38 : Sebelum Segalanya Dimulai...

115 16 1
                                        

Hujan belum reda. Suara rinainya menimpa kaca jendela apartemen murah itu seperti jarum-jarum tajam yang memantul satu-satu ke dasar jiwa Ping yang kosong. Udara sore hari menusuk tulang, namun Ping tak beranjak dari kursi kusam dekat jendela. Wajahnya muram, pipinya cekung, dan matanya sayu penuh rencana busuk yang belum jadi kenyataan.

Kepalanya berat. Hari ini pun nihil hasil. Seolah dunia tak lagi menyediakan ruang untuk dirinya. Tidak ada simpati, tidak ada keadilan. Dan dia muak.

Hingga tiba-tiba, lampu apartemennya yang seharusnya remang kini berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu mati.

Ping berdiri kaget. Detak jantungnya langsung melonjak. "Sial... pemadaman lagi?" gumamnya, mencoba menenangkan diri.

Namun sebelum ia bisa melangkah ke sakelar, suara sepatu hak tinggi mengetuk lantai koridor apartemennya terdengar dari balik pintu. Tidak cepat. Tidak lambat. Tapi berat dan stabil. Seolah sosok yang datang tahu benar ke mana ia akan pergi.

Tok... Tok... Tok...

Ketukan itu menggema, pelan tapi mencabik ketenangan. Ping menahan napas.

Tok... Tok...

Jantungnya menggila.

Dan saat dia meraih pintu, belum sempat membuka kunci, daun pintu itu terbuka sendiri. Bukan didobrak. Bukan dijebol.

Tapi terbuka perlahan dengan angin malam yang membawa aroma asing: musk kuat khas Alpha... bercampur dengan dingin besi dan hujan. Bukan aroma biasa. Aroma ini tidak menggoda. Tidak juga menenangkan. Tapi menindas. Menekan. Seolah dunia tunduk pada pemiliknya.

Sosok wanita masuk ke dalam tanpa permisi.

Alpha.

Tinggi, berambut panjang hitam legam yang diikat ketat ke belakang, mengenakan jas kulit hitam yang basah sebagian karena hujan. Wajahnya cantik, tapi dingin. Bukan dingin seperti salju, tapi seperti es yang mematikan jika disentuh.

Matanya, sepasang iris tajam sewarna batu safir tua kini menyapu ruangan dan langsung tertuju ke arah Ping. Dia berdiri di sana, diam, seperti bayangan kematian.

Ping terpaku. Napasnya tercekat. Tubuhnya mematung. "K-Kamu siapa?"

Alpha wanita itu menatapnya tajam.

"Ping."

Suara itu rendah. Tidak keras, tapi menggema. Ada nada ancaman yang tidak butuh penekanan.

"Kau terlalu banyak membuat onar," lanjutnya.

"Apa... maksudmu?" Ping memundurkan diri setapak, punggungnya menempel ke dinding.

"Kau mencari Alpha untuk menandai Omega yang sudah bersuami. Kau menyusun ulang dosa lama. Kau hendak menghancurkan rumah tangga Meen dan Perth."

Ping membeku. Wajahnya pucat. "M-Meen... K-Kau siapa?"

Alpha itu melangkah mendekat, tumit sepatunya kembali berdetak pelan di atas lantai.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi cukup tahu satu hal saja, Ping..."

Kini wajah mereka hanya terpisah sejengkal.

"Kalau kau berani menyentuh hidup mereka sekali lagi—kalau kau berani mendekat ke lingkaran kecil mereka, bahkan sekadar dengan niat di kepalamu yang busuk itu—aku akan seret kau ke tempat yang bahkan dunia pun lupa pernah ada."

Ping mencoba tetap berdiri, tapi kakinya lemas. "K-Kau siapa... Kau siapa mereka bagimu?!"

Alpha wanita itu menunduk sedikit, wajahnya makin dekat. Napasnya tenang. Tapi sorot matanya menyala seperti pisau yang haus darah.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang