Langit mulai menggelap ketika mereka kembali ke apartemen. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan, Perth tidak melepaskan genggaman tangan Meen. Bahkan ketika tangan mereka mulai basah oleh keringat dan jari-jarinya lelah karena menggenggam terlalu erat, Perth tetap tidak mau melepaskan. Seakan jika dia melepaskannya, Meen akan hilang lagi.
Meen melirik Perth sekilas. Senyum kecil merekah di bibirnya, penuh kelembutan. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya mempererat genggamannya dan mengusap punggung tangan Perth dengan ibu jarinya, pelan dan penuh makna. Tak ada percakapan panjang di antara mereka, hanya keheningan yang tenang dan menenangkan.
Setibanya di apartemen, Meen lebih dulu membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan. Perth menerimanya tanpa ragu. Mereka berjalan beriringan menuju lift, masih dengan tangan tergenggam erat. Tak peduli jika ada kamera CCTV, atau jika Max sempat melihat mereka—Perth tidak lagi merasa perlu menyembunyikan perasaannya. Tidak kali ini.
Begitu pintu lift tertutup, Meen menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap Perth yang berdiri di sebelahnya, tubuh mereka hampir bersentuhan. Pantulan mereka di dinding logam lift seperti menggambarkan dua orang yang saling mengandalkan satu sama lain untuk tetap berdiri.
Perth menoleh ke arah Meen. Tidak ada kata. Hanya tatapan—panjang dan dalam. Tangannya mulai menggantung erat di jari Meen, lalu berpindah menggenggam penuh. Meen merespons dengan membelai punggung tangan itu, kemudian membawanya ke bibirnya dan menciumnya ringan.
Perth menunduk. Wajahnya memerah. Tapi dia tidak menarik tangannya.
Lift berbunyi. Pintu terbuka. Mereka melangkah ke luar—masih berpegangan tangan.
Begitu mereka masuk ke dalam unit apartemen, Meen hendak melepaskan genggaman mereka untuk menyalakan lampu, tapi tangan Perth menggenggam lebih erat.
"Jangan lepasin dulu," lirih Perth. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat dada Meen bergemuruh.
Meen menoleh, melihat Perth yang menatapnya dengan mata sendu. Lalu tanpa berkata apa pun, Meen kembali merapat, menyalakan lampu dengan tangan kiri tanpa melepaskan genggaman mereka.
Cahaya lembut menyinari ruangan, dan Meen akhirnya menarik Perth ke dalam pelukannya—erat, tanpa jeda. Tubuh mereka kini benar-benar bersentuhan. Dada Meen bersandar pada tubuh mungil Perth yang sedikit menunduk, wajahnya terkubur di lekukan bahu Meen.
"Aku takut," bisik Perth.
"Aku tahu," jawab Meen, menautkan dagunya di atas kepala Perth. "Tapi kakak di sini. Untuk terus meyakinkan adek... setiap hari."
Perth mengangguk dalam pelukan itu. Dia menengadah perlahan, dan mata mereka kembali bertemu. Meen memandang bibir Perth sejenak, lalu menunduk sedikit, mencium dahinya dengan lembut. Ciuman yang tidak tergesa, tapi penuh rasa. Hanya satu detik, tapi cukup menghangatkan.
"Kakak... jangan tidur jauh, ya," bisik Perth, kali ini dengan suara lebih kecil dari sebelumnya, namun penuh permintaan yang tak bisa ditolak.
"Tidak akan jauh. Kakak akan tidur di sebelahmu. Selalu."
Tanpa banyak bicara lagi, Perth menarik Meen menuju kamar mereka. Tidak buru-buru. Tidak terburu nafsu. Tapi dalam tiap langkah mereka, terasa ketegangan yang menggantung. Ada sesuatu yang belum sepenuhnya selesai—sesuatu yang akan dimulai malam ini.
Di dalam kamar, Meen mengganti bajunya menjadi T-shirt tipis dan celana pendek rumah. Perth hanya menatap, tak bergeming di sisi ranjang. Dia sendiri masih memakai baju pink soft yang Meen cocokkan tadi pagi. Lucu sekali, pikir Meen, bagaimana baju itu sekarang tampak kusut karena tangisan dan peluk-pelukan mereka sepanjang hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
