14 : Call Me By Your Name

476 52 16
                                        

Sorry for typo dan kata yang hilang

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

Pagi itu, cahaya matahari mengalir lembut melalui celah tirai apartemen yang terbuka sebagian. Udara terasa tenang, nyaris hening, hanya dentingan halus dari jam dinding yang menandai waktu.

Forth berjalan perlahan menuju kamar adiknya. Sejak malam kemarin Perth belum keluar kamar, bahkan saat Nunu pamit pergi bekerja tadi pagi pun Perth tak menampakkan batang hidungnya. Forth tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh pasangan adik dan iparnya itu. Meen bisa saja bersikap tenang, namun dari sikap Perth, Forth menangkap gelombang kegelisahan yang tidak bisa diabaikan.

Perlahan, Forth melangkah pelan mengusik keheningan ruangan.

Perth masih meringkuk di atas ranjang, matanya setengah terbuka, wajahnya kusut karena baru bangun tidur. Rambutnya sedikit berantakan, dan ia tampak belum sepenuhnya sadar akan keadaan di sekelilingnya. Namun ketika matanya menyapu ruangan dan menemukan sosok Forth duduk di ranjang sebelah, tubuhnya langsung menegang. Mata yang semula sayu itu membola besar.

"Pagi," ucap Forth dengan nada seramah mungkin.

Perth langsung bangkit, duduk bersila dengan tubuh agak mundur, seperti menjaga jarak. Namun Forth tidak tersinggung. Dia paham benar, ada ketakutan dalam tubuh mungil itu—dan ketakutan itu bukan karena dirinya secara pribadi. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di balik tatapan Perth.

"Maaf kalau abang lancang," Forth mulai membuka pembicaraan. Suaranya tenang, penuh perhatian. "Abang nggak bermaksud ikut campur, hanya... abang khawatir. Apa adek dan Meen bertengkar?"

Perth menunduk. Nafasnya terdengar pelan namun tidak stabil. Jari-jarinya mulai memainkan ujung selimut, seperti mencari pelarian agar tidak harus langsung menjawab. Matanya berkedip cepat, pikirannya berkecamuk menyusun kata yang tepat untuk menjelaskan tanpa membongkar terlalu banyak.

Forth menatapnya. "Kalau iya, karena apa sampai kalian pisah ranjang?"

Pertanyaan itu menghantam ruang diam yang dibuat Perth sejak tadi. Ia mengangkat kepalanya perlahan, manik gelapnya bertemu dengan mata Forth, hanya sesaat, sebelum kembali meluruh ke bawah.

"Perth, tidak baik pisah ranjang. Kalau papa mama tahu, mereka bisa marah besar. Mereka pasti mengira kalian tidak bahagia."

Perth kembali diam. Matanya kini hanya menatap lututnya sendiri.

"Ka-kami tidak bertengkar," jawabnya akhirnya. Suaranya lirih, seperti bisikan dari balik tirai rasa takut. "Adek... yang belum siap satu ranjang dengan kakak."

Nada suaranya lebih jujur dari biasanya, walau diselimuti ketakutan. Ia mencoba agar Forth tidak salah paham, bahwa semua ini bukan karena Meen berbuat salah, melainkan karena dirinya yang belum sembuh sepenuhnya.

Forth mengangkat satu alis. "Kenapa belum siap? Kalian sudah menikah. Belajarlah, pelan-pelan..."

"Emm... itu..." Perth menelan ludah, seolah menyakinkan dirinya sendiri untuk jujur. "Sudah adek coba. Tapi... memang tidak bisa. Adek tidak bisa tidur dibuatnya kalau satu ranjang dengan kakak."

Kalimat itu membuat Forth menarik napas panjang. Tangannya bergerak menyilangkan tangan di dada, matanya menatap lurus ke arah Perth, serius.

"Kalau begitu..." katanya pelan, "kalian belum melakukan hubungan suami istri?"

Perth menggeleng pelan, tanpa suara. Ia menggenggam erat kain selimut, seolah ingin menenggelamkan dirinya ke dalamnya. Helaan napas Forth terdengar berat, panjang, lalu hening beberapa saat.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang