31 : It's You....

353 41 6
                                        

Meen menggeliat kecil, tangannya terjulur mencari kehangatan yang semalam begitu erat memeluknya. Namun yang dia dapati hanyalah udara dingin dan seprai kosong. Ia mengerjap pelan, lalu memanggil,

"Sayang..." suaranya serak, terdengar parau oleh sisa kantuk yang masih menggantung.

Kening Meen mengernyit ketika matanya terbuka sepenuhnya dan menyadari bahwa tempat tidur di sebelahnya sudah dingin. Dia mendongak, melirik ke arah kamar mandi. Samar-samar, terdengar suara gemericik air—bukan dari shower, tapi dari keran yang sedang mengalir.

"Jam berapa ini...?" gumamnya pelan, lalu memutar tubuh untuk melihat ke arah jam dinding.

Pukul 04.00 pagi.

Meen duduk perlahan, mengusap wajahnya dan merapikan rambut yang sedikit berantakan. Ia baru hendak bangkit dari ranjang ketika pintu kamar mandi berderit pelan, dan sosok mungil itu keluar dengan wajah kusut, rambut basah yang menempel di pipinya, dan tubuh yang tampak tidak stabil.

Perth berjalan perlahan dengan kedua tangan memegangi perut dan pinggangnya bersamaan. Wajahnya pucat pasi, seperti kehabisan darah. Keringat membasahi pelipisnya, dan matanya terlihat berkabut.

"Adek habis pup?" tanya Meen tanpa berpikir panjang, menebak dari cara jalan Perth yang aneh, seperti orang kebelet atau baru selesai dari kamar mandi dengan perut melilit.

Namun Perth menggeleng lemah. Tubuhnya lunglai seperti kapas basah yang tak mampu menopang beban.

Dia tidak menjawab pertanyaan Meen langsung. Dia hanya menatap suaminya dengan pandangan penuh rasa sakit lalu berdiri diam di tepi ranjang, kedua kakinya bergemetar. "Kak... perut adek sakit banget..." gumamnya. Suaranya nyaris tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat dada Meen seketika sesak.

Meen menatapnya tak percaya. "Sakit perut? Sakit perut karena mau pup?" tanyanya sekali lagi dengan nada tidak yakin, berharap itu hanyalah sakit biasa.

Tapi Perth kembali menggeleng, kali ini dengan gerakan kepala yang lebih kecil, dan kemudian merangkak ke atas tempat tidur. Wajahnya tampak pucat, benar-benar pucat. Bahkan bibir merah mudanya kini berubah menjadi pucat kebiruan.

"Adek berani sumpah... Sakit banget ini... Aduh, kak... perut adek sakit banget kak..." rintihnya sambil meringkuk di pelukan Meen. Tubuh mungil itu menggigil hebat, dan keringat dingin mengalir deras dari pelipis hingga dagunya. Suaranya nyaris pecah, seperti menahan tangis dan rasa nyeri yang menusuk.

Meen merasakan tubuh Perth dengan cepat. Ia meletakkan punggung tangannya ke dahi Perth, lalu meraba lehernya. Hangat. Namun bukan hangat biasa—ini demam yang datang mendadak, dan biasanya menandakan hal serius.

"Emang semalam adek makan apa?" tanya Meen cemas, tangannya tidak berhenti mengusap punggung Perth yang mulai gemetar.

Perth mencoba mengingat dengan susah payah. "Hanya... hanya makan makanan yang terhidang di meja..." katanya pelan, suaranya semakin melemah.

Meen menelan ludah, merasa dadanya makin sempit. Pikiran buruk langsung memenuhi otaknya. Apakah makanan itu sudah dicampur sesuatu? Apakah masih ada yang mencoba menyakiti Perth diam-diam? Apakah Ping kembali melancarkan serangan di balik layar?

Rintihan pelan dari Perth membuat Meen segera mengambil keputusan. Ia tak bisa hanya duduk dan menebak-nebak.

Meen berdiri secepat mungkin dan meraih pakaian yang tergeletak di kursi dekat ranjang. "Tunggu sebentar ya, kakak ambil kunci mobil," ujarnya sembari buru-buru mengenakan celana panjang dan hoodie tanpa memedulikan apakah rapi atau tidak. Tadi malam dia hanya tidur mengenakan boxer—dan sekarang, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain membawa Perth ke rumah sakit.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang