42 : Sebuah Pertanyaan yang Tak Pernah Ditanyakan

131 15 1
                                        

Hujan turun pelan di pagi itu. Rumah sakit jiwa itu terletak agak jauh dari pusat kota, dibungkus kabut dan sunyi yang membuat waktu terasa beku. Bangunannya tua, dindingnya dipenuhi cat yang mengelupas, dan lorong-lorongnya dipenuhi suara langkah petugas yang jarang bicara.

Ping duduk di bangku panjang di halaman belakang. Tubuhnya dibalut sweater putih lusuh milik pasien, rambutnya acak-acakan dan mata sayunya menatap hujan yang menetes dari daun jambu. Ia seperti bayangan—ada, tapi nyaris tak dianggap nyata.

Sudah tiga minggu sejak ia masuk ke rumah sakit jiwa ini. Bukan karena dipaksa. Tapi karena ia tahu, dirinya sendiri adalah bahaya paling besar bagi dirinya.

Setiap malam ia dihantui mimpi-mimpi yang sama: tubuh tak bernyawa, darah, suara Meen menangis, dan Perth yang melompat dari balkon rumah mereka sendiri. Ia terbangun dengan keringat dingin, menggigil, lalu menangis dalam diam.

Tapi hari ini berbeda.

Karena hari ini, seseorang datang menemuinya.

Langkah kaki ringan menghampiri halaman. Ping mengangkat kepala pelan—dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendapati sosok itu.

Perth.

Bukan Meen. Bukan orang tuanya. Bukan bahkan Mangkorn, sahabatnya.

Tapi Perth.

Omega yang seharusnya paling membencinya.

Orang yang sudah dia sakiti, bahkan sebelum dia sempat menyentuh.

Orang yang memeluk begitu banyak luka darinya... tapi tetap datang.

"Boleh duduk?" tanya Perth lembut, menyentuh pinggiran bangku kayu.

Ping hanya bisa mengangguk, perlahan. Mulutnya terkunci. Matanya tak berkedip.

Perth duduk, mengenakan sweater abu-abu dan celana jeans sederhana. Di tangannya ada kotak kecil berisi dua botol susu dan dua potong roti isi. Ia letakkan di antara mereka.

"Bekal siang," katanya sambil tersenyum kecil. "Aku nggak tahu kamu suka rasa apa, jadi aku bawa dua rasa—vanila dan kopi."

Ping masih tak bicara. Tapi matanya mulai berkaca-kaca.

Lalu suara kecil itu keluar. Pelan. Gemetar. "Kenapa... kamu ke sini?"

Perth menatapnya. Sorot matanya tidak marah. Tidak kasihan. Tapi hangat dan tulus, seperti seseorang yang datang bukan karena dendam, tapi karena mengerti.

"Karena... aku tahu rasanya tidak punya siapa-siapa yang datang."

Ping menunduk. Bahunya berguncang.

"Dan aku juga tahu..." lanjut Perth, "...kadang kita bisa sembuh, bukan karena waktu. Tapi karena ada satu orang saja... yang tanya: 'Apa kamu bahagia hari ini?'"

Ping menangis. Suaranya tercekik. Tangan kurusnya menutupi wajah. "Aku enggak tahu... apa itu bahagia..."

Perth menggeser duduknya mendekat. Tidak menyentuh. Tapi cukup dekat untuk memberi kehangatan.

"Aku juga dulu nggak tahu... apa itu cinta, Ping," katanya. "Aku pikir cinta itu harus indah. Harus saling memiliki. Harus saling membalas."

Perth menatap langit yang mulai berubah kelabu.

"Tapi aku salah. Cinta itu... kadang menyakitkan. Kadang membuat kita hancur. Tapi yang sebenarnya cinta itu... bukan tentang siapa yang kita cintai, tapi siapa yang tetap peduli, bahkan saat kita sudah nggak pantas."

Ping mengangkat wajahnya. Matanya bengkak, merah, penuh luka yang belum sembuh.

"Aku mencintai Meen..." katanya, nyaris tak terdengar.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang