Noeul berdiri di panggung kecil yang disediakan di tengah rooftop. Sementara itu, para tamu undangan sebagian besar mulai duduk rapi, sebagian lainnya sudah diarahkan untuk segera meninggalkan lokasi oleh petugas. Acara pemotongan kue akan segera dimulai, waktu menunjukkan pukul 9 malam.
Langkah kaki terdengar cepat menuju area utama. "Apa aku telat?" Suara Nunu menyela keramaian yang mulai terkendali. Ia datang bersama Pawat, sama-sama mengenakan busana rapi dan makeup on-point, khas selebriti yang baru saja keluar dari lokasi syuting.
Noeul menoleh sambil tersenyum kecil, "Tapi kalau lima menit lagi, kamu pasti telat," jawabnya santai namun tetap bersahabat.
Wajah Noeul kemudian tersedot pada layar LED besar yang terpasang di sisi kanan panggung. Matanya membulat saat melihat gambar dirinya muncul bersama Boss dalam berbagai momen kebersamaan mereka: pertama kali bertemu, syuting bareng, momen liburan ke pantai, dan detik-detik manis lain yang dirangkum begitu apik dalam bentuk video montage.
Suara gitar akustik mulai terdengar. Boss kini berdiri di atas panggung, menyanyikan lagu cinta dengan nada lembut, selaras dengan video yang diputar. Suaranya tenang, penuh penghayatan. Semua mata tertuju padanya. Wajah Noeul memerah, matanya mulai berkaca-kaca.
Ini... adalah salah satu hadiah ulang tahun paling tulus yang pernah dia terima.
Lagu pun selesai. Lampu panggung sedikit meredup, memberi isyarat bahwa momen selanjutnya adalah perayaan utama.
Tiba-tiba, dari seluruh penjuru ruangan terdengar nyanyian ulang tahun yang mengalun bersamaan. Para tamu, baik yang duduk maupun yang berdiri, ikut menyanyikan lagu "Saeng-il Chughahamnida", versi lokal yang telah diterjemahkan:
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun Noeul tercinta.
Selamat ulang tahun.
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun!
Aku sangat mencintaimu di bumi, di alam semesta ini.
Lebih cantik dari bunga, lebih terang dari bulan.
Lebih berani dari singa, selamat ulang tahun untukmu.
Selamat ulang tahun untukmu, selamat ulang tahun untukmu.
Sahabatku yang seperti bunga, jagalah hidupmu, semoga panjang umur.
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun!
Aku sangat mencintaimu di bumi, di alam semesta ini.
Lebih cantik dari bunga, lebih terang dari bulan.
Lebih berani dari singa, selamat ulang tahun untukmu.
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun!
Sahabatku yang seperti pedang, selalu mengingatkan hidupmu.
Sahabatku yang seperti bintang, menyinari kehidupan.
Selamat!
Selamat ulang tahun!
Setiap bait lagu itu menusuk lembut ke dalam dada Noeul. Tangannya menutup mulutnya, berusaha menahan isakan haru yang mulai menyeruak. Air matanya jatuh, bukan karena sedih—melainkan karena kebahagiaan yang begitu meluap.
Setelah nyanyian selesai, semua tamu bertepuk tangan meriah. Tepuk tangan itu membahana di atas rooftop, bersatu dengan cahaya lampu, dan hembusan angin malam yang lembut.
Noeul meniup lilin-lilin kecil di atas kue ulang tahunnya—kue tiga tingkat, berwarna putih krem dengan dekorasi bunga emas dan pita merah marun. Tepuk tangan semakin meriah setelahnya.
Sementara itu, di sisi yang lebih teduh dari rooftop, Zee berjalan cepat menghampiri Nunu. Wajahnya terlihat tidak senang.
"Kenapa kamu bisa datang bersama dia?" Nada suaranya tajam, matanya menatap Pawat di samping Nunu. "Kalian janjian?"
Nunu mengangkat alis, mendengus pelan. Ia malas meladeni emosi Zee. Tapi karena ini acara ulang tahun orang, dia tetap memilih menjawab. "Tidak. Kebetulan hari ini kami punya jadwal syuting iklan bareng. Karena dia juga diundang oleh Noeul, jadi sekalian aja pergi bareng." Nada Nunu ringan, tapi sikapnya jelas: tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
