35 Nightmare

166 25 4
                                        

Langit sore menyambut mereka dengan warna jingga yang hangat saat mobil Meen berbelok masuk ke pelataran rumah yang begitu mereka rindukan. Rumah bercat putih dengan sentuhan krem dan coklat muda itu berdiri megah namun bersahaja. Rumah yang Meen beli diam-diam sebelum menikahi Perth, rumah yang ia bangun untuk menjadi istana mereka berdua. Sebuah tempat aman, tempat pulang, tempat menyembuhkan.

"Akhirnya pulang..." gumam Perth lirih, jari-jarinya meremas lembut jari Meen yang menggenggam erat tangannya di tengah-tengah tuas rem tangan.

Meen menoleh, bibirnya mengulas senyum tenang. "Ya, akhirnya. Rumah kita."

Mereka keluar dari mobil dengan langkah pelan. Meen berjalan mendampingi Perth yang masih harus berhati-hati usai rawat inap. Tangannya terulur otomatis merangkul pinggang sang omega, menjaganya seolah apa pun yang menyentuh Perth akan hancur bila tidak dalam pengawasannya.

Begitu pintu rumah terbuka, aroma khas kayu manis dan bunga lavender dari diffuser otomatis menyambut mereka. Semua tetap sama. Ruang tamu dengan sofa abu-abu lembut, rak penuh buku dan album foto, dan bingkai-bingkai kecil berisi potret mereka dari berbagai momen selama tiga tahun lebih pernikahan semuanya menenangkan.

Perth menatap sekeliling dengan mata berbinar. "Aku rindu semuanya. Rindu aroma ruangan ini. Rindu suara lantai marmernya."

"Rindu kamar kita?" bisik Meen dengan nada goda, menggoda di telinga Perth hingga tubuh mungil itu menggeliat pelan.

Perth mengangguk, wajahnya memerah. "Rindu kakak di kamar itu," sahutnya lirih.

Meen menahan napas sejenak, lalu tertawa pelan. "Kita ke atas. Kakak mau kamu istirahat dulu."

Namun Perth menahan lengan suaminya. "Boleh gak... kalau sebelum tidur, kita mandi dulu... bareng?"

Sorot mata Meen berubah. Gelap dan tajam, tapi penuh rasa. Ia tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, lalu menggandeng tangan Perth menaiki tangga ke kamar mereka yang berada di lantai dua.

Begitu pintu kamar terbuka, aroma linen bersih dan kelembutan menyambut mereka. Kamar yang didominasi warna putih dan biru muda itu masih seperti biasa. Bersih. Hangat. Tenang.

Meen membuka lemari, mengambil handuk lembut untuk Perth dan dirinya, lalu menarik Perth ke dalam kamar mandi. Cermin besar memantulkan bayangan mereka berdua, kontras antara tubuh tinggi dan kokoh milik Meen dan postur mungil Perth yang terlihat semakin rapuh namun memesona.

Air hangat mulai mengalir dari pancuran.

Meen berlutut di hadapan Perth. "Boleh kakak bantu?" bisiknya sambil meraih ujung pakaian rumah sakit yang masih dikenakan Perth.

Perth mengangguk pelan, wajahnya menunduk malu. Tapi tak ada penolakan. Tak ada ketakutan.

Satu per satu kancing baju dilepas Meen dengan kesabaran yang mencintai. Jemarinya menyentuh kulit Perth bukan dengan gairah memburu, melainkan kelembutan penuh hormat, penuh kerinduan. Saat tubuh Perth tersisa hanya kulit dan hangat, Meen ikut melepas bajunya sendiri. Lalu mereka masuk bersama ke bawah pancuran.

Air hangat jatuh di atas kepala mereka seperti hujan penyembuhan. Meen mengusap rambut Perth dengan jari-jari lembutnya, lalu meratakan sabun ke punggung dan dada pasangannya. Sentuhan yang dulu membuat Perth ketakutan kini membuatnya memejamkan mata dan mendesah lega.

"Kakak sabar banget..." gumam Perth sambil menyandarkan dahinya ke dada Meen.

"Kakak bisa sabar seumur hidup, asal kamu tetap di sini." Meen mencium puncak kepala istrinya. "Kalau kamu belum siap, gak apa-apa. Kakak gak akan pernah maksa."

Perth mendongak, air menyusuri sisi wajahnya seperti tetesan air mata. Tapi bukan tangis. Itu ketenangan.

"Adek siap... asal kakak pelan-pelan. Adek mau... lebih dekat lagi sama kakak." Suaranya lirih namun tegas.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang