Nara melihat kearahnya atau tidak. Namun ternyata nihil, tidak ada siapapun disana. Gala seketika merinding. Apa jangan-jangan itu bukan Nara tapi ...
"BUAH!"
"MAAMAAAAAAAAAAAAA!"
"BWAHAHAHAHAHHAHAAA." Tawa Nara menjadi tak terkontrol saat Gala limbung jatuh dan terpentok rak-rak buku. "Eh aduuuh kasian banget deh penguntit nya jatuuh. Uncch, cakit yaaa?" ejek Nara dengan brutal.
Gala mendengus. Ingin sekali Gala meralat pujiannya terhadap Nara di detik sebelumnya. Nara tetaplah setan. Gadis itu sangatlah menyebalkan. Masih dalam keadaan mengenaskan, Gala menyahuti ejekan gadis itu. "HEI SETANG! SIAPA YANG NGUNTIT KAMU! AKU DISINI CUMA MAU NERTAWAIN NASIB MENGENASKAN DARI SETAN YANG TERKUTUK!" teriaknya tak mau kalah.
Nara berkacak pinggang, ia menirukan setiap gerakan bibir Gala dengan raut wajah mengejek. "Asal lo tau ya bayi bajang, gara-gara sikap aneh lo minggu lalu gue harus dihukum disini. Udah enak lo gak gue jadiin babu, eh malah nyebut gue setan. Ga tau diri lo!"
Gala terdiam. Jadi seminggu ini Nara dihukum gara-gara Nara menjambak Gala. Pantas saja tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi kenapa Nara melakukan hukuman ini dengan sungguh-sungguh ya? dia kan bandel. Ah, bodoamat, Gala tetap jengkel pada Nara. "A-apa peduli ku? Harusnya kamu bersyukur dihukum di tempat adem kayak gini. Harusnya kamu di DO —"
"Diam," suara Nara tiba-tiba memberat. Mata gadis itu meredup. Auranya langsung mencekam. "Jangan diterusin, gue gak suka arah pembicaraan lo! Keluar dari sini atau gue habisin lo sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Childish Boy: Love Hate
Teen Fiction"Nara I Love You, Gala cayang Nara!" "Najis." "Ish, hiks, Nara jahat gak mau sayang sama Gala." "Udah jangan nangis. Love you too." ❤❤❤❤❤❤❤❤ Lugu tapi sok keras adalah sifat Gala. Cowok childish yang berpenampilan aneh nan mewah. Selain lugu dan me...
