Suasana rumah keluarga Mew dan Mai sore itu tenang, tapi bukan tenang yang nyaman, melainkan tenang yang menahan dentuman. Angin berhembus lembut di antara pepohonan mangga yang rindang di halaman belakang. Di sana, tawa Juan sesekali terdengar, berlarian dengan Forth yang sabar menemaninya bermain petak umpet kecil-kecilan.
Di ruang tamu, meja bundar dengan taplak renda putih menjadi saksi bisu hadirnya dua keluarga yang pernah tercerai oleh kesalahpahaman, ego, dan keputusan-keputusan tergesa.
Soranun dan Ben duduk berdampingan. Tangan mereka saling bertaut erat di atas pangkuan, seolah saling menguatkan dalam diam. Di hadapan mereka, Nunu duduk tenang di antara kedua orang tuanya. Mew, dengan raut wajah diplomatis, dan Mai yang seperti biasa, menyimpan seluruh isi pikirannya dalam diam yang mematikan.
Zee duduk tak jauh dari orang tuanya. Kepalanya tertunduk sejak tadi, tidak berani menatap langsung ke arah Nunu.
"Terima kasih sudah mengizinkan kami datang," Ben membuka suara, pelan namun penuh penekanan. "Kami tidak datang untuk meminta pengakuan. Kami hanya ingin... menyampaikan permohonan maaf."
Mai tak menjawab. Sorot matanya dingin menembus kulit, tapi tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Nunu duduk tegak, wajahnya tak menunjukkan riak amarah, tapi juga bukan senyum penghibur. Ia sekadar menatap lurus ke arah Ben, lalu Soranun, kemudian ke arah Zee. Tatapannya berhenti lebih lama di sana—bukan karena rindu, bukan karena benci—tetapi karena pertanyaan-pertanyaan yang dulu tak sempat dijawab, kini tak lagi penting untuk ditanyakan.
Soranun mengusap tangannya sendiri, gelisah. "Waktu itu kami... melakukan kesalahan besar. Kami menolak keluarga kalian sebelum kami benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami... tidak tahu Nunu mengandung anak Zee."
"Bukan tidak tahu," potong Mai dengan nada datar. "Kalian menolak untuk tahu."
Ben menunduk, menerima. "Ya. Kami... lebih takut kehilangan Saint dan reputasi keluarga daripada mendengarkan kebenaran."
Nunu menarik napas dalam. Matanya tetap tenang, suaranya pun pelan. "Waktu itu kami datang baik-baik. Bukan untuk meminta belas kasihan, tapi untuk memberi tahu kenyataan. Tapi kalian mengusir kami seolah kami membawa aib."
Zee akhirnya bersuara, suaranya serak. "Nunu... aku minta maaf. Aku nggak tahu kamu hamil. Aku nggak tahu kamu datang ke rumah. Aku... aku nggak tahu apa pun..."
"Aku tahu," jawab Nunu singkat. "Karena kamu gak pernah mau tahu."
Kata-kata itu menghantam Zee seperti palu. Dia menunduk lagi. Air matanya nyaris menetes, tapi ia tahan. Kali ini bukan karena malu. Tapi karena dia tahu, dia pantas merasakan itu.
"Anak itu..." Soranun berkata hati-hati. "Juan... dia... cucu kami, kan?"
Nunu menatapnya, tidak menjawab langsung. Ia hanya berkata:
"Juan adalah anakku. Dan hanya itu yang penting."
Ben terdiam. Mew memandang Nunu sejenak, lalu menatap lawan bicaranya dengan sorot yang mengunci.
"Kami tidak akan menuntut hak apa pun," ujar Ben. "Kami tidak berniat mengambil Juan atau memaksakan silsilah. Kami tahu kami tak layak... Tapi kami ingin—setidaknya—dia tahu bahwa dia juga punya akar, punya darah yang mengalir dari kami."
Mai angkat bicara, tenang tapi tajam. "Dan apa yang akan kalian lakukan dengan darah itu? Menariknya ke istana dan menjadikannya pewaris nama keluarga yang kalian buang dulu?"
Ben menggeleng cepat. "Tidak, tidak... Kami tidak berniat begitu..."
"Kami hanya ingin memperbaiki," ujar Soranun lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
Fiksi PenggemarMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
