Meen berdiri di ambang pintu kamar sambil menyisir Perth dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tajam yang lekat—namun bukan karena amarah, melainkan kekhawatiran dan rasa... posesif. Matanya menyapu rambut hitam legam yang ditata rapi, wajah yang dirias natural namun memesona, kemeja merah satin yang membuat kulit cerah Perth semakin hidup, jas hitam dengan potongan ramping yang membingkai tubuh mungilnya, hingga celana kulot selutut yang memamerkan sepasang kaki jenjang nan putih.
Perth tampak cantik. Terlalu cantik.
Meen menghela napas panjang, lalu mendekat sambil melipat kedua lengan di dada. "Ganti celananya, sayang," ucapnya, tegas namun tetap lembut.
Perth menoleh, bingung. "Gak mau," jawabnya mantap.
Meen mengernyit. "Celananya terlalu pendek."
"Itu cuma di atas lutut sedikit, Kak Meen," sahut Perth tak mau kalah. Dia tahu arah pembicaraan Meen ke mana. "Dan lagi pula, kalau aku ganti, outfit-ku jadi gak cocok. Kamu sendiri gak mau pakai baju pink kayak yang aku sarankan. Terus kamu ngajak aku mepet banget, aku bahkan gak sempat cari baju yang serasi."
Perth menggerutu, membetulkan kerah bajunya sambil bercermin, lalu mengambil parfum kecil dan menyemprotkannya ke leher. "Kalau kamu kasih tahu dari jauh-jauh hari, aku bisa persiapan."
Meen tercekat. Sudah lama... sangat lama dia tidak mendengar Perth menggerutu seperti ini. Sejenak, dia tak menjawab apa pun. Ia hanya menatap lekat sosok mungil yang kini bicara dengan ekspresi kesal namun lucu.
Senangnya.
"Habis kakak pikir, adek gak akan mau ikut kalau kakak ajak. Makanya kakak gak kasih tahu dari jauh-jauh hari," balas Meen dengan suara pelan, nyaris seperti pengakuan yang canggung.
"Lain kali kasih tahu dari jauh-jauh hari, ya." Perth mendongak untuk menatap Meen, karena tinggi Meen hampir dua kepala darinya.
Mata Meen melembut. "Memangnya ke depannya, adek mau kakak ajak ke mana-mana, hembn?" gumamnya sambil membelai pipi Perth dengan jari telunjuk yang kasar tapi hangat.
Perth menunduk pelan, wajahnya memerah, lalu mengangguk malu-malu.
Seketika Meen mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka hampir tak ada. "Apa kakak boleh mencium adek?" bisiknya menggoda.
Tapi Perth buru-buru menggeleng, wajahnya makin merah padam. Masih ada rasa takut itu... dan Meen paham.
"Ya udah deh," Meen mengalah sambil mengangkat tangan, "kalau begitu... adek kakak gendong aja sampai ke parkiran. Boleh ya?"
Perth memutar bola matanya. "Gendong punggung aja," katanya pelan, nyaris malu sendiri.
"Yaaah, kok gendong punggung? Bridal dong, supaya kakak bisa lihat wajah adek. Kan bisa sekalian cium juga..." goda Meen sambil mulai menyelipkan tangannya ke pinggang Perth.
"Gak mau! Gendong punggung!" tegas Perth sambil mundur satu langkah.
Meen mendecak manja. "Tangannya jangan resek," keluh Perth sambil menunjuk tangan Meen yang mulai "menyusup".
"Namanya juga gendong punggung, jadi mau gimana lagi? Kalau bukan pegang pantat, terus pegang apa?"
"Pegang paha, kan bisa!"
Meen mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah. "Ya udah deh. Pegang paha," katanya sambil tersenyum geli. Dia menunduk supaya Perth bisa naik ke punggungnya. Perth langsung melingkarkan kedua lengannya ke leher Meen dan melompat ringan, lalu duduk nyaman di punggung suaminya.
Hangat. Dan aman.
Saat sampai di basement parkiran, Meen kembali bertanya, "Mau duduk sendiri atau duduk di pangkuan kakak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
