36 : Kemeja Merah

155 20 2
                                        

Pagi hari itu terasa begitu hangat dan tenang di rumah mereka yang minimalis modern, tersembunyi di ujung kompleks eksklusif. Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, menari-nari di dinding dan selimut yang masih berantakan. Aroma tubuh Meen masih tersisa di udara, menyatu dengan aroma lembut minyak esensial dari diffuser yang selalu Perth nyalakan sebelum tidur.

Perth terbangun lebih dulu, seperti biasa. Dia membuka matanya pelan, lalu membalik tubuhnya, menatap wajah suaminya yang masih tertidur. Nafas Meen berat dan teratur, rambutnya sedikit berantakan namun justru terlihat semakin tampan. Perth tersenyum lembut. Ia menjulurkan tangan, mengusap pelan garis rahang Meen, lalu menyusupkan jemarinya ke helaian rambut suaminya. "Kak... bangun, nanti telat," bisiknya pelan, lalu mengecup ujung hidung Meen.

Meen bergumam rendah dan membuka mata perlahan, dan senyuman langsung mengembang di bibirnya ketika ia melihat wajah istrinya dalam jarak sedekat itu. "Selamat pagi, sayang..." Suaranya serak, dalam, penuh rasa kantuk tapi juga kasih yang melimpah.

"Selamat pagi juga, kakak gantengku." Perth merona lalu mencium bibir Meen sekilas, ringan dan cepat seperti bulu angsa. Tapi Meen langsung menarik pinggang Perth yang hanya mengenakan piyama tipis, membuat tubuh mungil itu terseret ke dadanya.

"Satu lagi," bisik Meen, lalu mencium istrinya dengan lembut namun dalam. Bibir mereka saling mengecap pelan, perlahan berubah menjadi lebih menuntut, lebih menggoda. Tapi Perth menahan dada Meen, tersipu, lalu menggeleng pelan.

"Nanti kakak telat..." bisiknya manja.

Meen terkekeh. "Satu menit gak bikin kakak dipecat, sayang," godanya, tapi tetap melepaskan Perth dengan berat hati.

Selesai mandi, Meen keluar dengan rambut masih sedikit basah dan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang. Perth yang sedang mempersiapkan pakaian kerja Meen langsung membeku melihat suaminya keluar seperti itu. "Ka-kak, pakai baju dulu... jangan berkeliaran setengah telanjang," omelnya malu-malu, tapi matanya justru menatap suaminya dari atas ke bawah.

Meen menyadarinya dan sengaja mendekat, membuat Perth mundur dengan wajah merah padam. "Adek ngelihatin kakak?" tanya Meen menggoda, tangan kirinya menahan dagu Perth agar menatapnya.

"Bukan ngelihatin... cuma... eh, kakak harus siap kerja kan?" elaknya, dan buru-buru menyodorkan kemeja dan dasi untuk Meen.

Meen tertawa pelan lalu mencium pipi Perth sebelum mengenakan pakaian. Perth membantu Meen merapikan kerah kemejanya, lalu mulai memasangkan dasi. Tangannya kecil dan hangat, dan setiap sentuhannya membuat Meen ingin menariknya lagi ke pelukannya.

Tapi Meen menahan diri, hanya memandangi istrinya dengan pandangan yang dalam dan tenang. "Adek manis banget kalau serius begini," ucapnya pelan.

Perth berhenti mengikat dasi, lalu memandangi Meen. "Kakak jangan godain adek terus..." lirihnya.

"Tapi kakak suka liat ekspresi adek yang malu-malu manja begitu..."

Wajah Perth semakin merah, dia menunduk, lalu akhirnya menyandarkan kepalanya ke dada Meen. "Kakak jangan lama-lama kerjanya ya... Adek gak kuat kalau terlalu lama gak ketemu kakak."

Meen mengusap rambut Perth, mencium ubun-ubunnya. "Kakak juga gak suka ninggalin adek sendirian di rumah. Tapi rapat kali ini harus kakak datangi langsung."

Perth mengangguk ringan, lalu memeluk erat tubuh Meen. "Adek tunggu kakak pulang. Tapi janji ya, pulangnya cepat."

"Pasti." Meen mencium kening Perth lalu menatap wajah istrinya dalam-dalam.

Perth mengangkat kepala, menatap Meen kembali, lalu mengangkat kedua tangannya menyentuh wajah Meen. Dengan keberanian yang baru ia kumpulkan, dia mendekat dan mencium Meen. Tapi ciumannya kali ini bukan ciuman biasa. Bibirnya menyusup, penuh rindu, penuh cinta. Ciuman yang lembut namun perlahan menjadi sensual. Ciuman ala perpisahan singkat, tapi ingin meninggalkan kesan yang mendalam.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang