Hari itu matahari bersinar malu-malu, langit sedikit mendung seolah ikut menyesuaikan suasana rumah yang tenang karena Meen sedang menjalani hari terakhir masa Rut-nya. Perth, yang baru saja selesai membersihkan ruang kerja kecilnya, mengenakan hoodie tipis berwarna biru pucat. Tangannya membawa map dokumen yang tadi pagi dia rapikan—hasil kerja kerasnya semalaman saat Meen tertidur pulas.
Bunyi bel pintu yang tidak terlalu nyaring tapi cukup mengganggu keheningan, membuatnya segera melangkah cepat ke depan. Dia tahu siapa yang datang. Hanya satu orang yang memiliki jadwal tetap setiap minggu: Mangkorn.
Perth membuka pintu perlahan, hanya sedikit, cukup untuk memperlihatkan wajahnya dan setengah tubuh mungilnya. Celah pintu dijaga sempit, seperti pagar pelindung antara dirinya dan dunia luar.
"Aku sudah mengirimkan soft copynya pada Kak Engfa," katanya langsung tanpa basa-basi. Nadanya datar dan cepat, ingin pembicaraan segera selesai. "Sudah aku jelaskan juga pada dia, dan sudah aku rubah juga berdasarkan permintaannya." Tangannya menyerahkan map dokumen ke arah luar tanpa sepenuhnya membuka pintu.
Mangkorn, dengan ransel di punggung dan gaya cueknya yang khas, menyambut dokumen itu tanpa banyak bicara. Wajahnya tampak profesional, walau sorot matanya sempat menyiratkan keheranan. "Makasih. Tiga hari lagi aku ke sini lagi," ucapnya sambil mengangguk pelan, mencoba tetap ramah walau jelas-jelas disambut dingin.
Perth mengangguk kecil. Hampir tidak terlihat. Tangannya masih menempel pada gagang pintu, siap menutupnya kapan saja.
"Ouh ya," sambung Mangkorn sembari membuka sedikit dokumen di tangannya. "Kak Engfa juga minta tolong dibuatkan PowerPoint-nya untuk projek 09. Kalau bisa slidenya clean kayak kemarin."
Perth kembali mengangguk cepat. "Iya. Nanti aku kirim soft copynya lewat email."
Semua berjalan lancar, hingga...
"Sudah, tapi—"
BRUK!
Pintu langsung tertutup dengan bunyi cukup keras sebelum Mangkorn sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dia tertegun di depan pintu yang kini tertutup rapat. Dahinya berkerut, bibirnya membentuk garis lurus, lalu...
"Sialan..." desisnya pelan, suaranya tertahan tapi cukup jelas menggambarkan perasaan. "Apa-apaan itu?!" gerutunya lagi, menggenggam dokumen di tangannya lebih erat.
Mangkorn menatap pintu beberapa detik, seolah ingin menembus dinding rumah itu dengan tatapannya. Dagu pria itu terangkat sedikit, merasa harga dirinya dijatuhkan, apalagi hanya karena ditolak masuk oleh seorang Omega.
Padahal tadi dia hanya ingin bilang, "...tapi jangan lupa kirim paling lambat dua hari sebelum aku datang." Hanya itu. Tapi belum sempat kata selesai meluncur dari bibirnya, Perth menutup pintu seakan dia wabah penyakit.
Mangkorn menghela napas keras dan memutar badan, melangkah menuruni anak tangga rumah dengan sedikit kasar. Gerak-geriknya menunjukkan ketidaksukaan, bahkan bisa dibilang—kesal bukan main.
"Untung ini bagian dari kerjaan," gumamnya sambil melangkah menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari pagar. "Kalau bukan... ugh—sudah gue geprek tuh bocah kayak terong!" Lengan kirinya menahan helm, dan tangan kanan menyambar ritsleting jaketnya dengan gerakan frustrasi.
Matanya kembali menatap rumah itu satu kali lagi sebelum dia naik ke atas motornya dan menarik napas dalam-dalam.
"Nyebelin bener..." gumamnya sambil memutar gas. Tapi anehnya, ekspresi di wajah Mangkorn tak sepenuhnya marah. Ada sesuatu yang tidak dia sadari. Sorot kesal itu punya lapisan lain, lebih dalam, lebih berbahaya: perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
