Setelah kejadian di rooftop sekolah hari itu, sudah seminggu Gala tak melihat Nara berseliweran di sekolah. Walau hati masih tak terima dengan keputusan Nara yang mengatakan bahwa dia sudah tak ingin mengenalnya lagi, Gala tetap menjalani kehidupan sekolahnya dengan semangat.
Nara pun sama. Dia juga berusaha untuk menjalani kehidupannya yang keras ini dengan tegar. Walau kerap kali saat bekerja, terlihat Gala sedang memperhatikannya dalam mobil di kejauhan. Nara berpura-pura untuk tak peduli walau nyatanya hatinya dag-dig-dug karena diapeli ayang.
Hari ini, Nara berniat untuk pergi ke sekolah setelah seminggu Alpha. Di lorong sekolah, dia berhenti di tempat pertama kali ia berinteraksi dengan Gala. Saat cowok itu membawa tumpukan buku dan menabraknya. Saat cowok itu dengan lantang mencerca Nara dengan roastingannya.
Ah, Nara jadi rindu dengan masa itu. Andai saja bisa diputar kembali.
"Hei! siapa sih yang ngehalangi jalan!udah tau badan gede, malah berdiri kayak patung pancoran!" sindir seseorang di belakang Nara. Gadis itu menoleh dengan cepat, dan terlihat seorang berdiri di belakangnya menatapnya kesal. Cowok itu bahkan sampai berkacak pinggang di depannya. "Nah kan, diem doang kayak burung beo. Minggir dong!"
Kodok zuma? Nara melongo melihat Gala kembali seperti dulu dimana mereka belum menjalin hubungan. "Hah?"
"Hah? hoh? hah? hoh? budek kuping lo? makanya punya kuping dijaga, dibersiin. Jangan dikasih ciu aja!" omel Gala yang semakin mendrkat kearah Nara. "Udah ah, minggir. Aku mau masuk ke kelas!" usirnya kesal.
Nara menyunggingkan senyum nakalnya. Ia mendekat ke arah Nara dan menatap cowok itu dengan tatapan penjahatnya. "Kalau gue gak mau, lo mau apa, hah!" tanyanya dengan suara berat. Hari ini dia memang habis meminum arak dan menghabiskan dua linting rokok. Bau alkhohol jelas menguar.
"M-mau ak-aku ..." Gala meneguk ludahnya. Dadanya berdegup saat mencium aroma parfum yang tercamour bau rokok gadis itu. Apalagi saat Nara semakin memojokkannya ke arah dinding. Benar-benar menakutkan. "Laporin ke BK. Hei! kamu mau ngapain aku!" serunya khawatir saat Nara sudah menguncinya di di dinding. Gala menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun di lorong ini. Dia tak bisa meminta bantuan siapapun untuk melepaskan diri.
"Emang berani, hm? kodok zuma kayak lo cuma bisa bacod gede doang." Nara mendekatkan kepalanya dan mengendus leher Gala hingga cowok itu menghentikan nafasnya. "Bau bayi kayak gini mau ngelaporin gue ke BK. Lucu," ucapnya tepat di samping leher Gala.
Setelah mengatakan hal itu, dia menegakkan kepalanya, menatap Gala yang sudah memerah pipinya. "Napa muka lo? merah karena ketakutan atau—"
"Mana ada!" potongnya cepat. "Gue gak akan takut sama lo. Apalagi baper, iyuh. Gak level!" serunya dengan menghentak-hentakkan kaki. Nara terkekeh. Ia lalu bersidekap dada dan berkata, "Emang siapa yang bilang baper? jangan buat omong, ya si kecil," goda Nara, membuat warna merah di wajah Gala semakin tercetak jelas.
Karena malu, Gala mendorong tubuh Nara dan langsung menghindari dari kungkungan Nara. Dia bahkan berlari tunggang langgang karena salah tingkah. Sepertinya dia salah trlah bersikap sok judes di depan Nara. Gadis itu memang kampret. Saat dia memohon agar gadis itu tak meninggalkannya, Nara malah mengusirnya sekuat tenaga. Tapi saat dia mulai berupaya agar semua berlalu tanpa drama, Nara malah berusaha menahannya agar tetap suka dengan pesona misterius milik gadis cantik itu.
Duh, Gala harus gimana?
Karena tak melihat siapapun di depan, Gala tak sadar telah menabrak seseorang hingga ia terjatuh. Dan sialnya, dia menyenggol Ayu, yang tampaknya sedang badmood.
"Punya mata gak lo!" decaknya kesal. Bukannya menolong Gala, dia malah menginjak kaki cowok itu hingga kaki Gala terpelintir. "AYU SAKIT AYUUUUUUUUUUUUUU!" teriaknya kesakitan.
"Rasain lo. Mampus!" ejek Ayu dan langsung melenggang pergi, tanpa memperdulikan Gala yang sudah menangis kesakitan.
Gala terisak. Ia sudah berusaha berdiri tapi kaki kirinya terasa sangat sakit. Dia memang manja. Dan kemanjaannya sangat menyusahkan diri sendiri. "Hiks, sakit," isaknya.
Lalu, ia merasa seretan kaki terdengar. Ia menengadah dan melihat Nara melewatinya begitu saja. Gala sangat berharap Nara menolongnya sekarang, tapi kenyataannya gadis itu hanya melangkainya. Seolah tidak ada Gala di bawahnya.
"Hiks, Nara tolongin Gala, hiks," isaknya lemah. "Kaki Gala sakit, hiks."
Nara terhenti saat namanya dipanggil. Ia menoleh kebelakang. Sebenarnya ia tak tega melihat Gala menangis seperti itu, tapi dia harus menguatkan diri agar Gala tak lagi manja dengannya. "Lemah," ucapnya ketus dan berbalik.
Mendengar itu tangis Gala seketika terhenti. Dia marah karena Nara tak seperti dulu, yang melihatnya terisak saja sudah memanjakannya. Entah dari mana kekuatan untuk berdiri itu muncul. Dengan kekesalan yang membuncah, Gala berjalan terseok; berniat memukul Nara dari belakang.
Tapi sebuah balok kayu tiba-tiba muncul dari mana, menjegal kaki kanan Gala. Seperkian detik, tubuh Gala kehilangan keseimbangan. Ia melambung. Takut. Gala takut akan rasa sakit. Dia pun memilih menutup matanya.
Tapi, tubuhnya tak terasa membentur lantai. Dia langsung melek saat tubuhnya dipaksa berdiri. Ternyata, tangannya sudah dicekal kuat oleh seseorang. Nara. Gadis itu ternyata tetap penolongnya.
"Lemah banget jadi orang. Gini jatuh, gitu jatuh. Kalau gak bisa jalan pake kursi roda sana," omel Nara yang masih mencekal tangan Gala. Cowok itu menarik tangannya kesal. Dia masih marah dengan sikap Nara yang mengejeknya tadi.
"Bacod. Aku bisa berdiri sendiri tanpa kamu bantu. Udah sana-sana, aku gak butuh ocehan orang miskin," ujar Gala yang langsung membuat Nara naik pitam.
"Heh bocah tengik. Bukannya bilang makasih malah ngehina keuangan orang lain. Minta diapain lo!" ujar Nara berkacak pinggang.
"Mau di jadiin pacar lagi!" jawab Gala spontan. Cowok itu juga meniru perilaku Nara saat ini. "Nah loh, diem kan tuh mulut. Sebenarnya yang lemah itu siapa?" imbuh Gala menantang.
"Ck, kaki lo tuh lagi cacad. Masih mikirin hal gak penting." Nara menarik tangan cowok itu hingga mendekat ke arahnya. "Udah ah, pergi ke UKS dan jangan ganggu gue. Gue muak lihat lo," tutur Nara yang ditangkap lain oleh Gala. Muak berarti kangen. Rumus Besar Bahasa Nara itu memang agak rumit untuk dimengerti.
"Aku gak mau ke UKS. Biar aja aku cacat seumur hidup," tolak Gala membuat Nara mencengkram lengan Gala.
"Lo jangan bacod ya. Gue anter ke UKS. Emang nyusain lo orang," sergah Nara kesal. Gala mengulum senyum, Nara ini memang sangat plin-plan. Katanya gak mau ngurusin Gala lagi, tapi ngelihat Gala terluka sedikit saja Nara sudah kelimpungan sendiri.
Gala jadi ingin memberi hadiah untuk Ayu. Tanpa injakan gadis itu, mungkin obrolan semacam ini tak akan pernah terjadi.
"Emang siapa yang mau disusahin sama lo, gaada nyet," seru Gala. Cengkraman di lengan Gala melonggar. Gala agak kecewa karena Nara tak lagi mencekal langannya. Dia jadi bertambah kecewa saat Nara meninggalkannya tanpa basa-basi.
Apakah Nara marah dengan ucapannya? apakah ucapannya seketerlaluan itu hingga gadis itu tak lagi menghawatirkannya? memikirkan hal itu saja bisa membuat Gala terisak. Ia tak mau Nara mencampakkannya ssperti ini.
"Hiks, Gala jangan ditinggal," isaknya berdiri di tempat. Tapi Nara tak mendengarkannya. Ia tetap berjalan ke depan walau pelan. "Nara kaki Gala sakit, hiks. Ih, Ayu kemana sih! Ayu—"
"Udah?" Nara langsung membalikkan badan saat nama gadis lucknut itu disebut oleh Gala. "Udah manjanya?" ucapnya jengkel. Dia kembali ke arah Gala. "Ayo!"
"Gak mau. Maunya digendong!" tolak Gala menirukan suara bayi. "Gala cuma mau digendong, kaki Gala kan sakit. Masa' kaki sakit bisa jalan. Nanti kalau bemgkak gimana?" ucapnya dengan ekspresi sok takut.
Nara langsung memutar matanya mendengar itu. Tapi, tanpa basa-basi lagi dia berjongkok agar Gala dengan mudah ia gendong. Gala senang bukan main. Akhirnya ia merasakan gendongan Nara lagi.
"Ck, cepetan dok kodok!" seru Nara jengkel.
"Hihihi, lets go!"
Dan beginilah mereka. Yang katanya sudah menjadi stranger again, tapi malah gendong-gendongan seperti remaja kasmaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Childish Boy: Love Hate
Novela Juvenil"Nara I Love You, Gala cayang Nara!" "Najis." "Ish, hiks, Nara jahat gak mau sayang sama Gala." "Udah jangan nangis. Love you too." ❤❤❤❤❤❤❤❤ Lugu tapi sok keras adalah sifat Gala. Cowok childish yang berpenampilan aneh nan mewah. Selain lugu dan me...
