Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komentarnya, terima kasih 🙏🥰
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
"Apa kamu tahu kalau putra bungsumu sekarang tinggal bersama putramu di sebuah pulau terpencil?"
Suara itu terdengar tenang, nyaris datar, seolah sekadar menyampaikan kabar ringan tanpa beban. Namun bagi lelaki paruh baya di seberang sambungan telepon, kalimat itu terdengar seperti bom waktu. Ia mengernyit, matanya menyipit penuh kewaspadaan.
"Apa maksudmu?" tanyanya curiga. Ada ketegangan halus dalam suaranya, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik nada bicara yang formal dan tegas.
Lelaki di ujung sana tidak langsung menjawab. Ia menatap gelombang laut malam dari atas geladak kapal pesiar mewah yang bergoyang lembut mengikuti arus. Angin laut menerpa rambutnya yang sedikit berantakan, tapi wajahnya justru tenang, bahkan sesekali tersenyum kecil.
Beberapa hari terakhir ini, dia telah mengirimkan informasi penting secara anonim kepada pria itu—informasi mengenai putra bungsunya. Atau lebih tepatnya, mengenai putra angkatnya yang selama ini diperlakukan bak darah daging sendiri.
"Tidak!" seru pria itu setelah beberapa detik hening. Tangannya sudah memberi isyarat pada bawahannya untuk segera melacak nomor telepon asing tersebut.
Setahunya, putra sulungnya, yang telah dewasa dan bertanggung jawab, tengah mengajak adiknya kuliah ke luar negeri. Mereka seharusnya berada di Eropa, menjalani kehidupan akademik yang tenang dan terarah. Bukan bersembunyi di sebuah pulau.
"Terserah kau percaya atau tidak," ucap suara di telepon dengan tenang. "Tapi aku hanya ingin menyampaikan satu pesan: jika kau masih ingin putra sulungmu hidup, segera minta dia untuk melepaskan putra bungsumu. Segera."
Nada itu terdengar ringan, namun ada sesuatu yang mengendap—peringatan yang samar tapi mengandung bahaya.
"Kau—kurang ajar!" Bentakan itu keluar secara otomatis. Namun sebelum umpatan itu sempat mengalir lebih panjang, suara di telepon kembali berbicara, memotongnya dengan ketenangan dingin.
"Putra bungsumu menyuap beberapa pelayan untuk melakukan sesuatu pada mobil putramu. Kalau kau tidak percaya, silakan kirim orang-orangmu untuk memata-matai mereka. Lihat dengan matamu sendiri. Jangan tertipu oleh wajah polos itu. Di depanmu, dia mungkin tampak seperti malaikat tanpa sayap—tapi pada kenyataannya, dia adalah iblis dengan topeng manusia."
Kalimat-kalimat itu diucapkan tanpa terburu-buru, dengan nada yang begitu pasti seakan dia tahu pasti akhir dari cerita ini. Dan memang begitu adanya—karena dia juga mengalami regresi. Dialah penyebab dari semua ini. Dialah orang yang membawa Meen dan Perth kembali ke masa lalu. Semua ini adalah bagian dari rencananya.
"Begitu putra pertamamu mati," lanjutnya, "putra bungsumu akan terbebas dari kekangan. Dan ketika itu terjadi, dia akan mulai mengejar cinta pertamanya. Meen Nichaakon. Dia akan melakukan apa pun untuk memilikinya kembali—apa pun, bahkan jika itu berarti membunuh orang-orang di sekeliling Meen. Kau tahu siapa yang akan mati selanjutnya setelah putra pertamamu? Kau. Karena lambat laun kau akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan saat itu tiba... dia akan menghabisimu."
Sambungan telepon terputus begitu saja, tanpa salam perpisahan. Tanpa kesempatan untuk membalas.
Ponsel sekali pakai itu dilempar begitu saja ke laut, tenggelam bersama kebenaran yang mulai mengapung di permukaan. Lelaki itu menarik napas panjang, menatap langit malam yang penuh bintang. Hening. Dingin. Tapi juga menenangkan. Suara langkah mendekat membuatnya menoleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
