32 : Kiss Me

585 47 15
                                        

"Kak..." panggil Perth pelan. Suaranya terdengar lemah, namun cukup jelas untuk membuat Meen menoleh dari layar laptopnya.

Meen duduk di kursi dekat jendela dengan laptop terbuka di depannya. Dokumen-dokumen kerja berserakan di atas meja. Meskipun dia tidak bisa masuk kantor, kewajiban tetaplah kewajiban, dan dia mencoba mencicil sebisanya dari ruang rawat inap Perth.

Mendengar panggilan dari istrinya, Meen menoleh. "Iya, Dek?"

Perth menggigit bibirnya sebelum berkata, "Tolong bantu Adek ke kamar mandi, Kak..."

Mendengar permintaan itu, Meen segera menutup laptopnya dan bangkit dari kursi. Tanpa banyak bertanya, dia berjalan cepat ke arah ranjang Perth. Dia sudah tahu Perth pasti menahan diri cukup lama untuk tidak merepotkan.

"Ayo," ucapnya lembut.

Dengan hati-hati, Meen membungkuk dan menyelipkan satu lengan di bawah lutut Perth dan satu lagi di belakang punggungnya. Tubuh mungil itu terasa ringan dalam pelukannya, meskipun hatinya berat menyadari betapa lemah sang istri sekarang. Perlahan, dia membawa Perth ke kamar mandi yang berada di dalam ruang rawat.

Begitu sampai di ambang pintu, Perth meraih handle pintu dan berkata pelan, "Kak, tolong keluar dulu... Adek malu ganti Pampers di hadapan Kakak."

Meen mengerutkan alis. "Kakak takut nanti Adek jatuh. Biar Kakak jagain di sini."

Perth menoleh dengan ekspresi curiga. "Adek nggak akan jatuh, Kak. Sebenarnya Kakak mau jagain Adek atau mau lihat, hmm?"

Meen nyengir, tak mencoba menyangkal. "Boleh dong. Kakak kan suami Adek, jadi nggak masalah kan kalau Kakak lihat tubuh telanjang Adek."

Perth cemberut. "Jangan, Kak... Kakak pasti jijik nanti lihatnya."

Meen langsung menggeleng kuat-kuat. "Adek itu istri Kakak. Jadi nggak mungkin Kakak jijik. Kakak justru—"

"Udah, Kak. Ambilin celana pengganti buat Adek aja, celana ini udah tembus," potong Perth cepat, wajahnya sudah merah sampai ke telinga.

Meen menghela napas panjang, "Ck, ya udah deh." Dia melangkah keluar kamar mandi sambil mengomel kecil, setengah kecewa karena 'dilarang menonton.'

Perth langsung menutup pintu dan menguncinya begitu Meen pergi.

Beberapa menit kemudian Meen kembali, berdiri di depan pintu sambil menggenggam celana ganti yang bersih.

"Dek, ini celananya," seru Meen sambil mencoba membuka pintu. Tapi gagal. Handle tak bisa diputar.

Dia mengetuk pelan. "Dek? Kok dikunci?"

"Iya, tunggu bentar," balas Perth dari dalam.

Setelah beberapa detik, pintu terbuka sedikit. Perth menyambut Meen dengan wajah lelah, matanya sayu. Meen langsung tersenyum lega.

"Gak usah pakai celana, Dek. Gitu aja udah cantik kok," candanya sambil menatap kaki jenjang Perth yang hanya tertutup pakaian pasien sebatas paha.

"Apaan sih, dasar Kakak mesum!" Perth langsung menutup bagian bawah tubuhnya dengan tangan kanan, lalu cepat-cepat mencoba memakai celana. Tapi baru setengah, dia sudah kesulitan. Tangannya yang terpasang infus membuat pergerakannya terbatas, belum lagi pusing yang masih menyisa dari kejadian pagi tadi.

"Kak... bantuin Adek pakai celana," bisiknya malu-malu.

Meen mengulum senyum, lalu berjongkok di hadapan Perth dengan sabar dan hati-hati. "Kenapa sekarang Adek minta bantuan Kakak? Bukannya tadi Adek nolak?" godanya lembut.

Perth memalingkan wajahnya yang makin merah. "Tadi Adek pakai Pampers sendiri susah banget, Kak. Bikin pusing dan mual. Mungkin karena Adek membungkuk. Belum lagi infus ini, tambah nyusahin."

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang