01 : Side To Side

820 61 9
                                        

Begitu penglihatan Perth menangkap sosok seorang pria berdiri di dekatnya, tubuhnya langsung tersentak.

PRANGK!
Suara nyaring terdengar seiring tiang infus terguling keras ke lantai, setelah Perth menarik paksa jarum infus dari tangannya. Darah menetes dari luka kecil yang menganga, tapi Omega itu tak peduli. Tubuhnya bereaksi jauh lebih cepat daripada pikirannya.

"ARGHHHHHHHHHH!"
Teriaknya memekakkan telinga. Wajahnya memucat, matanya terbuka lebar, dan tanpa menunggu penjelasan dari siapa pun, Perth bangkit dari ranjang seakan baru terbangun dari mimpi buruk yang sayangnya adalah kenyataan hidupnya.

Jantungnya berdetak kencang. Nafasnya memburu. Tangannya meraih apa pun—bantal, tempat tisu, bahkan remote dan semua dilemparkannya membabi buta ke arah pria yang ia lihat tadi.

"PERGI!!! JANGAN DEKAT-DEKAT! ARGHHH!"

Panik. Ketakutan. Teror.
Itulah yang menguasai dirinya sekarang.

Perawat perempuan yang tadinya terpaku kini tersadar, tapi Perth lebih dulu bergerak. Tubuh kecilnya yang gemetar berlari cepat ke sudut ruangan, menyangkanya satu-satunya tempat aman karena dia pikir pintu keluar terhalang oleh perawat.

"PERGI!!! JANGAN!!!"

Teriakannya kini menjadi raungan pilu, mengiris sunyi di ruang rawat yang sebelumnya hening.

Dokter yang mendekat dengan pelan untuk menenangkan justru membuat Perth makin histeris. Omega itu meringkuk ketakutan, memeluk lututnya, punggungnya menempel ke dinding, tubuhnya menggigil hebat. Matanya liar, penuh waspada, mencurigai semua yang bergerak.

"Tolong jangan... jangan lagi... jangan dekat-dekat..."

Tangisnya pecah. Parau dan menyayat.

Melihat situasi yang tak terkendali, perawat segera menekan tombol darurat di dinding dan menghubungi unit perawat pria untuk membantu penanganan medis.

Beberapa menit kemudian, suara langkah cepat terdengar bergantian. Pintu ruangan terbuka dan beberapa perawat pria memasuki ruangan dengan cepat, membawa peralatan darurat dan sarung tangan lateks. Seorang dokter ikut masuk, memberikan aba-aba kepada tim yang langsung bergerak untuk mengamankan Perth yang masih melawan meskipun tubuhnya mulai melemah karena syok.

Di luar ruangan...

Langkah kaki Meen terhenti.
Hatinya menjerit, napasnya tercekat.

Matanya langsung menatap ke arah suara teriakan yang tak asing di telinganya—dan yang ia lihat adalah beberapa perawat masuk ke kamar rawat Perth dengan tergesa.

"Tidak... Tidak... Bukan dari kamar Perth, bukan suara dia... bukan suara dia..."—

Tapi semua harapan hancur ketika dia melihat dokter masuk dengan wajah panik ke kamar yang sama.

Dadanya sesak. Pandangannya kabur. Meen memegang dinding, terhuyung.

"Tidak mungkin... jangan bilang... Perth... kamu juga kembali? Sama sepertiku?"
Monolognya penuh rasa tidak percaya.
"Tuhan... sebenarnya takdir apa yang Kau berikan padaku? Apa yang kau tak ingin tuk memperbaiki apapun? Kenapa semua ini terulang?"

Air matanya mulai tergenang, membasahi bulu matanya yang kini bergetar hebat. Dadanya seperti diremas dari dalam—sakit, getir, dan menyedihkan.

Teriakan dari dalam ruangan semakin menggila.
Suara tangisan. Suara benda pecah. Suara permintaan tolong.

Meen mencoba mendekat, namun tertahan oleh salah satu staf medis yang sedang menjaga pintu.

"Anda siapa?" tanya dokter dengan suara datar namun tegas, mencoba menjaga profesionalisme di tengah kekacauan.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang