Setelah seminggu berada di RS pribadi keluarga Delima, akhirnya Nara sudah bisa dinyatakan ssmbuh total. Dia sudah tak merasakan nyeri di dadanya, atau pusing karena kehabisan darah. Nara yang seperti di kurung di ruangan mewah hanya menimang buah apel. Dia bosan. Tak ada akses apapun yang bisa membuatnya kabur.
Dia seperti di sekap. Tak ada bedanya dengan perilaku bejat George. Dia merasa tersiksa. Hanya saja siksaan ini tidak tahu kapan selesainya.
"Anjir, gue kangen Mbak Tina sama anak-anak lain," ujarnya frustasi. Dia berdiri dan melepas paksa infus yang ada di tangannya. Persetan dengan selang-selang yang berserakan, dia tak lagi membutuhkan itu.
Nara berdiri di dekat jendela. Terbuka. Jendelanya terbuka. Dengan kepala penuh kegembiraan, Nara membuka jendelanya dan mengintip ke bawah. Dan Nara harus sedikit menekan egonya karena ternyata ia ada di puncak ketinggihan.
"Gue bisa gak ya lompat tanpa kelihatan bundir. Nanti kalau gue salah injakan gimana, bukannya sembuh malah mokad," monolog nya. Ia bergerak maju mundur, ragu dengan keputusan gilanya kali ini. Memang, dia adalah pelompat gedung yang sudah berlatih dari rumah ke rumah, namun dia tak semahir itu. Apalagi bangunan ini tak banyak alas untuk ia memijak.
Tapi jika tidak nekat, dia pasti akan semakin di kurung oleh Dara. Ibu satu ini kan pikirannya agak random. Nara agak ngeri jika semisal Dara berinisiatif untuk menjadikannya mata-mata di negara besar. Sekali lagi, pikiran Dara agak random.
Nara menengok sekali lagi. Kali ini keputusannya sudah bulat. Dengan tubuh yang kehabisan berat badan, Nara tanpa ragu mulai melompat dari ketinggihan lima lantai.
Hap! dia berhasil turun ke lantai empat walau harus sedikit terhuyung. Nara mendecih sombong. Sepertinya keahliannya menjadi bajing loncat masih sama seperti dulu. Malah sepertinya sudah terupgrade tanpa ia sadari. Dengan pelan tapi pasti Nara turun dari satu gedung ke gedung lain, pijakan ke pijakan lain. Hingga akhirnya, dia bisa turun di aspal.
Tempat ini memang sepi karena masih jam 1 pagi. Tapi, CCTV jelas ada di mana-mana. Dia harus melangkah cepat agar CCTV kampret itu tak lagi meninggalkan jejaknya. Ada satu tembok yang bisa mengeluarkan dari penjara mewah itu. Tanpa babibu, segera ia memanjat tembok penuh duri itu dan meloncat ke luar.
Hap! Akhirnya dia bebas. "Yes anjay slebew!" pekiknya tertahan. Nara memang keren. Dia langsung berlari ke arah jalanan besar. Kalau kamu mengira jalanan sepi, kamu salah. Kota besar ini tak akan pernah padam lampunya. Bahkan, untuk TAXI saja masih berseliweran di jalan. Akan tetapi, satu masalah terjadi. Dia tak mempunyai uang sepeserpun. Bahkan, HP mya saja sudah raib entah kemana.
"Nasib gue gini amat sih anj****" umpatnya kesal. Ia melongok ke kiri dan ke kanan. Namun, seperti ada yang familiar di kejauhan. Di tempat angkringan kopi yang isinya bapak-bapak supir truk, seperti ada yang Nara kenal. Dan benar saja, setelah memastikan bahwa matanya tak salah lihat, ia langsung berlari menyeberang jalan saat orang yang ia maksud keluar dari tempat angkringan.
"BANG TOMO!"
Childish Boy
"Neng, kok bisa-bisanya kamu ada keluyuran di tempat kayak gini. Buset neng, kalau ada apa-apa sama Neng yang khawatir pasti Tina, toh," ucap Bang Tomo sembari menyupir truknya. Nara hanya terkekeh canggung. Dia tak sempat menjelaskan kronologi yang ia alami karena kegopohan Bang Tomo yang melihatnya teriak seperti orang habis dikejar debt-collector.
Tapi setelah melihat Bang Tono yang mengomel sepanjang perjalanan, sepertinya ia memutuskan untuk tak bercerita saja.
"Tadinya sih jalan-jalan aja bang, tapi malah nyasar," ucapnya bohong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Childish Boy: Love Hate
Jugendliteratur"Nara I Love You, Gala cayang Nara!" "Najis." "Ish, hiks, Nara jahat gak mau sayang sama Gala." "Udah jangan nangis. Love you too." ❤❤❤❤❤❤❤❤ Lugu tapi sok keras adalah sifat Gala. Cowok childish yang berpenampilan aneh nan mewah. Selain lugu dan me...
