24 : Aku Akan Selalu Di Sisimu

333 42 16
                                        


Malam Hari – Rumah Baru Meen & Perth

Hujan telah berhenti sejak sore. Udara masih lembab, tapi langit malam tampak bersih, seolah menyambut awal baru bagi penghuni rumah hitam elegan yang terletak di tengah kompleks eksklusif itu.

Lampu-lampu gantung temaram menyinari ruang makan luas bernuansa gold-black klasik. Di atas meja bundar berlapis linen putih yang kontras dengan interior ruangan, tersaji hidangan buatan Meen—steak wagyu, sup jamur krim, salad segar dan wine non-alkohol kesukaan Perth.

Perth mengenakan sweater tipis berwarna krem yang lembut membalut tubuhnya. Wajahnya segar, rambutnya sedikit dikepang ke samping oleh Meen tadi sebelum tamu mereka tiba.

"Dokter pasti gak nyangka ya kita undang makan malam." Perth tertawa kecil saat menyambut kedatangan dokter Yai.

Dokter Yai tersenyum hangat sambil menyerahkan oleh-oleh—teh herbal dan sebotol madu asli. "Kalau sampai kamu yang ngundang langsung, tandanya kamu udah benar-benar pulih... atau paling tidak, jauh lebih kuat dari sebelumnya." Matanya menyiratkan ketulusan, meski tetap menyelidik.

"Rumahnya... wow. Atmosfernya pekat, tapi terasa... sangat intimate." komentar Yai sembari melirik interior ruangan. "Cocok untuk pasangan posesif seperti kalian."

Perth dan Meen saling melirik lalu tersenyum kecil.

"Dokter mau lihat kamar kami?" Perth menawarkan, setengah bergurau.

Yai menahan tawa. "Mmm... kalau belum ada jejak-jejak dosa, boleh." Ujarnya sambil duduk, membuat Perth tersipu, Meen terkekeh.

Mereka mulai makan malam dengan tenang. Meen sesekali mengambilkan makanan ke piring Perth, memperhatikan dengan detail apakah makanan cukup empuk, cukup hangat, cukup lembut.

"Dulu kamu makannya harus sambil menangis, sekarang bisa sambil tersenyum. Ini kemajuan yang sangat besar, Perth." Puji Yai dengan nada hati-hati.

Perth menunduk sejenak, lalu mengangguk. "Kalau bukan karena kakak..." Ia menoleh ke Meen, "...aku mungkin gak akan pernah punya rumah lagi. Bukan rumah secara fisik, tapi... rumah yang bisa membuat aku merasa aman. Pulang."

Meen menggenggam tangan Perth di bawah meja, mengusap punggung tangannya dengan lembut.

Yai mengangguk pelan. "Meen juga berubah. Dulu kamu terlalu terobsesi untuk memiliki, sekarang kamu belajar bagaimana menjaga."

"Aku gak akan pernah cukup minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padanya di masa lalu, Dok..." Suara Meen pelan, penuh penyesalan.

"Tapi kamu menebusnya... dan masih terus menebusnya. Itu yang terpenting." jawab Yai bijak, sebelum menyeruput minumannya.

Perth hanya diam. Tapi matanya menatap Meen lama, seolah berkata: "Terus seperti ini. Jangan pernah berubah. Jangan pernah pergi."

Usai makan malam, mereka bertiga berpindah ke ruang duduk kecil di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang. Suara gemericik air dari pancuran mungil di taman menenangkan suasana.

"Kalau kalian benar-benar ingin mulai dari awal," ujar Yai, "maka kalian harus berhenti memusuhi masa lalu. Bukan berarti melupakan, tapi menerima bahwa itu bagian dari kalian berdua. Penerimaan adalah bentuk penyembuhan tertinggi."

Meen menatap Perth. "Adek sudah mau mencoba itu, 'kan?"

Perth mengangguk. "Aku gak janji akan selalu kuat. Tapi aku janji akan selalu mencoba."

"Itu cukup." jawab Yai. "Dan ingat, rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Tapi saksi. Apapun yang terjadi di sini, adalah catatan bagi hidup kalian berikutnya."

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang