Sorry for typo & kata yang hilang 🙏
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
Tengah malam...
Suasana kamar redup. Tirai jendela bergoyang pelan ditiup angin dari celah AC, menciptakan bayangan samar di dinding. Perth terlelap di pelukan Meen, tubuh mungilnya mengerucut di dalam dekapan hangat yang beberapa jam lalu begitu ia tolak.
Namun kedamaian itu tak bertahan lama.
Pelan... tubuh Perth mulai gelisah. Napasnya memburu. Dahinya berkerut. Jemarinya mencengkeram seprai. Suara lirih, nyaris tak terdengar, lolos dari bibirnya yang pucat.
"Jangan... jangan... aku mohon..."
Meen terbangun. Matanya segera terbuka penuh saat dia rasakan tubuh Perth berkeringat dingin dalam pelukannya.
"Dek?" Meen membisik pelan, mencoba membangunkan Perth dengan sentuhan ringan di pipinya. Tapi tubuh itu justru makin gelisah. Mata Perth masih terpejam, tapi dia mulai memukul udara, mulutnya berseru lirih, panik, dalam dunia mimpi yang menyesakkan.
"Jangan sentuh aku!"
"Lepas... aku gak mau... jangan..."
"Tolong... aku mohon... jangan hancurkan aku lagi..."
Jantung Meen seperti diremas.
Ia langsung duduk, menarik Perth ke pangkuannya, memeluknya erat tanpa menekan. "Perth... sayang... ini kakak, ini kakak... kamu mimpi buruk..." bisiknya terus-menerus, berulang-ulang seperti mantra yang putus asa.
Perth terbangun dengan teriakan. Napasnya terengah, wajahnya basah oleh keringat dan air mata. Bola matanya liar mencari arah.
Dan pandangannya langsung bertemu dengan mata Meen.
Butuh waktu beberapa detik untuk Perth benar-benar sadar. Matanya membelalak, tubuhnya kaku, lalu... perlahan, ia meringkuk.
Tak ada jeritan, tak ada lagi perlawanan. Hanya tubuh yang gemetar diam seperti anak kecil yang tersesat di hutan lebat.
Meen menarik selimut, lalu membungkus Perth dengan sabar. "Maaf... maaf... kakak tidak bisa melindungi kamu di masa itu..." bisik Meen lirih, suaranya pecah.
Perth tak menjawab. Tapi bahunya mulai rileks. Matanya memejam lagi, dan kali ini... dia mengizinkan dirinya tetap berada di dalam pelukan Meen.
Dia masih terluka. Sangat. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu...
dia membiarkan seseorang menenangkan mimpinya.
Dan Meen...
menjaganya hingga fajar.
———...———
Meen terperanjat kaget.
Begitu dia membuka matanya, sisi ranjang sebelahnya kosong. Dingin. Tak ada selimut yang tersingkap, seolah Perth sudah lama bangun dan meninggalkan tempat tidur mereka. Meen langsung terduduk, panik menyergap dadanya dalam sekejap.
"Perth?" gumamnya, lalu segera berdiri.
Jantungnya berdebar tak karuan. Dada sesak oleh rasa takut yang familiar. Ketakutan terbesar Meen adalah kehilangan Perth untuk kedua kalinya. Lebih-lebih jika kehilangan itu disebabkan oleh tindakan Perth sendiri.
Meen membuka pintu kamar mandi—kosong. Tak ada suara air, tak ada jejak uap panas dari shower.
Dia segera keluar dari kamar, nyaris tergesa, seperti orang kesetanan.
Langkah kakinya menyusuri lorong sempit apartemen. Napasnya memburu. Otaknya langsung menebak yang paling buruk—Perth ke dapur, mungkin... mencari pisau, sesuatu yang lupa Meen simpan kemarin malam setelah memasak.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
