Sorry for typo & kata yang hilang 🙏
❄️❄️❄️💙💙💙💙❄️❄️❄️
Flashback...
Langit mendung menggantung sejak siang, tapi Meen tak mengubah rencananya. Hari itu, dia sengaja tak membawa motor ke sekolah. Bukan karena lupa, bukan juga karena sedang ingin berjalan kaki. Dia hanya tahu satu hal—jika dia pulang dengan bus, ada kemungkinan dia bisa bertemu dengan Perth. Dan itu cukup menjadi alasannya.
Tepat saat bel pulang berbunyi, hujan turun deras disertai angin yang membawa bau tanah basah dan getar dingin yang menusuk kulit. Sebagian siswa berlarian menuju parkiran, sebagian lagi memanggil sopir atau menunggu dijemput.
Meen tidak termasuk di antara mereka.
Dia menyimpan ponselnya di saku dan melangkah cepat ke jalan kecil di samping sekolah, jalan pintas menuju halte bus. Tapi belum sampai separuh perjalanan, hujan sudah tak memberi ampun. Deras. Liar. Membasahi seragam dan tubuhnya hingga menggigil. Maka dengan sedikit berlari, dia masuk ke halaman rumah kosong di pinggir jalan, tempat orang sering berteduh ketika hujan.
Dia pikir dia sendirian. Tapi tidak.
Ada sekitar lima atau enam orang yang sudah lebih dulu berteduh di sana—dua Alpha, tiga Beta, dan satu Omega... yang langsung membuat dada Meen bergemuruh begitu tatapan matanya menemukan pemilik tubuh mungil yang bersandar resah di tiang kayu tua.
Perth.
Dia tampak kaget saat melihat Meen, mungkin juga gugup. Wajahnya pucat, matanya waspada, dan tangannya mengepal di sisi tubuh. Bahkan dari jarak beberapa meter, Meen bisa mencium aroma samar pheromone Omega-nya yang mulai menguar.
Dan Meen tahu... ini tidak baik.
Dalam hujan yang semakin deras, udara dingin justru mempercepat sinyal heat. Belum waktunya mungkin, tapi tubuh Perth tampak sedang bersiap—dan ini bisa menjadi bencana jika berada di antara para Alpha asing. Meen sempat melihat salah satu dari dua Alpha yang berteduh di sana melirik Perth dengan tatapan aneh.
Perth sendiri menyadari itu.
Wajahnya makin pucat. Dia menggigit bibir bawahnya, seolah mencoba menahan aroma pheromone-nya agar tak terlalu menyebar. Tapi dia tahu, tubuhnya tak bisa dibohongi.
Perlahan-lahan dia melangkah mundur, mencoba menjauh dari kerumunan. Tapi saat kakinya menginjak tanah basah dan hampir terpeleset, sebuah lengan kuat segera merengkuh pinggangnya dari belakang.
Perth terlonjak. Dia menoleh cepat—dan di sanalah Meen, memeluknya dari belakang. Tatapan matanya hangat, bukan memaksa, bukan mendesak, hanya... menjanjikan rasa aman yang selama ini jarang sekali Perth rasakan.
"Tenanglah..." bisik Meen di dekat telinganya, suaranya dalam, rendah, dan lembut seperti selimut di tengah dingin yang membekukan. "Aku akan menjagamu. Tidak akan aku biarkan mereka menyentuhmu."
Perth terpaku.
Dunia terasa melambat. Hujan masih deras, angin masih dingin, tapi pelukan di pinggangnya membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Entah karena rasa takut yang perlahan sirna, atau karena seseorang yang selama ini hanya dia lihat dari kejauhan kini berdiri begitu dekat... dan melindunginya.
Dia tidak berkata apa-apa. Tapi tubuhnya merespon sendiri. Bahunya yang tadi tegang perlahan mengendur. Napasnya yang tadi tersendat kini berangsur tenang. Dan saat aroma pheromone Meen—aroma Alpha dominan yang menenangkan—mulai membalut ruang kecil itu, Perth pun menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu... dan karena rasa suka yang tak bisa dia sembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
