27 : Sandiwara

311 35 15
                                        

Langkah-langkah kecil Nunu mengayun perlahan melewati koridor panjang menuju halaman belakang rumah. Gaun merah marunnya bergoyang anggun mengikuti gerakan tubuhnya. Begitu sampai di pintu kaca besar yang membatasi ruang dalam dan halaman belakang, Nunu spontan berhenti, menatap lekat pada pemandangan yang membentang di hadapannya.

Matanya membulat, penuh keterkejutan dan kekaguman.

Halaman belakang rumah yang biasanya hanya digunakan untuk acara keluarga santai, kini telah bertransformasi menjadi sebuah taman malam penuh keajaiban. Di langit yang mulai gelap, lampu hias kecil berkelap-kelip seperti bintang jatuh yang menggantung di atas kepala mereka. Jejeran lilin merah di sepanjang jalur taman menciptakan suasana romantis yang lembut dan hangat. Taburan kelopak mawar merah membentang seperti karpet menuju meja makan utama yang ditata mewah di tengah taman. Di atas kolam renang kecil, perahu mungil mengapung dengan lilin merah yang menyala tenang—seolah ikut merayakan kepulangan tuan putri mereka.

Sebuah spanduk besar yang digantung dekat gazebo bertuliskan "Welcome Home", dihiasi pita emas dan hiasan balon merah serta emas—dua warna favorit Nunu yang sengaja dipilih untuk menyambutnya. Tak jauh dari sana, sekelompok musisi memainkan lagu-lagu syahdu akustik. Suara gitar dan violin mengalun lembut menyatu dengan malam, membungkus seluruh suasana menjadi satu kenangan tak terlupakan.

Seketika, hati Nunu menghangat.

Dia pikir ini hanya akan menjadi pesta kecil, semacam kumpul keluarga biasa dengan makanan sederhana. Tapi ternyata ini lebih dari yang dia bayangkan—lebih dari sekadar sambutan. Ini adalah rumah. Ini adalah cinta yang ditunjukkan lewat detail kecil yang menyentuh.

Langkahnya kembali mengayun, melewati beberapa tamu yang mulai berdatangan dan bersalaman. Dia melihat Juan sedang bermain bola kecil dengan Forth di sudut halaman, keduanya tertawa lepas tanpa beban. Pemandangan itu menenangkan hatinya. Juan tampak bahagia, dan itu cukup untuk membuat dunia Nunu ikut tenang.

Tatapannya mencari kedua orang tuanya, dan begitu menemukannya, Nunu segera berjalan cepat. Mai dan Mew terlihat tengah bercakap santai dengan Mike dan Mika—orang tua Force dan Ping. Meski senyumnya tetap anggun, dari kejauhan Nunu bisa menangkap sedikit ketegangan pada tubuh Mike.

Nunu langsung memeluk mamanya dari belakang, merapatkan wajahnya di bahu wanita yang dia rindukan setiap hari. "Mama, Papa... Terima kasih banyak atas pestanya. Baby suka sekali," ucapnya penuh rasa haru.

Mai tersenyum hangat, mengusap kepala putrinya penuh kasih. "Sama-sama, sayang. Ini semua mama siapkan khusus untuk kamu."

"Tadi mamamu sempat khawatir kalau baby enggak suka dekorasi pesta malam ini." Ujar Mew sembari mengangkat gelas sampanye ke udara.

Nunu terkekeh pelan, "Justru ini lebih dari yang baby harapkan. Mama memang paling tahu cara bikin baby merasa disayang."

Sementara itu, Mike yang sejak tadi memperhatikan diam-diam, menimpali pelan, "Ngomong-ngomong, tadi putra bungsuku gak bikin ulah kan?"

Nada suaranya ringan, tapi siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan tanpa makna. Sejak mendapatkan telepon dari seseorang yang tak dikenal, Mike dan Mika mulai mencurigai ada rencana jahat dari Ping. Terlebih mereka berhasil mengendus bukti kalau Ping menyewa orang untuk mencelakai Force.

Mew menggeleng, tetap memaksakan senyum tenang. "Ping itu anak baik. Sama seperti si bungsu kesayangan kami," ujarnya, berusaha tetap positif thinking. Baginya, semua anak punya peluang untuk berubah.

Mike dan Mika saling pandang, lalu tersenyum diplomatis. Keduanya memilih diam, tak ingin menyinggung suasana malam yang penuh sukacita ini. Mereka tahu, kebenaran akan muncul pada waktunya.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang