Hujan belum benar-benar berhenti sejak kemarin. Rintiknya masih menyisakan tetes-tetes kecil di sepanjang daun jendela rumah sakit, menciptakan suara lembut yang menggema samar di lorong-lorong steril. Bau antiseptik menusuk lembut, menyatu dengan udara dingin yang menguar dari sistem pendingin udara tua.
Perth berdiri di depan pintu kamar 307 dengan tangan membawa kantong kertas berisi makanan hangat yang ia siapkan sendiri sejak pagi. Di dalamnya ada bubur ayam tanpa sambal dan teh hangat dalam termos kecil. Bukan makanan mewah. Bukan bentuk kasih sayang. Hanya bentuk kesopanan... dan mungkin, kemanusiaan dasar.
Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk.
Tiga ketukan. Tidak keras. Tidak lembut juga.
Beberapa detik kemudian, suara lemah dari dalam menjawab. "Masuk..."
Perth membuka pintu pelan.
Dan di sana, di ranjang yang bersandar pada jendela, duduklah Ping. Pucat. Rambut acak-acakan. Matanya sembab. Dan selimut menutupi setengah tubuhnya.
Begitu melihat Perth, pria itu terdiam. Tak percaya. Bahkan ketakutan sempat melintas di matanya.
"Aku enggak bawa siapa-siapa," ucap Perth lebih dulu, menutup pintu di belakangnya. Suaranya tenang, dingin, namun tidak mengandung kebencian yang membara. Lebih seperti... kelelahan emosional yang sudah terlalu dalam.
Ping masih tak bicara.
Perth melangkah masuk, meletakkan kantong kertas di meja kecil dekat tempat tidur. "Aku cuma... bawa makanan. Enggak banyak. Kamu belum boleh makan makanan berat kan, katanya?"
Ping menunduk. Tangannya mencengkeram ujung selimut.
Perth duduk di kursi pengunjung. Membuka termos. Mengambil sendok. Mengaduk bubur dengan perlahan, seolah itu bisa menenangkan hatinya sendiri. Lalu ia menyodorkan semangkuk bubur itu ke arah Ping.
"Kalau kamu masih bisa makan sendiri, makan. Aku enggak bakal suapin kamu."
Ping mendongak perlahan. "Kenapa kamu ke sini...?"
"Karena kamu masih hidup." Jawaban itu meluncur datar. "Dan aku manusia. Bukan monster yang membiarkan seseorang mati kelaparan di rumah sakit."
Ping menggigit bibir. Dia tidak tahu harus marah, merasa terhina, atau terharu. Emosi di dadanya terlalu kusut.
"Aku nggak butuh simpati kamu, Perth."
"Bagus. Karena aku juga nggak bawa simpati." Perth menyandarkan punggung. "Aku datang bukan buat memaafkan. Bukan buat mengenang masa lalu. Dan pasti bukan buat nostalgia. Aku cuma mau pastikan kamu sadar, bangun, dan bisa makan."
Ping tertawa pelan. Tawa getir. "Kau membenciku segitu dalamnya ya?"
Perth menatap lurus ke arah Ping. Tidak berkedip.
"Bukan kamu yang ini," katanya akhirnya. "Tapi kamu yang dulu. Yang pakai wajah dan suara yang sama... tapi bukan orang yang sama."
Ping mengerutkan dahi. "Maksudmu..."
Perth mengangkat tangan. "Nggak usah. Aku enggak datang buat diskusi. Dan aku juga enggak peduli kalau kamu bisa nebak sesuatu. Kalau kamu cukup pintar... kamu pasti bisa menyambung titiknya sendiri."
Ping terdiam lama.
Perth berdiri, lalu mengeluarkan satu plastik kecil dari kantongnya dan meletakkannya di samping mangkuk bubur. "Itu garam bawaan rumah. Biar rasa buburnya nggak hambar. Aku tahu kamu benci makanan rumah sakit."
"...Kau masih ingat hal kecil seperti itu?"
Perth menatap Ping sejenak, lalu mengangkat bahu. "Sayangnya, ya. Sayangnya otakku masih menyimpan terlalu banyak tentang kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
