Langit mendung saat itu, seolah semesta tahu bahwa hati seseorang tengah bergemuruh. Di studio terbuka yang dipenuhi perangkat syuting, lampu-lampu besar, crew sibuk, dan suara musik menggelegar dari speaker monitor, langkah Zee terasa seperti dentuman yang tak bisa dihindari. Semua tatapan mengarah padanya, beberapa saling berbisik, beberapa diam-diam mengabadikannya. Tapi Zee tak peduli.
Dia hanya mencari satu sosok.
Dan di antara semua keramaian, dia melihatnya.
Nunu.
Omega cantik itu berdiri di tengah panggung yang dihiasi lampu merah dan ungu, dengan tubuh lentur dan sorot mata membakar layar kamera. Gerak tubuhnya dinamis, rambutnya dikuncir ekor kuda, dan senyum profesional yang dia layangkan ke kamera sukses membuat siapa pun terpikat.
Zee terdiam.
Selama tiga tahun, dia hanya hidup dari bayangan. Dari kenangan samar. Dari suara tawa Nunu yang mengiang di kepala tiap kali malam datang. Dan kini, dia di sini—nyata, hidup, lebih bercahaya dari yang pernah dia bayangkan.
Sutradara memotong adegan, crew bersorak. Nunu turun dari panggung, menarik napas dalam dan mengambil botol air.
Dan saat dia berbalik, matanya membeku.
Zee berdiri di sana, hanya beberapa meter darinya.
Nunu tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Tidak ada wajah yang meledak oleh emosi. Hanya mata yang sedikit menyempit, dan dada yang terangkat karena menarik napas panjang.
Zee menghampirinya perlahan, suara dunia di sekeliling mereka seolah menghilang.
"Nunu..."
"Kenapa kamu ke sini?" Nunu mendahului, suaranya datar namun tajam, seperti silet yang mengiris tenang.
Zee menunduk sebentar, lalu menatap Nunu lurus-lurus. "Aku harus bicara. Kumohon... jangan pergi dulu."
Nunu memalingkan wajahnya sedikit, tapi tidak pergi. "Cepat. Aku sibuk."
Zee menelan ludah. Suaranya lirih, hampir tak terdengar. "Aku... aku minta maaf."
Nunu menatapnya. Dalam.
Zee melanjutkan, lebih keras kali ini, emosinya mulai pecah. "Aku minta maaf karena tidak pernah datang mencarimu. Tidak bertanya. Tidak memperjuangkanmu. Aku bodoh. Aku pengecut. Aku biarkan diriku dijerat permainan orang tua dan ambisi orang lain. Aku hancurkan semuanya sendiri."
Matanya berkaca.
"Aku pikir aku bisa membiarkanmu pergi dan hidup dengan pilihan yang kupikir bijak. Tapi kenyataannya aku cuma takut—takut kehilangan semuanya, kecuali satu hal yang ternyata paling berharga: kamu."
Nunu masih diam.
"Aku tahu... sekarang mungkin sudah terlalu terlambat," ujar Zee sambil menunduk, tangannya gemetar. "Aku bahkan tak tahu apakah kamu sudah bersama orang lain. Aku tidak tahu apa kamu bahagia atau masih menyimpan luka."
Kali ini, mata Nunu berkedip pelan. Ada sesuatu di sorotnya, tapi dia menahannya.
"Aku hanya ingin kau tahu," lanjut Zee, "kalau aku menyesal. Setiap malam selama tiga tahun terakhir, aku menyesal. Aku menikah dan bercerai dengan seseorang yang tak pernah kusentuh. Aku... mati rasa. Karena yang aku cintai masih kamu. Selalu kamu."
Nunu mengerucutkan bibirnya.
"Zee... kamu datang ke sini untuk menyiksaku atau menyiksa dirimu sendiri?" katanya pelan. "Karena menurutku, luka itu sudah selesai. Aku sudah memilih untuk menguburnya, dan tidak menengok ke belakang lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
