Sorry for typo dan kata yang hilang
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
"Aku senang kakak sudah kembali!" seru Ping dengan semangat yang menguar terlalu terang untuk malam yang terlalu larut.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, namun Ping sama sekali tidak tampak lelah atau trauma seperti pengakuannya beberapa jam yang lalu. Ia tersenyum cerah, menyambut Meen seolah tak ada luka dalam hatinya, tak ada peristiwa kelam yang menimpa dirinya.
Meen berdiri di ambang pintu kamar rawat itu, diam, sorot matanya dingin seperti kutub utara. Bukan sorot hangat yang biasa Ping lihat, bukan sorot lembut seorang kakak yang selalu melindungi adiknya. Kali ini, tatapan Meen tajam seperti bilah pisau yang mengiris pelan-pelan daging mentah.
Ping, yang terbiasa dengan kelembutan Meen, sedikit terdiam, alisnya berkerut bingung. "Kakak kenapa?" tanyanya, suaranya masih mencoba terdengar manja dan khawatir. Tapi dia tahu, ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang besar.
"Kakak... kenapa lihat aku seperti itu?" lanjutnya pelan.
Meen menarik napas perlahan. Dingin. Dalam. Ia mencoba menahan gejolak api yang bergemuruh dalam dadanya. "Tidak... aku tidak apa-apa," katanya akhirnya. Tapi nadanya kering, kosong, seperti cangkang tubuh tanpa jiwa.
Ping makin curiga. Apalagi ketika dia menyadari Meen tak datang sendirian. Di belakang pria itu, empat bodyguard berdiri diam namun mengintimidasi. Tubuh-tubuh kekar dan ekspresi datar mereka membuat ruangan itu terasa sempit dan berat.
Ping menelan ludah. "Kakak... sebenarnya ada apa? Kenapa kamu membawa orang-orang itu?"
Tanpa menjawab, Meen menarik ponselnya dari saku jas. Satu sentuhan jari, dan rekaman suara terdengar memenuhi ruang itu.
Ping membeku.
"...Sebenarnya bukan istri tuan yang membayar kami... tapi Tuan Ping..."
Kalimat itu menghantam dada Ping lebih keras dari apapun. Matanya membesar, napasnya tercekat. "Tidak... tidak... kak... itu tidak benar... itu pasti jebakan dari Perth... Kak, dengar aku dulu—"
Dia meraih tangan Meen, berusaha menyentuhnya, mencari celah simpati seperti biasa.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Ping. Suaranya memekakkan telinga. Kepala Ping terlempar ke samping, rambutnya berantakan menutupi wajah pucatnya. Pipi kirinya langsung membiru, sudut bibirnya berdarah. Tangannya terangkat memegang pipinya dengan gerakan gemetar.
Dia menatap Meen dengan pandangan tak percaya.
Seumur hidupnya, tak pernah ada yang menampar dia seperti itu. Bahkan orang tuanya tak pernah membentaknya. Dia adalah anak emas, anak manja, yang selalu mendapat apa yang dia mau.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, dia ditampar oleh pria yang selama ini dia cintai. Oleh pria yang dia pikir akan selalu membelanya.
Meen berdiri di depannya dengan nafas memburu, rahang mengeras, tubuh tegap penuh amarah yang tertahan. "Tidak usah pura-pura. Akui saja semuanya sebelum aku kehilangan kesabaranku," ucapnya dingin.
"Kau tahu sendiri kan... aku mudah emosi. Dan aku tidak bisa mengontrol diriku kalau sudah marah." Sorot matanya menajam, suara Meen merendah tapi menggigit. "Aku bisa menyakitimu dan melupakan kalau kamu adalah adik kecilku yang cantik."
Ping menggigit bibirnya, menahan isak yang nyaris keluar. Air matanya turun tanpa bisa ditahan. Tapi bukan air mata penyesalan—melainkan karena kesombongannya baru saja ditampar oleh kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
Hayran KurguMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
