"Adek kenapa marah-marah setelah kita menikah?"
Suara Meen lirih namun terdengar jelas, nyaris seperti bisikan yang keluar dari dada yang tercekat.
Perth masih diam, wajahnya tetap memaling, menatap jendela kaca rumah sakit yang tertutup tirai tipis. Tapi ia mendengar...
Dan hatinya tergores.
"Padahal tadi siang, adek nggak marah-marah..." lanjut Meen, pelan.
"Malah bilang adek sangat bersyukur jadi pendamping hidup kakak."
Nada suaranya mulai terguncang, ada getir yang pelan-pelan menyusup dalam kerongkongannya, tapi dia tetap berbicara.
"Tapi kenapa sekarang adek marah-marah? Kakak ada salah apa... sampai adek berkata kalau kakak tidak mencintai adek?"
Meen menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara yang mulai pecah.
"Jika kakak tidak mencintai adek... lalu kenapa kakak nikahi adek, hm?"
Kalimat itu meluncur penuh perasaan, seperti racun manis yang membuat dada Perth makin berdebar tak karuan.
Meen berpura-pura.
Sengaja bersikap seolah dia tidak tahu apa-apa.
Seolah dia hanya Meen dari masa kini , pria Alpha di hadapannya ini bukan Meen dari masa depan yang membawa kenangan kelam dan penyesalan yang tak terhingga.
Dia berharap Perth akan percaya... bahwa dia bukanlah monster yang dulu menghancurkannya.
Perth masih tak menjawab.
Tapi jari-jarinya mengepal di atas selimut.
Bahunya sedikit bergetar, dan Meen melihat itu.
Di dalam dada Perth, badai berkecamuk.
Pertanyaan Meen itu menyusup dalam pikirannya dan memicu pergulatan batin yang bahkan dia sendiri tidak yakin jawabannya.
"Apa benar Meen tidak kembali?"
"Apa dia benar-benar tidak tahu?"
"Apa mungkin hanya aku seorang yang kembali ke masa lalu ini?"
Perth perlahan menarik napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang semakin sesak.
Meen memperhatikannya, mencoba membaca ekspresi wajah yang setengah tersembunyi oleh bayangan tirai dan cahaya remang kamar rumah sakit.
Dengan ragu, Meen mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh jari Perth.
"Adek..."
Namun refleks Perth lebih cepat. Dia langsung menggeser posisi duduknya, menjauh.
Sikapnya tegas, dingin.
Matanya tetap tak beralih dari jendela.
Tapi tubuhnya bicara lebih lantang daripada seribu kata: Dia tidak ingin disentuh. Tidak oleh Meen. Tidak sekarang.
"Dia itu Meen Nichaakon," batin Perth gemetar.
"Sekalipun dia bukan Meen dari kehidupan sebelumnya... tetap saja dia Meen."
"Pria yang menghancurkan aku tanpa ampun. Pria yang membuatku merasa hidup ini lebih menyakitkan daripada kematian."
Luka itu masih terbuka.
Dan darahnya masih mengalir dalam bentuk trauma yang menggerogoti jiwanya.
"Dek..."
"Pergi."
Satu kata.
Lembut namun sarat kekuatan, seperti palu godam yang menghantam dada Meen.
Suara itu tak perlu keras, cukup seperti itu saja sudah membuatnya terdiam.
"Adek kenapa?" tanya Meen dengan napas yang berat. Ia menelan ludah, mencoba menahan rasa perih yang mulai mengendap di ujung tenggorokannya. "Kalau kakak ada salah... bicaralah. Kesalahan apa yang kakak perbuat sampai adek marah seperti ini? Setidaknya biarkan kakak tahu apa yang harus kakak perbaiki..."
Namun Perth tetap diam.
Mata hitamnya mulai berkaca.
Isak tak bersuara mulai menggetarkan ujung bahunya.
Lembutnya suara Meen barusan justru membuat dadanya terasa seperti diremas.
Dia benci itu.
Benci bagaimana Meen bisa bersikap begitu manis, begitu tulus, setelah di masa lalu dia dengan tangan yang sama, dengan mulut yang sama, menyakitinya tanpa belas kasih.
"Kau tidak tahu, Meen..." batin Perth mulai retak.
"Betapa setiap malam aku berdoa untuk mati... agar terbebas dari sakit yang kau beri. Dan sekarang... kau bersikap seperti ini? Seolah tak ada apapun yang pernah terjadi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
