Sorry for typo & kata yang hilang 🙏
Serta jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komentarnya 😇
Terima kasih🥰
❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️
"Tangan kakak gak liar, Dek. Ini emang tempat tangan kakak istirahat," kilah Meen tanpa dosa. Suaranya tenang seakan tak merasa bersalah, padahal tangannya baru saja dipukul pelan oleh Perth.
Perth mendelik, namun Meen hanya membalas dengan nyengir seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Lalu, pria itu kembali makan dengan santai, seolah tidak ada yang terjadi. Sesekali ia nimbrung dalam obrolan santai keluarga, meski di tengah-tengahnya ia sempat kembali mencuri-curi waktu untuk menyentuh Perth dengan cara-cara yang membuat pipi sang istri merona.
Meen tampaknya sudah kebal dengan tatapan mematikan Perth. Berkali-kali Perth memelototinya, tapi bukannya berhenti, Meen malah makin gemas dan makin aktif menggoda. Suasana makan malam itu pun penuh dengan campuran canggung, lucu, dan geli. Apalagi melihat wajah Perth yang tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
Di sisi lain, Ping hanya bisa duduk diam, membeku di kursinya. Ia mengatupkan rahangnya erat, menahan gelombang cemburu yang terus berkecamuk hebat di dalam dadanya. Sorot matanya tak pernah lepas dari dua sosok di ujung meja: Meen dan Perth. Setiap sentuhan, tatapan, bahkan gurauan mereka, terasa seperti pisau tumpul yang terus menggores egonya.
Dan itu membuat Ping makin yakin—dia harus bertindak. Harus ada yang berubah. Harus ada yang hancur.
Setelah makanan berat selesai, para pelayan mulai membersihkan meja dan mengganti hidangan dengan makanan penutup.
Puding susu buah dan fla coklat pun tersaji dengan tampilan cantik di tengah meja. Aroma manisnya menyebar ke seluruh ruangan.
Juan, yang duduk manis di samping Forth, mengangkat kepala dengan mata berbinar-binar.
"Bukan di citu, papa... tapi di cini," ucapnya polos sambil mengambil sebutir nasi di pipi Nunu dan langsung memasukkannya ke mulut. Dia mengingat betul nasihat Forth: makanan, walau hanya sebutir beras, tak boleh dibuang.
"Terima kasih sayangnya papa," ucap Nunu sambil mencium pipi si kecil.
"Cama-cama, papa," balas Juan, lalu memperbaiki posisi duduknya sambil menunggu piring puding yang sedang disiapkan Forth.
"Banyakin fla coklatnya, Daddy," pintanya sambil menggoyang-goyangkan kaki kecilnya.
Forth tersenyum gemas, menuangkan fla dalam jumlah banyak di atas puding si kecil.
Namun, begitu suapan pertama menyentuh lidah Force, pria itu langsung menyemburkannya dengan cepat ke tisu.
"Ya Tuhan, puding jenis apa ini?! Kenapa asin banget?!" serunya. Wajahnya berubah tegang, mulutnya refleks ditutup dengan tisu.
Tak butuh waktu lama, komentar lain mulai bermunculan.
"Ini juga pedas banget..." seru Mew dengan alis terangkat tinggi. Ia meneguk air putih dengan tergesa-gesa. Bahkan Engfa yang hanya mencolek sedikit sudah langsung mengernyit.
Dan puncaknya...
"Pedas, Daddy... Juan kepedasan..." rengek bocah kecil itu. Matanya berkaca-kaca, tangannya menepuk-nepuk bibir mungilnya. Saking pedasnya fla coklat itu, air matanya mulai menetes.
"Ya ampun! Siapa yang main-main sama makanan?! Ini bukan lucu, ini bahaya!" bentak Mew, nadanya naik dua oktaf. Wajahnya sudah memerah karena campuran marah dan rasa terbakar di lidah.
Ping terpaku. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Puding yang ia buat penuh niat—yang harusnya menciptakan drama bagi Perth—malah berbalik arah. Bahkan bocah tak bersalah seperti Juan jadi korban.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
