Pantai Pattaya menyambut mereka dengan desir angin yang lembut, aroma garam yang menyeruak, dan hamparan laut biru yang tak bertepi. Langit sore berkilau, memantulkan cahaya keemasan yang menari di atas permukaan air. Di bawahnya, pasir hangat merayapi telapak kaki telanjang mereka—menyentuh seperti belai lembut dari semesta.
Perth menggandeng tangan Meen, senyumnya tak pernah redup sejak mereka keluar dari hotel siang tadi. "Kak... kita makan seafood di sana aja ya?" ujarnya sembari menunjuk ke arah tenda kayu yang menghadap langsung ke laut.
"Apa saja yang adek mau, kakak ikut."
Kalimat itu, sesederhana itu, namun mengikat erat hati Perth yang tak pernah benar-benar sembuh. Di balik senyumannya, di balik tawa renyah saat dia memakan cumi bakar dan udang saus asam manis, ada luka yang belum tuntas. Tapi hari ini, luka itu tidak terasa seperti luka. Hari ini, dunia terasa... tenang.
Setelah kenyang, Perth menggoda Meen agar melepas bajunya dan main air dengannya. Meen tertawa, menolak halus, memilih duduk di tepi sambil membuka kemejanya perlahan, hanya menyisakan tanktop ketat yang memeluk tubuh berototnya. Tatapan Perth melirik ke arah tubuh suaminya, tapi tak berkata apa-apa. Hanya pipi yang memerah, dan jemari yang mencubit paha Meen sekilas sebelum dia berlari ke bibir pantai.
"Hei, jangan terlalu jauh!" seru Meen.
"Adek cuma mau cari bintang laut dan kerang!" sahut Perth sambil tertawa, membiarkan ombak kecil membasahi mata kakinya.
Meen memandangi punggung kecil itu yang kini membungkuk, mengaduk pasir dan air dengan tangan kecilnya. Ombak menyentuh kulitnya seperti kekasih yang cemburu. Rambutnya diterpa angin, jatuh sedikit menutupi wajahnya yang sedang serius memandangi sesuatu yang dia temukan.
Dia indah. Tanpa sadar, Meen tersenyum.
Lalu dia membuka tas kecilnya. Di dalamnya, ada sebuah botol kaca kosong. Sore ini dia tidak hanya ingin menemani Perth bermain. Dia juga ingin menitipkan sebagian hatinya kepada dunia—atau kepada dirinya yang lain di masa dan semesta yang tak sama. Barangkali, ada Meen lain di dimensi lain yang juga sedang berjuang mencintai seseorang seperti Perth. Dan jika surat ini bisa sampai ke sana... dia hanya ingin berkata:
"Kau tidak sendiri."
Meen mencabut pulpen dari balik telinga, mengambil secarik kertas dari bukunya. Dia menulis pelan-pelan. Tangannya gemetar sedikit, tapi matanya tetap teduh, tetap kuat.
Surat dalam Botol
Kepada siapa pun yang menemukannya, entah kau manusia, entah kau diriku di semesta lain.
Nama omega ini adalah Perth. Dia kecil, tapi keberaniannya mengalahkan badai. Dia manis, tapi luka-lukanya dalam. Dan aku... aku adalah Meen. Alpha yang mencintainya, tapi pernah gagal melindunginya.
Dulu aku berpikir menjadi kuat artinya bisa menaklukkan dunia. Tapi Perth mengajariku bahwa menjadi kuat adalah mampu menahan tanganmu agar tidak menyentuh tanpa izin. Menahan bibirmu agar tidak berucap tanpa perasaan. Menahan egomu agar tidak merusak jiwa orang yang kau cintai.
Jika kau sedang mencintai seseorang yang pernah terluka, sabarlah. Jangan buru-buru ingin menyembuhkan. Jangan buru-buru ingin ditandai. Cinta bukan tentang mengikat, tapi tentang menjaga.
Aku menulis ini karena aku pernah kehilangan dia. Tapi dunia memberiku kesempatan kedua. Jika kau juga sedang diberi kesempatan itu, gunakan baik-baik.
Cintailah dia seperti kau mencintai udara tanpa paksa, tanpa syarat.
Meen.
Air mata menggantung di sudut mata Meen saat dia menggulung surat itu, memasukkannya ke dalam botol kaca, lalu menyegelnya dengan kain tipis dan lilitan tali. Dia berjalan ke bibir pantai, berdiri beberapa langkah dari air, dan melemparkannya dengan ayunan hati yang pelan namun pasti. Botol itu meluncur ringan, jatuh ke ombak, dan perlahan terbawa arus.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
