44 : Pelukku, Rumahmu

150 15 1
                                        

Sinar matahari mulai condong ke barat, menandakan hari hampir memasuki sore. Perth duduk di sofa panjang, mengenakan kaos tipis milik Meen yang sedikit kebesaran di tubuh mungilnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit basah karena baru saja mencuci wajah. Di tangannya, segelas teh hangat sudah setengah habis.

Sementara Meen duduk di lantai, bersandar di kaki Perth sambil menekuk lutut, matanya fokus pada laptop di meja rendah. Di balik tubuh tenang itu, Meen selalu menyisihkan sebagian kesadarannya hanya untuk memperhatikan aroma feromon pasangan Omeganya.

Dan saat itu datang—samar, lembut, manis—seperti wangi bunga yang mekar tiba-tiba di antara kabut pagi.

Meen mengangkat wajahnya perlahan. Hidungnya mengendus nyaris tanpa sadar, dan pupil matanya membesar tipis. Pheromone itu... aroma manis khas Omega yang mulai memasuki fase heat. Masih sangat awal, tapi jelas sekali: tubuh Perth sedang memanggil pasangannya.

"Perth..." Suara Meen rendah, nyaris berbisik.

"Hm?" Perth menunduk sedikit, matanya masih jernih dan polos. Tapi pipinya mulai memerah, entah karena suhu tubuh atau perasaan asing yang perlahan merambat di antara lapisan kulit dan kesadarannya.

"Kamu ngerasa... hangat?" tanya Meen lembut, meletakkan laptop ke samping.

Perth menggigit bibir. Matanya mulai gelisah, seperti menahan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum benar-benar mengerti. "Iya... dadaku sesak... dan... aku ngerasa leherku gatal, kak..."

Meen berdiri pelan, lalu duduk di samping Perth. Tangannya bergerak membelai tengkuk lembut itu, dan benar saja, kulit di sana mulai sedikit memanas.

"Perth, ini... kayaknya heat kamu mulai."

Deg.

Perth terdiam. Dia memejamkan mata, mencoba meredam desiran tak dikenal yang mulai tumbuh di dalam tubuhnya. Sesuatu yang membuat tubuhnya gelisah, jantungnya berdetak lebih cepat, dan pikirannya terasa kabur.

"A-aku gak tahu harus gimana, kak..." lirihnya, gemetar.

Meen menarik tubuh Perth ke dalam pelukannya, memposisikan tubuh Omega kecil itu di pangkuannya. Ia menyentuh pipi Perth dengan penuh hati-hati. "Gak apa-apa. Kamu gak perlu takut. Kita akan lalui ini sama-sama, ya?"

Perth mengangguk pelan, bersandar di dada bidang Meen. Hatinya berdebar, tapi bukan karena takut—melainkan karena tubuhnya mulai merasa sangat peka terhadap kehadiran Alpha di dekatnya. Dia bisa mencium dengan jelas aroma khas Meen—hangat, dominan, dan sangat... memabukkan.

"Kak..." Suaranya pelan, seperti tercekik.

Meen memeluknya lebih erat, membiarkan tubuh mereka menyatu dalam dekapan panjang yang penuh kasih. "Iya, sayang?"

"Tubuhku... bergetar semua. Aku... aku pengen kamu deket..."

Meen mengecup pucuk kepala Perth. "Kakak di sini. Gak akan pergi. Kamu mau kakak bantu stabilkan pheromone kamu?"

Perth mengangguk cepat, wajahnya memerah. Meski malu, tubuhnya lebih jujur. Peluh mulai membasahi pelipisnya, napasnya sedikit berat, dan tangannya menggenggam erat lengan Meen.

Meen menuntun Perth ke kamar, membiarkan Omega-nya duduk di atas tempat tidur sambil ia membuka jendela agar udara segar bisa masuk. Aroma heat yang mulai menguar terasa manis dan menggoda, tapi Meen tetap tenang. Dia tahu bagaimana menghadapi ini dengan penuh cinta dan pengendalian.

Perth duduk bersila, kepalanya tertunduk, tangan mencengkeram kaos di dadanya. Tubuhnya gemetar. Aroma Alpha Meen membuatnya ingin mendekat. Pheromone dalam tubuhnya meminta untuk diperhatikan, untuk dipenuhi, untuk dilindungi.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang