"Adek yakin mau bantu mama masak? Yakin gak takut ketemu dengan orang lain tanpa kakak temani, hembn?" tanya Meen dengan suara lembut penuh pertimbangan, maniknya menatap wajah istrinya yang tampak sedang menimbang-nimbang keputusan.
Perth diam. Matanya menunduk, bibir bawah tergigit pelan, sebuah kebiasaan kecilnya saat ia merasa ragu. Pertanyaan Meen bukan tanpa alasan. Trauma masa lalunya belum benar-benar pulih, dan setiap interaksi dengan orang lain—apalagi di lingkungan yang belum sepenuhnya terasa aman bisa memicu ketakutan atau kepanikan yang hebat. Meen tahu itu.
"Gak usah dipaksain jika adek gak bisa. Adek di kamar aja istirahat, nanti biar kakak yang bicara sama mama kalau adek..." Meen belum selesai bicara ketika telapak tangan kecil Perth segera menempel di bibirnya, menghentikan kalimat itu.
Meen terdiam sejenak, lalu menunduk sedikit karena Perth harus berjinjit untuk bisa menutup mulutnya. Gerakan spontan dan lucu itu membuat sudut bibir Meen melengkung kecil.
Perth menggeleng cepat. "Jika adek gak membantu mama, nanti Ping bicara yang tidak-tidak tentang adek pada mama," gumamnya lirih tapi penuh tekad. Ada nada kekhawatiran sekaligus ketegasan dalam suaranya.
Meen mengangguk perlahan, lalu dengan lembut ia menarik tangan Perth dan mengecup telapak tangannya yang barusan membungkam bibirnya.
"Jika adek kenapa-kenapa, segera temui kakak..." bisik Meen pelan, tatapan matanya dipenuhi dengan perhatian.
Perth mengangguk. Tapi sebelum ia sempat melangkah, tubuhnya sudah terangkat tinggi dari lantai. "Eh? Kakak!" serunya terkejut dan terkekeh dalam waktu yang bersamaan saat Meen mengangkatnya ke dalam gendongan putri raja.
Meen tersenyum lebar, tak peduli dengan tatapan Juan atau siapa pun yang kebetulan lewat. Ia menciumi pipi Perth berulang kali, sengaja membuat istrinya tertawa sambil memeluk lehernya erat.
"Jika adek risih dengan Ping, maka abaikan saja dia, seperti kakak mengabaikan dia," ujar Meen sambil melangkah menuju dapur, langkahnya mantap namun ringan karena tawa kecil Perth membuat beban terasa seolah tak ada.
"Tapi tadi... di bandara... kakak menanggapi perkataannya?" tanya Perth, suaranya sedikit menciut karena kejadian itu masih membekas di benaknya.
"Iya," sahut Meen sambil menatap wajah Perth sekilas. "Tapi itu hanya sekedar basa-basi, mengingat keluarga kami berhubungan baik. Lebih tepatnya... kakak menghormati orang tuanya."
Degh.
Perth menunduk. Perkataan Meen barusan seperti jarum kecil yang menusuk hatinya. Inilah yang ia takutkan, bahwa hanya karena alasan 'hubungan keluarga' dan 'kehormatan', Meen akan mulai longgar, mulai membuka ruang untuk Ping kembali masuk.
Tanpa bisa menahan kekesalannya, Perth langsung menggigit pipi Meen. Tidak keras, tapi cukup untuk menyampaikan rasa jengkel.
Meen hanya tertawa pelan, tidak membalas. Ia tahu istrinya sedang geram.
"Adek tidak masalah jika kakak menghormati orang tuanya," gerutu Perth, "tapi jangan sampai hal itu membuat kakak mempercayai semua perkataan Ping. Percayalah... Ping itu jahat. Dia cinta sama kakak dan benci banget sama aku. Dialah manusia bajingan yang membuat kakak berubah hingga akhirnya mencintaiku lagi."
Suara Perth mulai meninggi sedikit, meski masih dalam nada bergumam. Ia kesal. Ia terluka. Dan luka itu muncul bukan karena hal baru, melainkan bayangan lama yang tak juga pergi.
"Padahal," lanjut Perth, suaranya melemah, "sudah aku bilang, jika kakak tak lagi mencintaiku, maka ceraikan saja aku. Tapi nyatanya... kakak malah memperkosa aku sampai hamil."
Diam. Suasana mendadak hening. Hanya suara langkah Meen yang bergema pelan di lorong menuju dapur.
Meen tetap mendengarkan. Tidak menyela. Tidak membantah. Wajahnya masih tenang, walau di dalam dadanya seperti sedang terjadi perang besar antara rasa bersalah, sayang, dan rindu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
