Sorry for typo dan kata yang hilang
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
Hujan telah lama berhenti. Petir tak lagi menyambar langit, namun angin masih meniupkan sisa-sisa dingin malam. Di dalam kamar yang remang, hanya ada suara napas Perth yang tenang, tertidur dengan wajah damai di sisi ranjang.
Meen masih terjaga.
Duduk di lantai, bersandar pada tepi ranjang, ia menatap sosok mungil istrinya yang tak menyadari bahwa selama ini ia adalah pusat dunia seorang pria yang dulunya terlalu bangga untuk mengakui rasa sayangnya.
"Lihat kamu sekarang, dek..."
Pikir Meen dalam diam.
"Tidur di kasur kita. Tapi bukan karena kau mempercayaiku. Bukan karena kau mencintaiku. Kau hanya... takut."
Matanya tak berkedip memandangi Perth yang meringkuk, selimut naik sampai ke lehernya. Masih memeluk boneka bintang lautnya, seolah itu satu-satunya hal di dunia ini yang bisa memberi rasa aman.
Meen tahu itu bukan dirinya.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah lagi.
"Dulu aku pikir aku kuat. Aku pikir aku bisa melindungi siapa saja, apalagi kamu. Tapi nyatanya... aku malah jadi monster di hidupmu."
Tangannya mengepal di atas lututnya. Luka gigitan Perth di lengannya masih belum kering. Tapi dibanding luka itu... yang lebih perih adalah sorot ketakutan di mata Perth setiap kali ia mendekat.
Setiap kali ia mencoba menyentuh atau bicara pelan.
Perth akan diam. Mematung.
Kadang gemetar.
Kadang menangis diam-diam.
"Aku ingin menyentuhmu, tapi tidak bisa. Aku ingin bilang aku merindukanmu, tapi lidahku kelu. Aku ingin memelukmu sampai tidur... tapi itu hanya bisa kulakukan saat kamu tertidur lebih dulu."
Meen mengusap wajahnya pelan.
Tahan. Jangan menangis.
Alpha tidak boleh menangis.
Itu... omong kosong.
"Aku tahu aku tidak pantas. Aku tahu, bahkan kalau kamu meludah ke wajahku pun aku pantas diam. Tapi, dek... aku mencintaimu. Bukan seperti dulu, bukan dengan gengsi dan tuntutan. Tapi dengan... rasa takut. Rasa cemas. Obsesi."
Ia tersenyum getir.
"Lucu ya... aku dulunya angkuh. Kamu dulunya ceria. Sekarang kamu takut. Dan aku? Aku hanya pria tolol yang berharap satu hal terlalu besar: semoga kamu... sembuh. Dan... semoga suatu hari nanti, kamu menatapku tanpa takut."
Ia melirik luka di lengannya. Luka yang Perth tolong rawat diam-diam sore tadi.
Perth tidak bicara.
Tidak menatapnya.
Tapi tetap mengganti perban itu dengan hati-hati.
Tangan mungilnya gemetar. Tapi tetap melakukannya.
Itu cukup bagi Meen.
Lebih dari cukup.
"Malam ini kamu tidur di ranjangku untuk pertama kalinya, setelah sekian lama kita hidup dalam dua dunia. Aku tahu, itu karena ketakutanmu pada hujan. Bukan karena kamu ingin dekat denganku. Tapi... biarlah."
Matanya mulai berat, tapi ia tak beranjak.
"Kalau suatu hari nanti kamu memutuskan pergi... aku akan tetap diam. Tapi kalau suatu hari kamu memilih bertahan... aku akan menjadi rumah yang paling sunyi, paling sabar, paling hangat... untuk kamu tinggali."
Ia menyenderkan kepala ke sisi ranjang.
Mengatur napasnya.
Mencuri waktu untuk sekadar merasakan kehadiran Perth, tanpa rasa bersalah menyentuhnya.
"Selamat tidur, sayang..."
"Kalau besok kamu bangun dan memilih diam seperti biasa, aku tidak apa-apa. Aku akan tetap di sini, seperti malam ini. Menunggu. Menjaga. Mencintai—meski kamu tidak pernah kembali mencintaiku."
⏩️⏩️
Sudah sembilan belas hari ini Perth bekerja dari rumah.
Dia tidak pernah bilang secara langsung, tapi dari cara dia bersikap, Meen tahu kalau Perth belum siap kembali ke kantor. Dan karena Meen sendiri jarang keluar rumah belakangan ini—karena memilih bekerja dari rumah demi menemani dan merawat Perth—maka tanpa banyak pertimbangan, Perth mulai menetap di ruang kerja Meen. Bukan karena dia ingin berbagi ruangan, tapi lebih karena dia tidak mau sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
