00 : Back To Past

1.6K 75 26
                                        


Sorry for typo dan kata yang hilang🙏

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

"Boss, aku pikir kamu nggak akan datang ke pernikahan Meen! Ayo sini, mari kita minum!" seru Forth sambil tertawa lepas, melambai pada sosok pria berkarisma yang baru saja masuk ke area pesta bersama pasangan tampannya, Noeul.

Suasana pesta mewah itu dipenuhi bunga putih dan biru muda, aroma segar mawar dan lili tercium samar dari setiap sudut ruangan. Meja-meja bundar tertata rapi, cahaya lampu gantung kristal menggantung anggun di atas kepala para tamu, memantulkan kilau pada gaun dan setelan jas mahal mereka.

Di tengah keramaian, Meen duduk sendiri di meja utama, sedikit menyandarkan tubuh pada sandaran kursi yang empuk. Dari tempatnya duduk, pandangannya menyapu seluruh ruangan, menyusuri wajah-wajah tamu undangan, tawa-tawa kecil yang terdengar lembut, dan senyuman bahagia yang tersebar di setiap penjuru. Tapi semuanya terasa berputar. Semuanya terasa berat.

Dadanya sesak.

Di depannya, ada segelas anggur merah, tak tersentuh. Meen menatap gelas itu lama. Tetes-tetes embun menggantung di permukaannya, pantulan cahayanya bergetar di bawah tatapan mata Meen yang memudar.

Apakah ini nyata?

Ia kembali memandang ke sekeliling. Meja panjang di ujung ruangan, karangan bunga putih yang dihiasi pita biru lembut, panggung kecil tempat mereka akan berdansa nanti... Semuanya terlalu indah, terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

Dan ketika matanya kembali ke sisi kirinya, di sanalah dia.

Perth Tanapon.

Omega manisnya.

Pria yang menjadi alasannya tersenyum, terluka, bertahan, dan mencintai.

Meen menatap Perth yang sedang tersenyum ramah pada tamu yang menyapanya, wajahnya teduh seperti biasanya, tatapannya lembut dan merendah. Masih sama seperti dulu—masih sama seperti saat Meen pertama kali jatuh cinta padanya.

Kala itu mereka masih duduk di bangku sekolah menengah. Perth adalah junior yang manis dan sangat menonjol. Nilai-nilainya selalu nyaris sempurna, selalu berada di urutan teratas di antara ratusan siswa. Tapi bukan hanya otaknya yang luar biasa, Perth juga luar biasa dalam seni. Ia piawai memainkan piano, gesit memainkan biola, dan lukisannya... seolah hidup di atas kanvas.

Dan di balik semua keistimewaannya itu, ada satu hal yang paling membuat Meen terpikat: hatinya.

Perth adalah sosok yang lembut, pemalu, dan tulus. Ketika Meen tak sengaja melihat dia duduk sendirian di perpustakaan, terlalu asyik membaca hingga lupa waktu dan di situlah benih cinta itu mulai tumbuh. Tapi Meen tidak langsung mendekati. Tidak berani. Perth terlalu pendiam, terlalu tertutup. Setiap kali Meen mencoba memulai percakapan, bibirnya seakan terkunci. Kata-kata yang telah dirangkai sejak jauh-jauh hari seketika lenyap begitu saja saat dia menatap mata coklat milik Perth.

"Kamu terlalu cantik..." Bisik hatinya saat itu. Tapi hanya dalam hati.

Meen ingat bagaimana dulu ia sengaja datang ke perpustakaan, hanya demi bisa duduk satu meja dengannya. Tidak melakukan apa pun, hanya duduk di sana, membaca buku yang tak benar-benar dia baca, mencuri pandang ke arah Perth yang menunduk memandangi baris demi baris kalimat.

Dia tahu Perth introvert, sulit didekati, gampang panik saat didekati langsung. Bahkan sering menghindar. Tapi itu tidak membuat perasaan Meen surut, malah sebaliknya, Meen semakin jatuh, semakin dalam.

Perth tidak tahu. Tidak tahu kalau ada seorang kakak kelas yang memujanya dari jauh, yang bahkan tak sanggup menyapanya dengan benar, yang memilih mengaguminya dalam diam demi menjaga jarak yang nyaman bagi Perth.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang