03 : Easy On Me

667 68 6
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

Suasana di Café Cat's Paw malam itu terasa begitu nyaman. Lampu-lampu gantung yang menggantung rendah memancarkan cahaya temaram keemasan, menciptakan atmosfer hangat yang kontras dengan dinginnya malam di luar sana. Meja-meja kayu berdesain vintage dipenuhi oleh pasangan-pasangan muda yang terlihat sedang menikmati waktu berkualitas mereka—ada yang saling menggenggam tangan, ada pula yang larut dalam obrolan ringan diiringi tawa pelan dan senyum malu-malu.

Meski jarum jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, pengunjung justru makin bertambah. Aroma kopi dan kue manis menguar di udara, berpadu dengan dentingan musik jazz lembut yang mengalun dari sudut ruangan. Café itu memang terkenal sebagai tempat yang cocok untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.

Di salah satu sudut terpencil, tersembunyi dari hiruk-pikuk pengunjung lain, duduk dua pria yang mencolok dengan pesona mereka. Salah satunya adalah seorang pria dewasa bertubuh tinggi tegap dengan sorot mata teduh namun mengintimidasi. Dia mengenakan kemeja hitam dengan jas yang membuat auranya makin kuat. Tak lain, dia adalah Zee Pruk Panich, pria Alpha mapan yang dikenal dingin setelah kematian istrinya.

Di hadapannya, duduk seorang lelaki muda berparas cantik yang kontras dengan maskulinitas pria di depannya. Kulitnya putih bersih, dengan rambut hitam legam yang terurai rapi. Mata beningnya sesekali menunduk, sesekali melirik ke layar ponsel, seolah mencari alasan untuk mengalihkan perhatian dari pembicaraan yang mulai membuat dadanya sesak.

Zee menatapnya dalam-dalam. Wajah lelaki muda itu terlalu manis untuk tidak diperhatikan. Dan malam ini, Zee tak mau menahan perasaannya lagi.

"Aku tertarik padamu, Nunu," ucap Zee pelan namun mantap. Suaranya dalam dan tenang, tetapi di balik itu ada kesungguhan yang tidak bisa disembunyikan. "Kamu begitu cantik dan manis. Selama ini... aku belum pernah tertarik pada siapa pun, apalagi setelah meninggalnya istriku."

Nunu mengangkat wajahnya, menatap Zee dengan alis sedikit berkerut. "Maksud Abang?" tanyanya datar, meskipun dalam hati dia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan berakhir. Ia bukan anak kecil, dan sorot mata Zee terlalu jujur untuk disalahartikan. Tapi ia memilih pura-pura tidak mengerti—mungkin untuk memberi dirinya waktu, atau sekadar menipu hatinya sendiri yang sedang berantakan.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang