09 : Take You To The Hell - 2

397 48 36
                                        

Sorry for typo & kata yang hilang 🙏

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

"Lalu bagaimana dengan pria BAJINGAN ini?" bentak sang pria dengan suara bergetar karena amarah dan ketakutan. Tangannya masih berlumur darah, bukan dari dirinya, tapi dari tubuh-tubuh bejat yang sekarang sedang terikat di kursi besi berkarat—keringat dingin membasahi pelipisnya, matanya menatap liar pada bawahannya yang masih setia menunggu perintah.

Satu-satunya hal yang kini ada di pikirannya adalah: jika Perth sampai mati, maka mereka semua ikut terkubur bersama mayatnya.

Dia tahu, seberapa pun buruknya hubungan Meen dan Perth waktu itu, Meen tetap mencintai istrinya. Meen tetap akan melindungi Perth. Tapi semuanya berubah sejak Ping masuk ke dalam rumah tangga mereka—sejak racun itu menyusup perlahan dan memporak-porandakan segalanya.

Ponselnya berada dalam genggaman erat, dengan loudspeaker menyala.

"BUNUH DENGAN SANGAT MENYAKITKAN!!!" Teriak Meen dari seberang telepon. Suara itu tak hanya memecah udara—tetapi menusuk sampai ke sumsum tulang belakang siapa pun yang mendengarnya. Amarah yang sangat tidak biasa, seperti pecahnya bendungan penuh dendam dan cinta yang terkubur dalam luka.

"Kalian dengar sendiri kan apa kata tuan kita? Jadi cepat lakukan!" perintah pria itu lantang, tidak menyisakan ruang untuk penolakan. Dia tatap satu-satu wajah bejat yang kini mulai pucat pasi mendengar keputusan akhir hidup mereka.

Salah satu dari mereka, dalam keadaan mata lebam dan bibir pecah, mencoba berbicara dengan tergesa dan panik, "T-tidak! Tolong... jangan bunuh kami! Kami hanya menjalankan perintah! Kami bahkan jujur soal apa yang dilakukan istri tuanmu pada Ping—!" Padahal keadaan Perth sudah seperti ini dan mereka masih saja berniat melanjutkan sandiwaranya. Sungguh luar biasa Ping mencari orang untuk menjalankan perintahnya.

"Tutup mulutmu." Nada sang pria dingin. Tatapannya seperti menguliti daging dari tulang. "Kalian memperkosa orang yang tidak berdaya. Tidak ada ampun untuk itu. Tidak hari ini. Tidak pernah."

Tapi suara Meen kembali mengisi ruangan—dingin, tajam, dan mematikan.

"Apapun yang terjadi, jangan sampai membuat dia mati dengan mudah. Siksa dia dengan sadis. Hancurkan tubuh mereka perlahan. Ambil semua organ yang masih bisa disumbangkan saat mereka masih hidup..."

Hening. Bahkan suara nafas pun terdengar jelas.

"...Kalian tahu cara membunuh dengan menyakitkan tanpa perlu aku ajarkan, bukan?"

Laki-laki itu menoleh pelan ke bawahannya yang berdiri membisu. Wajah mereka menegang, tapi tak ada yang protes. Mereka semua tahu... perintah Meen adalah hukum mati.

"Paham?"

"Paham, Ketua!" jawab mereka lantang. Teriakan serempak itu membuat salah satu pelaku kejahatan itu menangis histeris.

"Tidak! TOLONG! Aku tidak mau mati! Aku—aku punya anak! Istri! Ibu—!!"

Tangisannya bukan menyentuh simpati siapa pun di ruangan itu. Justru semakin membuat jijik. Karena nyawa yang mereka rendahkan tadi adalah anak seseorang, istri seseorang, dan dunia bagi seseorang.

Laki-laki itu mendekat ke Perth yang sudah tidak sadarkan diri di lantai. Tubuhnya pucat, nyaris biru. Dia menggendong tubuh kecil itu dengan penuh kehati-hatian, seolah takut memecahkan sesuatu yang rapuh sekali.

Jika tadi Perth kejang-kejang maka sekarang dia tidak sadarkan diri dengan denyut yang semakin melemah.

Seluruh tubuhnya penuh luka, tidak ada bagian yang tidak terluka. Semuanya terluka bahkan ada luka sayatan pada lengan dan pahanya. Daun telinga Perth bahkan berdarah akibat gigitan yang kuat. Selain itu ada jejak melepuh karena benda panas. Itu bekas rokok, sepertinya tubuh Perth mereka jadikan sebagai wadah abu rokok selain mereka gunakan sebagai pemuas nafsu mereka.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang