13 : Here's Your Perfect

399 47 21
                                        

Sorry for typo dan kata yang hilang

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

"Aku senang kamu sudah bisa memeluk suamimu. Kalau begitu... apa kalian sudah tidur satu ranjang?"

Pertanyaan Yai yang disampaikan dengan nada lembut dan penuh kehati-hatian langsung membuat tubuh Perth menegang. Dia tak segera menjawab. Tubuh mungilnya masih meringkuk di sofa dengan boneka binatangnya yang tak pernah lepas dari pelukannya.

Perth perlahan menggeleng pelan.
Dia tak berani menatap Yai, seolah pertanyaan itu membangkitkan sesuatu yang belum siap dia sentuh.

"Kami memang sekamar..." ujarnya dengan suara kecil. "Tapi kami... tidur pisah ranjang."

Yai mengangguk dengan bijak, tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi terkejut atau kecewa. Ia tahu bahwa luka sebesar itu tak bisa disembuhkan hanya dalam hitungan bulan, bahkan tahun pun belum tentu cukup.

"Kenapa?" tanyanya lembut, seolah tidak menuntut jawaban, hanya menawarkan ruang untuk berbicara. "Bukankah kamu tahu sendiri betapa suamimu..."

"Na-nanti... nanti aku coba." potong Perth buru-buru, seolah tak sanggup membiarkan kalimat itu selesai. Nada suaranya terdengar gugup, namun ada semacam keteguhan yang mulai tumbuh di balik kegugupan itu. Dia sangat ingin sembuh. Sangat ingin bisa membiarkan dirinya percaya dan merasa aman lagi di dalam pelukan orang yang dia cintai, meski bekas luka itu masih membara di bawah kulitnya.

Yai tersenyum lembut dan anggukan kecil terbit dari wajah ramahnya. Dalam hatinya, ia mengagumi kekuatan Perth yang tidak semua orang miliki.
Ia juga salut pada Meen, Alpha yang selama ini dikenal impulsif dan dominan namun kini sanggup menahan diri dan bersabar, seperti yang dulu ia minta pada Meen: jika benar kau mencintainya, buktikan itu dengan kendali, bukan dengan kuasa.

"Aku dengar tiga hari yang lalu kalian pergi ke mal... buat beli laptop. Apa itu benar?" tanya Yai mengalihkan topik dengan sengaja agar suasana tidak terlalu tegang.

Perth mengangguk cepat. Bonekanya kini didekap lebih erat.

"Ya... kami ke sana. Hanya berdua," katanya lirih. "Karena aku pengen punya laptop baru, supaya bisa belajar desain lagi."

"Lalu... apa saja yang kalian lakukan selain beli laptop?" Yai terus menjaga nada bicara yang lembut dan netral, tidak ingin membuat Perth merasa seperti sedang diinterogasi.

Perth terlihat ragu sejenak. Kedua jari telunjuknya bertemu dan saling menyentuh pelan—gestur khasnya ketika merasa gelisah. 👉👈
Dia menunduk, lalu berkata dengan suara pelan, "Tidak ada... kami hanya beli laptop."

Yai mengernyit samar. Raut wajah Perth menyiratkan ada sesuatu yang belum sepenuhnya dia katakan.

"Ta-tapi..." lanjut Perth, matanya tetap tak berani menatap Yai. "Di sana... ada sedikit kejadian tak terduga. Dan dia... dia menjagaku dengan sangat baik. Dia melindungiku seperti janjinya dulu..."

Kali ini Yai diam, memberi ruang bagi Perth untuk melanjutkan.

"Apa menurutmu tidak apa-apa... kalau aku mencoba untuk mempercayai dia?" Suara itu pelan, nyaris seperti bisikan. Seolah-olah Perth takut harapannya sendiri akan menyakitinya.

Yai sedikit memiringkan kepala, mencoba membaca arah batin Perth yang masih diliputi kabut trauma. Ia tahu benar, pertanyaan itu bukan hanya tentang kepercayaan—tapi tentang perjuangan bertahan hidup.

"Maksudmu... kamu ingin tahu, apa Meen pantas diberi kesempatan lagi?" tanya Yai dengan nada hati-hati.

Perth mengangguk. Lalu ia mengangkat wajahnya sedikit.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang