40 : Menunggu

100 14 1
                                        

Ping duduk di sudut apartemennya yang kini gelap dan lebih sunyi dari sebelumnya. Udara dingin yang menembus dari jendela retak tak lagi menusuk kulitnya—karena rasa takut jauh lebih menggigit. Ia memeluk lutut, tubuhnya masih gemetar. Bayangan Alpha wanita misterius tadi masih memenuhi pikirannya: sorot matanya, suaranya, ancamannya.

Dia mencoba menepis semua dengan satu hal—mencari perlindungan.

Tangannya dengan gemetar mengambil ponsel yang nyaris kehabisan baterai. Ia membuka daftar kontak, lalu menekan nama yang sejak dulu paling bisa diandalkan: Mike & Mika, pasangan Omega dan Alpha yang mengangkatnya sebagai anak saat dia masih remaja. Mereka yang memberinya rumah saat dunia menolaknya.

Deru nada sambung terdengar sekali... dua kali...

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan."

Ping mencoba lagi. Dua kali. Tiga kali. Hasilnya sama.

Air matanya mulai menggenang. Ia membuka aplikasi perpesanan dan mengetik:

Ping: Papa... Mama... Tolong... aku butuh bantuan. Aku takut. Seseorang datang dan mengancamku... Aku gak tahu harus ke mana...

Pesan itu terkirim, tapi hanya centang satu. Tidak ada tanda dibaca. Ia membuka profil mereka—dan hancur saat melihat satu tulisan kecil: "Anda telah diblokir."

"...Tidak..." bisiknya lirih. "Papa... Mama... kenapa..."

Dalam keputusasaan, dia mencari satu nama lagi. Force, kakak angkatnya. Kakak yang dulu keras tapi selalu melindungi. Satu-satunya orang yang pernah benar-benar bertarung membela namanya.

Ia menelpon.

Nada sambung panjang... dan akhirnya tersambung.

"Ping?" suara Force terdengar datar, namun masih hidup.

"Bang..." suara Ping lirih. "Bang, tolong aku. Aku... aku gak tahu harus ke mana. Ada yang datang, Alpha perempuan... dia... dia ngancam aku. Dia tahu semuanya, Bang. Tentang aku... tentang Meen... tentang Perth..."

Hening.

Lalu Force menjawab, "Kau pikir setelah semua yang kau lakukan, orang akan tetap melindungimu? Kami bukan tempat pembuangan dosamu, Ping."

"Aku... aku cuma takut..."

"Kau takut? Harusnya kau takut sejak hari pertama kau mencoba hancurkan hidup orang lain."

"Bang, aku adikmu..."

"Tidak," potong Force, suaranya dingin. "Kau adik dari orang yang sudah tidak aku kenali. Jangan pernah hubungi aku lagi."

Klik.

Sambungan terputus.

Ping menggigit bibirnya hingga berdarah. Napasnya tersengal. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak punya siapa pun lagi.

Dalam panik dan rasa putus asa yang menyayat, Ping hanya bisa memikirkan satu nama terakhir:

Meen.

Dia menekan tombol telepon dengan tangan gemetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Tapi tidak pernah tersambung.

Panggilanmu sedang dialihkan...

Suara mesin. Dingin. Tanpa belas kasih.

Tapi Ping tahu satu hal yang belum dicoba.

Alamat rumah Meen. Dia tahu itu. Pernah datang sekali. Dia bisa ke sana. Dia harus ke sana. Mungkin... jika dia bisa bicara langsung, Meen akan luluh. Meen akan mendengar.

Dengan satu ransel kecil, pakaian seadanya, dan tubuh yang masih menggigil, Ping turun ke jalan. Hujan belum benar-benar reda. Kendaraan sesekali melintas cepat, membasahi trotoar. Namun langkah Ping mantap. Dia menyusuri jalanan menuju rumah Meen seperti mayat hidup yang mencari kuburannya sendiri.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang