Tiga tahun kemudian...
Seorang Anak kecil laki-laki sedang bermain di dalam kamar bersama laki-laki paruh baya. Terlihat raut wajah Anak itu memancarkan kebahagiaan, menggenggam robot ironman serta mobil-mobilan yang baru saja selesai dia susun bersama laki-laki itu.
Rional Nauza, Anak laki-laki berusia 3 tahun, di besarkan hanya dengan jerih payah seorang ayah tanpa sang pendamping yang di sebut Ibu.
Kepergian Naumi menjadi titik hitam dan kesedihan Ren yang tiada berujung. Hingga saat ini Ren masih menginginkan Naumi kembali dan tertawa bahagia bersamanya dan buah hatinya.
Rional beranjak, mengambil bingkai foto yang terletak di atas meja.
"Papa," panggil Rional.
Ren memperhatikan Rional yang tengah berjalan kearahnya dengan menenteng bingkai foto tersebut.
"Mama," ucap Reonal menyerahkan bingkai foto itu ke Ren.
Dengan senyum kecut Ren menerima bingkai itu, Rional duduk di pangkuan Ren dengan atensi menatap figuran foto wanita cantik dengan perut yang membuncit, terlihat dari wajah Wanita itu sedang menunjukkan raut wajah bahagia.
"Mama Mana, Pa?" tanya Rional dengan logat anak kecil dan ucapan yang cadel.
Ren mengelus kepala Rional. "Mama sudah di Syurga" jawab Ren.
"Syurga?" Rional memajukan bibirnya kedepan.
"Rio ingin bermain ke rumah, Mama?"
"Mau" jawab Rional antusias.
"Baiklah. Mari Kita bersiap!"
Ren mengangkat tubuh Rional, dan di dudukkan di atas ranjang. Ia mengambil baju di dalam kemari lalu menggantikan baju Rional.
"Kamu sangat tampan," puji Ren.
"Papa juga" jawab Rional terkekeh singkat.
***
Tiga tahun lamanya Naumi pergi meninggalkan orang-orang yang menyayanginya. Salah satunya Monik yang masih belum bisa sepenuhnya hidup tanpa Naumi di sisinya.
Sedari kecil mereka sudah bersahabat, dan Kini Naumi malah meninggal kannya terlebih dahulu tanpa mengucapkan sepatah kata sebelum itu.
Monik duduk di kursi taman kampus, Menatap jalanan dengan tatapan kosong.
"Udah tiga tahun Lo ninggalin Gue, Nau"
Monik mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas, membuka aplikasi galeri, mencari foto sang sahabat yang selama ini ia rindukan.
Ehem
Dehemam dari seseorang berhasil membuat Monoleh dan menggeser duduknya.
"Ngapain Lo duduk di sini sendirian?" tanya Lintang.
"Bukannya Gue biasanya sendirian?" tanya Monik balik.
"Hm, Gue lupa Kalau Lo gak punya temen"
Monik tersenyum singkat, setelah itu memasukkan ponsel ke dalam tas dan beranjak.
"Mau kemana?" tanya Lintang.
"Bukan urusan Kakak" jawab Monik.
Jika awalnya Monik mengejar cinta Lintang dan berusaha mendekati Lintang demi mendapat timbal balik rasa yang selama ini ia pendam, tetapi Kali Ini Monik menyerah dan mundur secara perlahan demi menyelamatkan hatinya yang sudah bertahun-tahun tersiksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
KHIANAT (End)
ChickLittentang NAUMI Gadis penuh luka, hidupnya sepi dan hampa. saat fisik dan hati di tikam secara bersamaan, disitulah mulainya penderitaan. senja dan hujan, teman terbaik memulihkan luka. menjadi tempat ternyaman untuk berteriak kencang bahwa Aku baik...
