Sorry for typo dan kata yang hilang
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
Cahaya pagi menyelinap dari celah jendela besar yang tak pernah ditutup tirainya. Langit masih pucat, matahari belum naik sepenuhnya ketika Perth mulai menggeliat kecil dalam pelukan seseorang yang membuat seluruh sistem sarafnya langsung waspada.
Perlahan matanya terbuka. Pupilnya menyempit ketika mendapati dirinya... berada dalam pelukan Meen.
Detak jantungnya naik.
Insting pertamanya adalah mendorong tubuh Meen sejauh mungkin, namun sensasi nyaman dari kasur, kehangatan tubuh yang melingkupinya, dan pengaruh sisa obat yang membuat tubuhnya berat, membuatnya hanya mampu meringkuk lebih erat sambil menggigit bibir bawah. Sial. Dia tertidur di sofa, bagaimana dia bisa sampai ke kamar?
Dalam diam dia tahu jawabannya: Meen.
Perth menghela napas pendek, pelan-pelan menarik diri dari pelukan itu dengan hati-hati. Tapi baru saja dia menggeser lengan Meen, suara rendah dan serak menyambutnya.
"Selamat pagi, dek."
Suara itu membuat Perth membeku. Lehernya terasa tegang seketika. Namun dia tidak menjawab, tidak juga menatap pria yang baru saja menyapanya dengan nada selembut embun pagi.
"Adek tidurnya nyenyak, kakak senang." Tambah Meen lagi, duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Rambutnya sedikit acak-acakan dan matanya masih sembab karena kurang tidur.
Perth tetap tidak menjawab. Dia duduk di ujung tempat tidur, punggungnya membelakangi Meen, mencoba menjauh sebisa mungkin dari sisa kehangatan yang masih terasa di kulitnya.
"Maaf kalau tadi malam kakak gendong kamu ke kamar. Kakak cuma nggak mau kamu kedinginan tidur di sofa," ujar Meen lagi. Dia tahu Perth tidak suka disentuh, apalagi digendong. Tapi dia juga tidak sanggup membiarkan Perth tidur begitu saja di ruang tengah dengan udara malam yang bisa menusuk tulang.
Perth akhirnya bicara, "Kamu janji... tidak akan menyentuhku tanpa izinku."
"Aku tahu. Dan aku tidak melanggarnya... Adek bisa marah kalau merasa kakak sudah melampaui batas. Tapi tadi malam... kakak hanya ingin kamu tidur nyaman." Suara Meen terdengar tulus, tidak menuntut, tidak juga membela diri secara berlebihan.
Perth mengepal jemarinya. Ia tidak tahu mana yang lebih melelahkan: luka masa lalu atau perhatian Meen yang terus-menerus mengusik dinding dingin yang ia bangun.
"Jangan lakukan itu lagi." Itu saja yang mampu dia ucapkan.
"Oke..." Meen mengangguk, meski tahu Perth tidak menoleh.
Suasana kamar kembali hening, kecuali bunyi jarum jam dan desah napas mereka yang berusaha tetap tenang. Namun tak lama kemudian, keheningan itu digantikan oleh ketegangan baru. Perth mulai merasa tubuhnya... panas. Bukan karena marah. Bukan karena malu. Tapi...
Perth menggigit bibir bawahnya. Tidak. Tidak sekarang.
"Ada yang salah?" tanya Meen cepat menangkap perubahan wajah Perth.
Perth menunduk. Tangannya mulai gemetar, tubuhnya terasa aneh. Suhu di dalam tubuhnya meningkat, tekanan di dada mulai mengganggu pernapasannya. Dia tahu persis apa ini: heat.
"Sial..." bisiknya.
Meen langsung beranjak dari ranjang, meraih remote AC dan menurunkan suhu ruangan. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Napas Perth mulai berat, aroma pheromone samar mulai memenuhi udara kamar.
"Tunggu sebentar dek, kakak ambil kipas tangan dan air dingin." Meen berbicara pelan, takut membuat Perth panik.
Namun Perth menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya. "Jangan tinggalin aku sendirian!" katanya cepat, suaranya mulai terdengar seperti menangis. Ketakutan dalam dirinya lebih besar daripada rasa panas di tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
